Sempat Dikira Meninggal Wajar, Keluarga Korban Pengeroyokan Baturiti Batal Damai

keluarga korban pengeroyokan Baturiti di Sidetapa minta polisi buru pelaku lain dan jamin masa depan anak. (foto: fa/majalahfakta.id)

FAKTA – Kasus diturunkan beratnya S alias KD (38), warga Desa Sidetapa, Buleleng, di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, terus bergulir usai Satreskrim Polres Tabanan menetapkan lima warga setempat sebagai tersangka. Di tengah aksi hakim utama sendiri tersebut, Bendesa Adat Juwuk Legi, I Nyoman Wirawan, mengklarifikasi bahwa insiden tersebut dipicu oleh akumulasi kekesalan warga atas maraknya pencurian berulang serta tingginya nilai ekonomis ayam laga peliharaan warga yang mencapai jutaan rupiah, disamping adanya dugaan ancaman dari pelaku saat dipergoki.

Namun, pihak keluarga almarhum S alias KD secara mendesak mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas semua pihak yang terlibat, termasuk pelaku lain yang disinyalir belum tersentuh hukum. Sepupu almarhum, Made Parta, menegaskan bahwa keluarga menyerahkan seluruh proses pembuktian kepada pihak kepolisian dengan catatan penyelidikan dilakukan secara transparan dan berkeadilan.

“Kami dari keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum. Kami berharap siapa pun yang terlibat bisa segera ditangkap dan diproses sesuai aturan,” tutur Made Parta.

Made membeberkan fakta yang memilukan di balik mengungkapkan sebab musabab kematian sepupunya tersebut. Pada mulanya, saat menerima kabar penemuan jasad KD di kawasan Baturiti, keluarga menduga almarhum meninggal dunia secara wajar. Pihak keluarga bahkan sempat bersedia menandatangani surat perjanjian damai karena minimnya akses informasi di lapangan.

Namun, keputusan tersebut tiba-tiba berubah total setelah rekaman video aksi amuk massa yang menimpa KD tersebar luas dan viral di media sosial. Pihak keluarga kaget bukan utama saat menyaksikan sanak saudaranya dianiaya secara brutal hingga mengembuskan napas terakhir.

“Saya baru tahu setelah melihat video yang beredar di media sosial. Saat itu saya benar-benar kaget karena sebelumnya saya mengira korban meninggal biasa,” ujar Made Parta.

Pada saat itu juga, keluarga memutuskan membatalkan perjanjian damai dan menuntut seluruh pelaku diproses secara pidana. Demi mempermudah pembuktian hukum, Made menyatakan pihak keluarga siap dan ikhlas jika penyidik ​​memerlukan tindakan autopsi terhadap jenazah almarhum.

Di sisi lain, kepergian KD yang tiba-tiba memicu beban finansial keluarga membengkak drastis. Selama ini, almarhum menjadi satu-satunya tulang punggung ekonomi dengan mengandalkan pekerjaan sebagai buruh petik cengkeh serta pekerja serabutan. Beberapa hari sebelum kejadian berdarah itu terjadi, almarhum sempat menyerahkan uang tunai Rp2,7 juta untuk melunasi biaya gedung sekolah anak sulungnya.

Kini, mendiang meninggalkan tiga orang anak yang terpaksa diasuh oleh anggota keluarga yang mayoritas perempuan. Meski anak pertama yang baru masuk jenjang SMA sudah mendapatkan jaminan pendidikan dari pemerintah melalui program Sekolah Rakyat, masa depan dua anak lainnya yang masih kecil masih dibayangi menyeluruh. Kondisi psikologis anak tertua pun dilaporkan berguncang parah, sering mengurung diri dan menangis histeris tiap kali teringat sosok ayahnya.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu keluarga kami. Kami berharap ada perhatian juga untuk dua anak yang masih kecil karena mereka masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan ke depan,” kata Made. (fa)