FAKTA — Proyek Peningkatan Jalan Simpang TBA – GSM di Kabupaten Mahakam Ulu resmi menetapkan PT Praja Inti Mandiri sebagai pemenang tender pekerjaan konstruksi jalan dengan nilai lebih dari Rp33 miliar.
Berdasarkan dokumen LPSE, proyek tersebut memiliki:
1. pagu anggaran sebesar Rp33.896.472.500,
2. sementara Harga Perkiraan Sendiri (HPS) tercatat Rp33.892.543.000.
Dalam proses evaluasi tender, PT Praja Inti Mandiri mengajukan penawaran terkoreksi sebesar Rp33.834.814.650 dan kemudian ditetapkan sebagai pemenang tender proyek tersebut.
Selisih Penawaran Sangat Tipis
Jika dibandingkan dengan nilai HPS, penawaran pemenang hanya turun sekitar Rp57,7 juta atau kurang dari 0,2 persen.
Dalam praktik pengadaan barang dan jasa pemerintah, selisih penawaran yang sangat tipis terhadap HPS seperti ini sering menjadi perhatian publik dan pengawas pengadaan karena:
1. efisiensi anggaran relatif sangat minim,
2. ruang kompetisi harga terlihat sangat sempit,
3. serta pola penawaran mendekati HPS yang terus berulang pada sejumlah proyek infrastruktur bernilai besar.
Meski secara administrasi kondisi tersebut masih dimungkinkan dalam mekanisme tender pemerintah, pola penawaran yang terus mendekati HPS tetap memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas persaingan dalam proses pengadaan.
Apalagi proyek ini kembali memperlihatkan pola yang cukup sering muncul pada pekerjaan konstruksi di Mahakam Ulu:
1. proyek bernilai besar,
2. sektor jalan dan infrastruktur,
3. serta penawaran akhir yang berada sangat dekat dengan HPS.
Situasi tersebut memang belum menunjukkan adanya pelanggaran secara langsung. Namun dalam perspektif tata kelola pengadaan, kondisi seperti ini tetap menjadi bahan evaluasi penting terkait:
1. tingkat kompetisi antar peserta,
2. efisiensi penggunaan anggaran,
3. serta kualitas proses tender secara keseluruhan.
Pengawasan Publik Mulai Menguat
Dengan nilai proyek mencapai puluhan miliar rupiah, perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada proses penetapan pemenang tender.
Tetapi juga pada:
1. kualitas pekerjaan,
2. spesifikasi material,
3. ketepatan volume pekerjaan,
4. progres pelaksanaan,
5. hingga pengawasan di lapangan.
Karena dalam proyek infrastruktur jalan, kualitas hasil pekerjaan akan menjadi ukuran utama apakah penggunaan anggaran benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penetapan pemenang tender sesungguhnya hanyalah awal dari penggunaan uang publik.
Ujian sesungguhnya berada pada:
1. pelaksanaan proyek,
2. mutu pekerjaan,
3. ketahanan jalan,
4. dan hasil akhir yang nantinya dirasakan langsung masyarakat Mahakam Ulu.
Sebab ketika proyek bernilai besar dimenangkan dengan selisih penawaran yang semakin tipis terhadap HPS, maka yang perlu diuji bukan hanya prosedur administrasi.
Tetapi juga:
1. seberapa sehat kompetisi tender berjalan,
2. seberapa ketat pengawasan pelaksanaan proyek,
3. dan seberapa besar kualitas pekerjaan benar-benar dijaga.
Kantor Cabang Samarinda Enggan Memberi Penjelasan
Saat media ini mencoba meminta klarifikasi kepada kantor cabang perusahaan di Samarinda, salah seorang pihak yang ditemui dan meminta namanya tidak disebutkan mengaku tidak berani memberikan penjelasan terkait proyek tersebut.
Ia menyebut persoalan proyek berada di bawah kewenangan cabang Mahakam Ulu.
“Kami tidak berani, langsung saja tanya ke dinasnya,” ujarnya singkat, Rabu (20/5/2026).
Pernyataan tersebut semakin memperlihatkan bahwa keterbukaan informasi terkait proyek-proyek bernilai besar masih menjadi perhatian publik.
Karena dalam penggunaan anggaran daerah bernilai puluhan miliar rupiah, transparansi dan akuntabilitas menjadi bagian penting untuk memastikan proyek berjalan sesuai perencanaan dan benar-benar menghasilkan infrastruktur yang berkualitas bagi masyarakat. (F100)






