Oleh : Subakti A Sidik
Wartawan Senior
Dibalik tingginya volatilitas transaksi ratusan saham, ternyata ada juga saham – saham yang tak bergerak. Alias saham tidur lelap. Mimpi panjang.
Ibarat air, saham-saham ini membeku. Tak dilirik investor. Bukan hanya hitungan bulan. Tapi tahunan. Bertahun- tahun tak ada pergerakan. Tak ada transaksi.
Pasti emitennya gerah. Ya jelaslah. Duit mati kok. Tapi segerah – gerahnya emiten, yang paling gerah adalah para investor yang terlanjur beli saham.
Emiten, pastilah asetnya bukan kaleng – kaleng. Pasti pemilik perusahaan yang ingin terus dan terus mengguritakan bisnisnya.
Tapi investor? Bisa orang kaya. Bisa pula orang-orang yang ekonominya pas-pasan. Beberapa tahun terakhir, Indonesia memang demam investor pasar modal. Sekarang jumlahnya sekitar 23 juta.
Kalo investor miskin. Tak mungkinlah. Masa orang miskin beli saham. Sedangkan persediaan untuk beli beras besuk aja belum ada.
Uang yang dibisniskan dalam dunia saham, umumnya uang dingin. Bukan uang untuk belanja bulan ini. Bisnis saham adalah bisnis jangka panjang.
Jumlah saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 22 Septeber 2026 ada 962. Setiap tahun jumlah bertambah. Dari sebanyak itu, saham yang tak pernah ditransaksikan sebanyak 57.
Harga saham-saham yang membeku itu di bawah Rp 50. Saham yang harganya sekitar Rp 50 sering disebut “Saham Gocap”.
Istilah “Gocap” dari Bahasa Hokkien. Bukan Mandarin. Dari negerinya Xi Jinping. Artinya 50. Istilah ini sering digunakan Tionghoa Indonesia dalam berbisnis.
Pada saat peluncuran perdana (IPO) harga saham – saham itu bisa mencapai ratusan rupiah.
Tengoklah, saham NETV. Emiten media televisi ini pada saat IPO harganya Rp 190. Pernah mencapai harga Rp 800. Lalu anjlok drastis seharga Rp 50.
Juga saham DADA. Emiten properti ini saat IPO harganya Rp 102. Tertinggi pernah mencapai Rp 420. Namun sempat pula terjerembab di angka Rp 5. Lalu bangkit lagi jadi Rp 50. Selanjutnya tak ada perkembangan berarti.
Lalu kenapa harga saham bisa terjun bebas? Karena investor tak tertarik lagi membelinya. Kenapa tak tertarik ? Karena saham tidak liquid.
Bisa jadi karena fundamental perusahaanya tak sehat. Sering rugi. Atau karena proyek gagal.
Hal-hal tersebut di atas, berbuntut pada anjloknya tansaksi jual beli saham. Sekaligus anjloknya harga saham. Sehingga investor yang terlanjur memiliki dan ingin menjual saham kesulitan.
Bayangkan, kalo uang itu jumlahnya mencapai ratusan juta. Bahkan miliaran. Atau triliunan.
Menjual saham beku di pasar nonreguler, tidak mudah. Kalaupun ada yang nawar, mungkin harganya bisa tinggal separuh. Atau bahkan seperempat. Nah…..investor berdarah – darah.
Maksud hati menumpuk cuan. Yang terjadi malah menambah gunungan utang. Celaka Bro……!!! Nasib……nasib….!!!
Namun sebaliknya. Harga saham yang sudah terpuruk dalam. Bisa langsung melejit, ketika emiten mendapat proyek besar. Proyek yang keuntungannya diperkirakan tinggi, mengerek harga saham.
Jumlah dana yang membeku di dalam saham “gocap” ini bisa mencapai triliunan rupiah.
Alamak….!!! Ternyata tak main – main pula. Dana sebesar itu bisa untuk biaya makan orang se Kabupaten, lho.
Bisa Satu Rupiah
Saham gocap ini nanti per 28 September 2026 akan ditampilkan kembali di papan reguler. Ditransaksikan secara terbuka.
Harga yang terjadi nanti tergantung seberapa tinggi penawaran investor. Bisa jadi harga Rp 50 akan terjual seharga Rp 40, Rp 30, Rp 20. Bahkan hanya Rp 1 (satu rupiah). Heeh satu rupiah? Tragis….!!!
Ya, satu rupiah. Kalo sebelumnya Auto Rejection Bawah (ARB) saham saham yang diperjualbelikan di BEI adalah Rp 50. Dengan ketentuan baru ini, harga minimal saham adalah Rp 1 (satu rupiah).
ARB adalah lantai harga dalam sehari. Tidak boleh turun lagi lebih dalam. Sekarang, batasnya 15% dari harga kemarin. Kalau sudah kena ARB, sulit dijual. Karena antreannya panjang.
“Dengan aturan baru ini, potensi saham “gocap” yang selama ini tak bergerak, dapat ditransaksikan”, ujar Eko Nuriyanto Branch Manager Philip Sekuritas Indonesia untuk wilayah Solo Raya plus Madiun Raya.
Menurut Eko, investor yang piawai dalam menangkap peluang, tentu akan memborongnya. Mumpung ada barang murah.
Pada saatnya, jika saham mengalami rebourn, tentu profitnya tak tanggung – tanggung. Bisa ratusan, bahkan ribuan persen. (***)






