FAKTA – Usai mengukuhkan 3.535 pengurus partai PDIP Bandung di Balai budaya Giri nata Mandala pada Jum’at sore (13/3/2026), Ketua DPD PDIP Bali menyempatkan dirinya untuk memacu semangat anggota baru dengan mengatakan bahwa PDIP Bali perlu mewujudkan Bali yang mandiri.
Koster mengatakan perlunya ketahanan pangan. Bahkan dirinya menyebut secara spesifik untuk menghentikan impor beras di Bali. Ini bisa menjadi awal harapan baru bagi ketahanan pangan lokal. Namun, jika Wayan Koster menyatakan keinginannya untuk menghentikan impor beras, terlebih dalam angka 2.000 ton yang ia ucapkan, maka pernyataan tersebut secara langsung membentur isi perjanjian ART (Agreement on Reciprocal Trade) yang justru mewajibkan Indonesia untuk membuka keran impor.
“Berapa ton? 2.000 ton. Masa Bali ini surplus beras? Kita, Bali surplus beras sekarang 60.000 ton. Cuman menurun terus karena alih fungsi lahan yang tinggi,” kata Koster saat memberi sambutan usai mengukuhkan pengurus partai PDIP Badung.
Dalam dokumen perjanjian RTA atau ART Amerika-Indonesia, bagian Lampiran IV (Annex IV), halaman 45, nomor 2 (i) berbunyi ‘Indonesia shall ensure that Indonesia’s import of rice of U.S. origin exceed 1.000 metric tons annually’. Artinya, Indonesia wajib memastikan bahwa impor beras dari Amerika Serikat melebihi 1.000 metrik ton setiap tahunnya. Jadi, angka 1.000 metrik ton merupakan batas minimum yang harus diimpor Indonesia dari Amerika Serikat setiap tahun.
Jika Koster ingin stop impor, maka Indonesia harus melakukan negoisasi ulang atau menghadapi sengketa dagang karena telah melanggar janji akses pasar yang tertuang dalam Annex IV.
Ia mengatakan untuk menghentikan alih fungsi lahan agar surplus beras di Bali bisa naik secara terus menerus. Lebih lanjut, ia mempertanyakan kesejahteraan petani jika masyarakat menggunakan beras impor.
“Kalau kita pakai beras impor, siapa yang kita sejahterakan? Kan, petani orang lain yang disejahterakan. Kan lebih bagus menyejahterakan petani kita sendiri, untuk hidup semakin sejahtera dan bahagia, ” ungkapnya.
Lebih lanjut, Koster mengatakan perlunya ketahanan energi listrik tanpa bergantung lagi kepada PLTU Paiton di Probolinggo, Jawa Timur yang berperan sebagai salah satu pemasok listrik utama melalui kabel bawah laut sebesar 360 mega watt. Ia mengungkap bahwa Bali memilik ketersediaan energi listrik sebesar 1.450 mega watt.
Namun, ketika sesi wawancara dengan wartawan, Gubernur Bali Wayan Koster menolak memberikan jawaban. (fa)






