Bandingkan Layanan Izin Usaha, Manajer DTW Jatiluwih Sebut Bali Kalah Cepat Dari Vietnam

I Nengah John Ketut Purna selaku Manajer Operasional DTW Jatiluwih. (foto: fa/majalahfakta.id)

FAKTA – Bali dinilai perlu melakukan evaluasi mendalam dan belajar banyak dari tata kelola pariwisata di Provinsi Lam Dong, Vietnam. Ketegasan penegakan hukum industri pariwisata, kemudahan birokrasi investasi, hingga inovasi daya tarik berbasis potensi lokal menjadi keunggulan utama yang patut dicontoh oleh pengelola pariwisata Pulau Dewata.

Hal tersebut ditegaskan oleh Pelaku Pariwisata sekaligus Manajer Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Jhon K. Purna, sekembalinya dari undangan forum diskusi pemerintahan Provinsi Lam Dong, Vietnam.

Jhon K. Purna membeberkan perbedaan yang mencolok mengenai kedisiplinan dan penegakan aturan (penegakan hukum) antara pariwisata Bali dan Vietnam. Di Bali, fenomena pengemudi maupun pemandu wisata (guide) tanpa lisensi yang nekat membuka agen perjalanan (travel agent) ilegal kian marak dan merusak ekosistem bisnis.

Sebaliknya, di Provinsi Lam Dong, seluruh pemandu wisata disiplin bekerja di bawah naungan agen perjalanan berizin resmi. Pemerintah setempat menyeimbangkan ketegasan hukum tersebut dengan memberikan kemudahan layanan perizinan investasi.

“Di sana infrastrukturnya luar biasa dan regulasinya sangat tegas. Semua aspek pariwisata diatur hingga detail dan hampir tidak ada pelanggaran. Proses pendirian PT di Vietnam sangat cepat, hanya butuh waktu satu hingga dua minggu, ditambah garansi fasilitas bebas pajak selama satu tahun,” kata Jhon di Kantor DTW Jatiluwih (8/8/2026).

Selain memaksakan aturan, Jhon menyoroti pentingnya penciptaan keunikan ( keunikan ) di setiap destinasi wisata Bali. Di Provinsi Lam Dong, setiap kawasan memiliki produk unggulan kuliner dan kerajinan khas yang kuat sehingga tidak saling sikut antarwilayah.

Konsep yang paling relevan untuk diadaptasi di kawasan Warisan Budaya Dunia DTW Jatiluwih adalah penggabungan sistem pertanian terpadu (integrated farming ). Jhon menceritakan pengalamannya mengundang kawasan wisata di Lam Dong yang memadukan perkebunan kopi, alpukat, dan durian dalam satu hal yang terintegrasi.

Para wisatawan diajak menikmati tur edukasi memetik hasil kebun, berlangganan makanan lokal, sebelum menikmati hidangan di restoran kawasan tersebut.

“Konsep mengombinasikan perkebunan kopi, alpukat, dan durian dalam satu kawasan menjadi tren baru yang sangat sukses di sana. Model pertanian terpadu ini sangat potensial kami terapkan untuk mematangkan konsep edukasi pertanian yang ada di Jatiluwih,” pungkas Jhon K. Purna. (fa)