Budaya  

Saat Negeri Kehilangan Sosok Ayah

Gambar ilustrasi.

Surat terbuka dari: Andry Hendryansyah

Siang itu langkah gontainya tak menyurutkan langkah untuk tetap menunaikan kewajibannya mencari nafkah.

Meski terkadang di tengah rasa sakit pinggang yang di deranya menjalar sampai ke kaki akibat penyakit tulang belakang yang membuatnya susah bergerak namun jari-jari nya tetap dengan lincahnya menggerak-gerakkan pemidangan.
Menyelesaikan kerudung-kerudung pesanan untuk di bordir manual.

Keadaan ekonomi dan naiknya harga-harga kebutuhan tak menyurutkan semangat untuk tetap menunaikan kewajiban sebagai seorang ayah.

Menatap kalender 3 bulan lagi akan datang.waktu dimana ia harus bersiap membayar biaya UKT anaknya yang kini menginjak bangku kuliah.

Namun senyum tetap tersungging di bibirnya sambil hatinya bergumam :
‘ Terimakasih Ya Allah, masih bisa di beri kesempatan untuk berjuang,Smoga kelak di akhirat menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah di lakukan.”

Hidup di negeri yang kadang tak memberi ruang untuk anak muda bersekolah dengan Mahalnya biaya pendidikan.tak seperti di luar negeri yang menggratiskan biaya sekolah,rasanya Sekolah hanya untuk mereka kaum yang kaya harta saja.

Andai para pemimpin di negeri kita memiliki Naluri seperti seorang Ayah yang sayang kepada anaknya mungkin Tak akan ada jerit tangis akibat Kebakaran Hutan atau akibat hukum yang seolah tajam ke bawah namun tumpul untuk mereka yang bisa membayarnya.

Bila negeri ini memang telah kehilangan sosok ayah.
Maka kita lah yang akan melahirkan sosok-sosok ayah di rumah kita sendiri.

Tasikmalaya, 27 Oktober 2026