FAKTA – Nama Dadan Hindayana kembali menjadi sorotan publik setelah dicopot dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Di balik posisinya sebagai pejabat negara, Dadan dikenal memiliki rekam jejak panjang sebagai akademisi, peneliti, dan pengelola berbagai institusi pendidikan.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laman alumni IPB, Dadan merupakan lulusan Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian IPB yang menamatkan pendidikan sarjananya pada 1990. Sejak masa kuliah, ia telah aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian IPB periode 1989–1990.
Karier akademiknya kemudian berlanjut ke Jerman. Pada 1995 hingga 1997, Dadan mengikuti program penyetaraan di Universitas Bonn sebelum meraih gelar doktor bidang Entomologi Terapan dari Leibniz University Hannover pada tahun 2000.
Sebagai akademisi, Dadan mengabdikan sebagian besar kariernya di lingkungan Institut Pertanian Bogor. Sejak 1992, ia mengajar di Departemen Proteksi Tanaman dan membina berbagai mata kuliah, termasuk ekologi serangga serta pengendalian hama terpadu.
Kontribusinya di bidang penelitian juga cukup menonjol. Dadan tercatat menghasilkan lebih dari 20 publikasi ilmiah. Salah satu karya yang terbit dalam jurnal ilmiah Ecology pada 1996 bahkan menjadi rujukan penting dalam pengembangan program Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang diterapkan di sejumlah negara Asia dan Afrika.
Tak hanya berkutat di dunia akademik, Dadan juga memiliki pengalaman dalam pengelolaan institusi. Ia pernah menjabat Direktur Pengembangan Institusi dan Usaha Penunjang IPB pada periode 2003–2008.
Dalam posisi tersebut, ia terlibat dalam sejumlah proyek strategis, mulai dari penyelesaian izin operasional pusat perbelanjaan Botani Square, pembangunan IPB Agrimart, hingga penataan kawasan kampus Dramaga.
Pengalamannya semakin beragam ketika dipercaya memimpin Sekolah Tinggi Pertanian Kelautan Banau di Kabupaten Halmahera Barat selama delapan tahun, dari 2014 hingga 2022.
Atas pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara dan akademisi, Dadan menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya dari pemerintah untuk masa pengabdian 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun yang diberikan pada 2007, 2019, serta 2023.
Selain itu, ia juga memperoleh penghormatan sebagai warga kehormatan dari Kabupaten Halmahera Barat dan lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat di Lamongan.
Di luar dunia pendidikan, Dadan pernah terlibat dalam berbagai aktivitas yang tidak lazim bagi seorang akademisi. Ia tercatat memiliki pengalaman dalam pengelolaan rumput lapangan olahraga di Gelora Bung Karno, serta pernah menjadi mediator dalam penyelesaian konflik agraria di Pulau Taliabu.
Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa Dadan Hindayana bukan sekadar birokrat yang lahir dari dunia pemerintahan.
Ia datang dari lingkungan akademik dengan pengalaman panjang di bidang riset, pendidikan, manajemen institusi, hingga pemberdayaan masyarakat. Namun kini, setelah berakhirnya masa jabatannya di BGN, perhatian publik tertuju pada babak baru perjalanan karier laki-laki yang selama ini dikenal sebagai pakar entomologi tersebut. (*)






