Daerah  

MWCNU Kutoarjo Bersholawat, Menyemai Spirit Keulamaan, Merawat Tradisi Keilmuan

FAKTA – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kutoarjo menggelar kegiatan MWC NU Kutoarjo Bersholawat yang berlangsung khidmat dan penuh nilai spiritual di Aula Kantor MWCNU Kutoarjo, Jalan Tentara Pelajar Km1, Desa Katerban, Kec. Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Sabtu (24/5/2025) malam.

Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus MWC NU Kutoarjo, pengurus ranting se-Kecamatan Kutoarjo, serta ratusan warga Nahdliyin dari berbagai penjuru Kutoarjo. Menggandeng Majelis Sholawat asuhan Habib Utsman Baraqbah, lantunan Selawat dan pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW membuat suasana semakin syahdu ketika pembacaan kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratus Syekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Dalam kajiannya, Habib Utsman mengawali dengan menjelaskan silsilah nasab dan perjalanan nyantri sang muallif kitab. Hadratus Syekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari disebut berasal dari garis keturunan mulia:
Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Abdurrahman (Jaka Tingkir, Sultan Hadiwijaya) bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatah bin Maulana Ishaq, putra dari Raden Ainul Yaqin yang masyhur dengan sebutan Sunan Giri. Habib Utsman juga mengupas perjalanan pendidikan Hadratus Syekh yang dimulai di bawah bimbingan langsung sang ayah, KH. Asy’ari.

Lebih lanjut, Ia menimba ilmu di sejumlah pesantren ternama, antara lain Pondok Pesantren Sono dan Siwalan di Kediri, Langitan Tuban, serta Bangkalan dibawah asuhan Syaikhona Kholil. Tak berhenti di tanah air, Ia melanjutkan studi ke Mekah dan berguru kepada para ulama besar, seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Khatib al-Minangkabawi, Syekh Syu’aib bin Abdurrahman, Syekh Mahfudz Termas, serta Sayyid Abbas al-Maliki al-Hasani. Setelah pulang ke tanah air, Hadratus Syekh mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, yang kelak dikemudian hari menjadi mercusuar pendidikan Islam Nusantara.

Rais Syuriah MWCNU Kutoarjo, Kyai Fauzi Ahmad Sahin, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kegiatan seperti ini untuk menjaga spirit keulamaan dan semangat keilmuan di tengah arus perkembangan zaman yang terus maju.

“Selawat dan pengajian kitab bukan hanya bentuk ritual, melainkan manifestasi dari jati diri Nahdlatul Ulama sebagai penjaga tradisi dan pemelihara sanad keilmuan,” tutur Fauzi.

Kyai Fauzi menyambut senang, tampak antusias mengikuti rangkaian acara hingga larut malam. Suasana kekeluargaan dan semangat ukhuwah islamiyah begitu terasa sepanjang kegiatan berlangsung di MWCNU Kutoarjo Bersholawat kali ini.

“Kegiatan seperti ini diharapkan menjadi agenda rutin MWCNU Kutoarjo, tidak hanya sebagai sarana spiritual, namun juga sebagai wahana kaderisasi ideologis dan penguatan tradisi pesantren di tengah masyarakat,” pungkas Fauzi. (Achmad Rohadi)