Semua  

Dua RTLH di Utara Jembatan Parappa, Selayar, Memprihatinkan, Penghuni Tinggal di Rumah Beratap Bolong dan Dinding Seng

Salah satu bangunan rumah yang atapnya bolong dan berdinding seng.

FAKTAn– Setelah melewati akses jalan tanah berlumpur dan licin, akhirnya langkah kaki sampai ke kawasan permukiman warga yang terletak di salah satu gang sempit di sisi utara jembatan Parappa, perbatasan antara wilayah Kelurahan Benteng Selatan dan Bonto Bangung, Kecamatan Bontoharu, Selayar.

Kompleks yang sudah sekian lama menjadi target kunjungan dan lokus pengambilan gambar bangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Dari hasil penelusuran lapangan, terungkap jika bangunan rumah tidak layak huni yang bermula dari dampak bencana angin kencang tersebut ternyata dihuni oleh seorang wanita bersama kakek tua lanjut usia dan bocah perempuan.

Ketiganya tinggal menempati bangunan rumah yang atapnya sudah hancur dan bolong akibat tertimpa buah serta daun kelapa disaat angin kencang datang menyapa.

Disaat musim penghujan, tak ada lagi tempat berteduh untuk ketiganya. Bahkan terik panas mataharipun sudah tembus masuk ke dalam rumah melalui celah atap seng yang bolong.

Pemandangan tak kalah miris dan memprihatinkan juga terlihat dari kondisi bahagian lantai bangunan rumah yang mulai rapuh dan berlubang.

Keterbatasan ekonomi menyebabkan Kamsinah bersama putri dan ayahnya harus tidur melantai tanpa ruang kamar tidur dan tanpa kasur sama sekali.

Masih di kompleks dan lokasi yang sama, potret kehidupan yang tak kalah menyayat hati dialami Nurhayati bersama anak dan cucunya.

Bersama anak dan cucunya, Nurhayati, wanita berusia kurang lebih 49 tahun itu, harus tinggal menempati bangunan rumah berdinding seng dengan lantai dapur beralaskan tanah dan sebahagian atap dapur yang bolong diterbangkan angin kencang.

Nurhayati mengaku sudah beberapakali diminta pemilik lahan untuk mengosongkan bangunan rumah tanpa ruang kamar dan alas kasur yang ditempatinya selama ini. Namun karena tak punya uang yang cukup wanita berstatus single parent tersebut, memilih untuk tetap bertahan dan tidak bergeming menanggapi permintaan tuan tanah yang sudah sejak lama memintanya pergi.

Dia bersama warga lain memilih bertahan menempati kawasan permukiman yang hanya memiliki dua unit bangunan WC darurat berdinding seng dan beratapkan rerumputan liar. Nurhayati dan keluarganya sudah sedari puluhan tahun tinggal menempati bangunan rumah yang bersebelahan dengan saluran drainase dan jembatan kayu darurat. Saluran drainase tanpa pembuangan akhir yang mulai ditumbuhi rumput dan berisi tumpukan sampah. (Fadly Syarif)