Sekawan Limo 2 Guncang Lumajang, MOPIC Full Gedung, Bayu Skak Bidik Tembus 1 Juta Penonton dalam Sepekan

Bayu Skak DKK saat menghibur penonton usai nobar Sekawan Limo 2. (foto: red/majalahfakta.id)

FAKTA – Fenomena film berbahasa Jawa kembali mengguncang layar lebar nasional. Film Sekawan Limo 2 terus menunjukkan taringnya di tengah persaingan industri perfilman Indonesia yang semakin ketat. Bahkan, hingga Selasa (2/6/2026), jumlah penonton film garapan sutradara sekaligus komedian Jawa Timur, Bayu Skak, telah mendekati angka satu juta penonton.

Target besar pun dipasang. Tim produksi berharap capaian satu juta penonton dapat diraih sebelum genap sepekan penayangan sehingga membuka peluang untuk melampaui kesuksesan Sekawan Limo pertama yang berhasil mengumpulkan sekitar 2,5 juta penonton.

Antusiasme luar biasa terlihat saat rombongan Sekawan Limo 2 menggelar tur promosi di Bioskop MOPIC Lumajang. Gedung bioskop dipadati penonton hingga nyaris tak menyisakan kursi kosong. Suasana semakin pecah ketika lagu ikonik “Yo Wes Ben” menggema di dalam gedung dan disambut nyanyian massal para penonton.

Kemeriahan tidak berhenti di situ. Berbagai hadiah doorprize dibagikan kepada penonton yang hadir, menambah euforia masyarakat yang sejak awal sudah menantikan kehadiran film tersebut.

“Alhamdulillah, sampai hari ini jumlah penonton sudah hampir menyentuh satu juta. Harapannya sebelum satu minggu bisa tembus satu juta penonton. Kami ingin melampaui capaian Sekawan Limo pertama yang berhasil meraih sekitar 2,5 juta penonton,” ujar Bayu Skak di hadapan ratusan penggemarnya, sore tadi.

Menurut Bayu, capaian tersebut menjadi bukti bahwa film daerah dengan bahasa lokal masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. Bahkan, di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, masyarakat masih menyempatkan diri datang ke bioskop untuk menikmati karya anak bangsa.

“Ini luar biasa. Di masa yang tidak mudah seperti sekarang, masyarakat masih mau datang ke bioskop. Itu bentuk dukungan yang sangat berarti bagi perfilman Indonesia, khususnya film berbahasa Jawa,” katanya.

Lebih jauh, Bayu menegaskan bahwa keberhasilan Sekawan Limo 2 bukan hanya soal angka penonton, tetapi juga tentang upaya mengangkat bahasa dan budaya Jawa ke panggung yang lebih luas.

“Kami ingin membuktikan bahwa film berbahasa Jawa bisa diterima di mana-mana, bahkan bisa dikenal sampai tingkat internasional. Dukungan masyarakat menjadi energi besar bagi kami untuk terus berkarya,” tegasnya.

Tur promosi Sekawan Limo 2 sendiri telah berlangsung selama kurang lebih tiga minggu. Setelah menyambangi Surabaya, Malang, dan Probolinggo, rombongan melanjutkan perjalanan ke Lumajang sebelum bertolak menuju Jember dan Banyuwangi.

“Tour ini sudah berjalan sekitar tiga minggu. Setelah Surabaya, Malang, Probolinggo, sekarang Lumajang. Setelah ini kami lanjut ke Jember dan Banyuwangi,” ungkap Bayu.

Kehadiran tim Sekawan Limo 2 di Lumajang mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Banyak penonton mengaku bangga karena film dengan nuansa lokal Jawa Timur mampu bersaing dengan film-film nasional maupun produksi luar negeri.

Salah seorang penonton, Rizqi (37), mengaku sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan tiket.

“Film ini dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Dialognya lucu, ceritanya menghibur, dan ada kebanggaan tersendiri melihat bahasa Jawa bisa tampil di layar lebar dengan kualitas bagus,” bebernya.

Hal senada disampaikan Atiek (61), warga Lumajang yang hadir bersama keluarganya.

“Gedung penuh seperti ini menunjukkan masyarakat masih cinta film Indonesia. Apalagi ini film yang mengangkat budaya lokal. Semoga jumlah penontonnya terus naik dan bisa mengalahkan film pertama,” ucapnya.

Kesuksesan tur di Lumajang sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Sekawan Limo 2 berpotensi mencetak rekor baru. Jika tren penonton terus meningkat dalam beberapa hari ke depan, bukan tidak mungkin film ini akan melampaui capaian 2,5 juta penonton yang sebelumnya diraih Sekawan Limo pertama.

Kini, perhatian publik tertuju pada satu pertanyaan besar: mampukah Sekawan Limo 2 menembus satu juta penonton sebelum sepekan dan melanjutkan langkah menuju rekor baru perfilman berbahasa Jawa?

Jika melihat gegap gempita yang terjadi di Lumajang, jawabannya tampaknya hanya tinggal menunggu waktu. (red)