Kota Batu, Majalahfakta.id – Wajah baru hadir di sudut-sudut Kota Batu. Tembok kusam yang dulu penuh coretan liar dan poster menumpuk, kini berubah menjadi karya mural warna-warni bernilai seni tinggi.
Perubahan itu digagas komunitas seni jalanan Boys From The Hills (BFTH). Tahun ini, mereka memilih turun ke jalan setelah tahun sebelumnya menggelar pameran di Galeri Raos.
Belasan perupa dari berbagai kota di Jawa Timur terlibat. Ada yang datang dari Jombang, Sidoarjo, Surabaya, Tuban, Kediri, Jember, hingga Malang Raya. Mereka bergerak secara swadaya, dengan semangat bondo dewe.
Sasaran mereka adalah tembok-tembok terbengkalai di jalur-jalur utama. Setidaknya 10 titik strategis dilukis, mulai dari kawasan Jalan Sultan Agung atau Embong Kembar, perempatan BCA, Pesanggrahan, jalur Sidomulyo, hingga kawasan Alun-Alun Kota Batu.
Perwakilan BFTH, Sandi, menyebut pemilihan lokasi di jalur protokol bukan tanpa alasan. Tujuannya agar karya seni jalanan bisa dinikmati langsung oleh masyarakat, baik pejalan kaki maupun pengendara yang melintas.
“Kami tidak langsung melukis. Tembok kami bersihkan dulu, poster-poster liar kami tutup, kami cat dasar ulang. Kami juga kulo nuwun izin ke pemilik lahan dan warga sekitar,” ujar Sandi, seniman asal Jember, saat diwawancarai majalahfakta.id Minggu (25/10/2026).
Aksi ini dipastikan legal. Pihaknya telah mengantongi izin resmi dari Pemerintah Kota Batu sebelum eksekusi mural.
Lebih dari sekadar mempercantik kota, gerakan ini membawa pesan besar: menghapus cap negatif seni jalanan yang selama ini identik dengan vandalisme dan aksi merusak fasilitas umum.
Karenanya, setiap mural yang dibuat tidak asal coret. Para perupa berdiskusi terlebih dahulu untuk menyelaraskan gaya masing-masing dengan karakter lokal Kota Batu. Salah satu ikon yang diangkat adalah tradisi Bantengan khas Malang Raya.
Dari sisi pendanaan, BFTH mendapat dukungan dari toko grafiti lokal, Blessed Merch, yang memfasilitasi kemitraan dengan produsen cat semprot.
Melalui galeri terbuka di ruang publik ini, BFTH berharap muncul regenerasi seniman muda di Jawa Timur. Mereka juga mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih terbuka memberikan ruang berekspresi bagi pelaku seni jalanan. (F.1116)






