FAKTA – Hari ini, Wulan Prasetyoningsih kembali berada di tengah prosesi manten. Di hadapannya duduk sepasang pengantin yang sedang memasuki babak baru kehidupan. Dengan teliti, Wulan memandu dan memberikan arahan agar setiap rangkaian prosesi berjalan sebagaimana mestinya. Bagi sebagian orang, apa yang terlihat mungkin hanya sebuah upacara adat. Namun bagi Wulan, setiap gerakan memiliki makna. Ada pesan kehidupan yang sedang disampaikan kepada dua insan yang mulai membangun rumah tangganya sendiri.
Salah satu prosesi yang menjadi perhatiannya adalah selinduran. Dalam pakem yang dipelajarinya di lingkungan keraton, posisi orang tua bukan sekadar persoalan siapa yang berada di depan dan siapa yang berada di belakang. Ibu berada di depan, sementara bapak berada di belakang. Di situlah tersimpan filosofi tut wuri handayani: orang tua tetap hadir untuk mendorong, menyemangati, dan mengawasi, tetapi tidak lagi menarik atau menentukan setiap langkah anaknya.
Melihat prosesi itu, perjalanan Wulan seperti membawa kita kembali ke masa lalu. Ia adalah Wulan Prasetyoningsih, lahir di Surakarta pada 27 Oktober 1983. Ia juga dikenal dengan nama keraton, Nyimas Tumenggung Wulan Renggo Manis. Kedekatannya dengan kebudayaan Jawa tumbuh melalui lingkungan pendidikan dan pembelajaran budaya di Kota Surakarta. Dari perjalanan itulah tumbuh tekad untuk menjaga dan ikut nguri-nguri kebudayaan Jawa.
Kecintaan terhadap budaya juga tidak terlepas dari latar keluarganya. Wulan menuturkan bahwa keluarganya memiliki kedekatan yang kuat dengan adat dan tradisi Kejawen. Dari leluhur, ia merasa menerima warisan pengetahuan dan pengalaman budaya yang kemudian ikut membentuk perjalanan hidupnya. Salah satu bagian yang paling berkesan adalah kisah keris keluarga yang diwariskan melalui beberapa generasi. Bagi Wulan, kisah itu menjadi bagian dari perjalanan dirinya dalam mengenal dan merawat warisan leluhur.
Dari lingkungan budaya tersebut, perjalanan Wulan dalam dunia pengantin berkembang. Ia mempelajari berbagai prosesi dan doa untuk pengantin, termasuk pemahaman mengenai selinduran yang dipelajarinya dari lingkungan keraton. Karena itu, ketika melayani manten, perannya bukan sekadar membantu sebuah prosesi berjalan dengan baik. Ia juga berusaha menjaga agar makna dan filosofi yang terkandung di dalam tradisi tetap dipahami.
Bagi Wulan, posisi orang tua dalam selinduran menyimpan pesan yang sangat dalam. Ketika bapak berada di belakang, orang tua sedang mengajarkan bahwa seorang anak yang telah menikah harus mulai mampu berdiri dan berjalan dengan kehidupannya sendiri. Orang tua tidak meninggalkan. Orang tua tetap berada dalam jangkauan perhatian, tetapi tidak terus-menerus mengambil alih. Ia mendorong dari belakang, memberikan semangat, dan tetap mengawasi.
CERMIN DIRI
Kisah Wulan mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita mencintai orang-orang yang kita sayangi dengan cara yang tepat?
Sebagai orang tua, kita sering merasa bahwa berada di depan adalah bentuk perhatian. Kita ingin mengarahkan, menentukan, bahkan memastikan setiap langkah anak sesuai dengan harapan kita. Namun ada waktunya anak harus belajar berjalan dengan kakinya sendiri. Ada waktunya orang tua harus mengubah posisi: tidak lagi selalu di depan, tetapi tetap hadir dengan penuh perhatian dari belakang.
Mungkin kedewasaan sebagai orang tua bukan hanya ketika mampu membesarkan anak, tetapi ketika mampu memberikan kepercayaan kepada anak untuk menjalani kehidupannya sendiri. Mendampingi tidak selalu berarti mengendalikan. Mengawasi tidak harus berarti membatasi. Melepaskan pun bukan berarti berhenti mencintai.
NILAI HIKMAH
Selinduran mengajarkan bahwa kemandirian tidak lahir karena anak ditinggalkan, tetapi karena anak diberi kepercayaan. Orang tua tetap memiliki peran penting, tetapi peran itu dapat berubah seiring perjalanan hidup anak. Ketika anak mulai memasuki kehidupan rumah tangga, ia membutuhkan ruang untuk belajar mengambil keputusan, memikul tanggung jawab, dan membangun kehidupannya sendiri.
AJAKAN PERBAIKAN DIRI
Mari belajar menempatkan diri dengan bijaksana dalam kehidupan anak-anak kita. Ketika waktunya tiba, berikan mereka kepercayaan untuk melangkah. Tetaplah menjadi tempat untuk bertanya, tetaplah memberikan nasihat ketika dibutuhkan, dan jangan pernah berhenti mendoakan. Namun, biarkan mereka belajar bertanggung jawab atas pilihan dan perjalanan hidupnya sendiri.
LEGACY
Warisan terbaik orang tua bukanlah anak yang selamanya bergantung kepada orang tuanya, melainkan anak yang mampu berdiri sendiri dengan membawa nilai-nilai yang telah ditanamkan kepadanya. Suatu hari nanti, orang tua mungkin tidak lagi berada di depan untuk menunjukkan jalan. Namun nilai, doa, teladan, dan kebijaksanaan yang telah diwariskan akan tetap berjalan bersama sang anak.
Hari ini Wulan Prasetyoningsih berdiri di tengah prosesi manten. Ia bukan hanya sedang membantu sebuah pasangan menjalankan tradisi. Ia sedang ikut merawat sebuah pesan dari satu generasi kepada generasi berikutnya: berjalanlah dengan kakimu sendiri, bangunlah rumah tanggamu dengan tanggung jawab, tetapi jangan pernah kehilangan nilai yang membuatmu tahu dari mana engkau berasal.
Oleh Ustadz Iwan Muhajirin
Pendiri dan Pengelola Jejak Pemimpin Institute






