Gus Ahmad Jazuli Nahkodai Perindo Jatim, Dari Santri dan Aktivis Jalanan Kini Jadi Tokoh Politik Muda yang Melesat

Ketua DPW Jatim PERINDO yang baru Ahmad Jazuli. (Foto : Zamhari/majalahgfakta.id )

FAKTA – Sosok muda asal kalangan pesantren kini menjadi perhatian publik politik Jawa Timur. Di usia 37 tahun, Ahmad Jazuli resmi dipercaya memimpin Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Perindo Jawa Timur. Dilantik pada tanggal 7 Febuari 2026, di DPP Jakarta.

Penunjukan pria yang akrab disapa Gus Ahmad Jazuli itu dinilai cukup fenomenal. Berangkat dari latar belakang santri, aktivis organisasi Nahdlatul Ulama (NU), hingga aktivis pergerakan mahasiswa, karier politiknya melesat cepat hingga kini memimpin partai politik di provinsi yang dikenal sebagai “battle ground” politik nasional (8/5/2026).

Dalam sebuah podcast bersama jurnalis senior, Gus Ahmad Jazuli menceritakan perjalanan panjang hidupnya sebelum dipercaya memimpin Perindo Jawa Timur.

Ia mengaku pernah menempuh pendidikan pesantren dan aktif di organisasi NU sejak tingkat desa melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), hingga akhirnya aktif di tingkat nasional di Jakarta. Saat menjadi mahasiswa di Surabaya, ia juga aktif dalam organisasi pergerakan dan aksi-aksi jalanan.

“Latar belakang saya memang dari pesantren, organisasi NU, dan aktivis pergerakan. Dari situ saya merasa harus ikut berperan dalam politik untuk mengawal aspirasi masyarakat kecil,” ujarnya.

Sebelum bergabung dengan Perindo, Ahmad Jazuli sempat menjadi calon legislatif dari PKB pada Pemilu 2019 untuk daerah pemilihan Malang Raya. Ia juga pernah dipercaya menjadi Wakil Sekretaris DPW PPP Jawa Timur.

Namun selepas Pilpres 2024, ia memilih mundur dari PPP dan fokus pada bidang ekonomi kerakyatan. Dari sinilah jalan politik baru terbuka.

Menurutnya, komunikasi intens dengan sejumlah tokoh nasional saat menjadi bagian tim pemenangan Pilpres 2024 menjadi awal kedekatannya dengan elite Partai Perindo.

Ia kemudian dipanggil ke Jakarta dan bertemu langsung dengan Ketua Majelis Persatu Partai (MPP) Perindo, Hary Tanoesoedibjo. Dalam pertemuan itu, pembahasan justru lebih banyak menyentuh soal kebangsaan, pluralisme, hingga moderasi beragama.

“Pak Hary Tanoe lebih banyak bicara soal kebangsaan dan moderasi. Dari situ mungkin ada kecocokan dengan latar belakang saya sebagai santri dan aktivis,” katanya.

Tak berselang lama setelah pertemuan tersebut, ia diminta melengkapi administrasi kepartaian dan akhirnya menerima SK definitif sebagai Ketua DPW Perindo Jawa Timur.

Meski mengaku belum memiliki pengalaman politik yang matang di level struktural partai, Gus Ahmad Jazuli optimistis mampu membesarkan Perindo di Jawa Timur.

Ia menyadari Jawa Timur merupakan wilayah dengan pertarungan politik paling ketat karena menjadi basis besar partai-partai nasional maupun partai berbasis tradisional.

Karena itu, langkah awal yang dilakukan adalah membangun struktur organisasi dari nol dan memetakan kekuatan politik di seluruh kabupaten/kota.

“Kami melakukan klasifikasi wilayah zona hijau, kuning, dan merah agar lebih mudah menyusun strategi politik,” jelasnya.

Untuk target Pemilu 2029, Ahmad Jazuli mengaku realistis. Ia menargetkan kader Perindo bisa memperoleh kursi di DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, hingga DPR RI.

Ia bahkan optimistis Perindo Jawa Timur bisa menyumbang tiga hingga empat kursi DPR RI apabila parliamentary threshold 4 persen tidak lagi menjadi syarat lolos ke Senayan.

Selain fokus politik, Gus Ahmad Jazuli juga menegaskan bahwa Perindo Jawa Timur akan mengusung ideologi ekonomi kerakyatan dengan memperkuat UMKM, petani, nelayan, hingga pedagang kecil.

Menurutnya, persoalan ekonomi masyarakat saat ini semakin berat, mulai dari tekanan ekonomi hingga maraknya pinjaman online.

“Kami ingin Perindo benar-benar menjadi jembatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan UMKM dan ekonomi rakyat,” tegasnya.

Sebagai kader NU dan santri, Ahmad Jazuli juga menegaskan dirinya tidak akan meninggalkan identitas pesantren yang selama ini membentuk karakter perjuangannya.

Ia mengaku mendapat dukungan dan restu dari sejumlah kiai untuk memimpin Perindo Jawa Timur, termasuk arahan agar segera melakukan konsolidasi organisasi dan membuat program nyata untuk masyarakat.

Di akhir perbincangan, Gus Ahmad Jazuli menyampaikan bahwa dirinya ingin dikenang bukan sekadar sebagai politisi, tetapi sebagai sosok yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat kecil.

“Kalau saya ingin dikenang sebagai pejuang UMKM, maka saya harus benar-benar berbuat untuk pedagang kecil dan masyarakat,” pungkasnya. (Zamhari)