STIKOSA-AWS SURABAYA HELAT DISKUSI PUBLIK “BULLYING DALAM BINGKAI BERITA”

BERTEMPAT di ruang Multifunction BG Junction Surabaya, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi atau Stikosa-AWS  Surabaya menghelat diskusi publik bertajuk “Bullying Dalam Bingkai Berita”, Rabu (27/09/2017). Acara yang digelar oleh lembaga pers Acta Surya (AS) Stikosa ini diisi oleh tiga pembicara, Meutia Ananda SPsi, Psikolog (Dosen Psikologi UINSA), Drs Akhmad Munir (Kepala Biro Kantor Berita ANTARA Jatim dan Ketua PWI Jatim) dan Syirikit Syah (Dosen Stikosa-AWS).

Bincang yang membahas tentang bully ini dipandu Choirum Hening Dzikrullah, mantan Pimpinan Redaksi dan Editor Acta Surya. Agenda dibuka dengan aksi teatrikal dibawakan dua orang dari kelompok Lingkar, organisasi mahasiswa (Ormawa) Stikosa-AWS.

Diskusi publik ini dihadiri mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya, antara lain UNESA, UINSA dan Universitas Muhammadiyyah Surabaya. Selain dari kalangan mahasiswa dan civitas akademika AWS, murid SMA dan SMK juga antusias menghadiri agenda bincang umum ini.

Mengawali acara diskusi, Pembantu Ketua III Stikosa AWS, Puasini Apriliyanti, yang dalam agenda ini mewakili Ketua I yang berhalangan hadir. Dia menyampaikan dalam sambutannya bahwa acara semacam ini sangat perlu untuk menyikapi fenomena bully yang belakangan ini marak terjadi dan kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan pendidikan dan perilaku anak. “Diskusi ini sangat bagus untuk menyikapi fenomena bully yang sudah mengkhawatirkan,” tegasnya di hadapan peserta diskusi.

Sementara itu, Kepala Biro Kantor Berita Antara Jatim, Drs Akhmad Munir, yang juga Ketua PWI Jatim, menuturkan peran media dalam menyikapi persoalan bully tak semata untuk aspek kepentingan berita. Namun, media dituntut proaktif mendorong penegakan hukumnya. “Media dituntut tak semata hanya dalam usaha menyiarkan beritanya tapi perlu pula sebagai usaha penegakan hukum,” ucap pria kelahiran Sumenep, Madura, itu.

Masih dalam agenda yang sama, dua pembicara lainnya, Meutia Ananda SPsi, Psikolog (Dosen Psikologi UINSA) dan Syirikit Syah (Dosen Stikosa-AWS), menyampaikan pendapat yang sama bahwa bully memiliki dampak serius terhadap perilaku dan perkembangan psikologi korban.

Selain itu, menurut Syirikit, bully jarang dilakukan oleh media mainstream. Pasalnya, media mainstream memiliki standar dan etika yang ketat dalam penyampaian berita yang dirilisnya. Tetapi hal itu bukan tak mungkin ada media yang berkehendak membully obyek pemberitaannya. “Media massa mainstream hampir mustahil terjadi bullying karena media mainstream memiliki standar dan etika yang tertata,” terangnya. (Hasan)

ADVERTISE

1 min read278 kali dibaca