PUSURA Gelorakan Semangat “Guyub Rukun Sinawung” HUT ke-90, Tanggal 26 September 2026

Acara tradisi Potong tumpeng pada HUT ke-90 Pusura Surabaya. (Foto: Yous/majalahfakta.id)

Surabaya, majalahfakta.id – Organisasi warga Kota Surabaya, Pusura (Putra Surabaya) tanggal 26 September 2026, genap berusia 90 tahun.

Pada peringatan ulang tahun ke-90 atau satu dekade menjelang satu abad itu, Pusura menggelorakan tema: kebersamaan “Guyub Rukun Sinawung”.

Acara peringatan HUT ke-90 dirayakan di “bangunan tua” Gedung PUSURA, Jalan Yos Sudarso 9 Surabaya. Dihadiri para tokoh senior, kaum ibu dan pemuda-pemudi Pusura. Serta wakil masyarakat dari 31 kecamatan di Kota Surabaya.

Bahkan lebih semarak lagi, dengan kehadiran wakil-wakil organisasi perantau dari berbagai suku, daerah dan etnis yang tergabung di FPK (Forum Pembauran Kebangsaan). Umumnya mereka sudah menetap turun-temurun di Kota Pahlawan ini.

Ketua Perkumpulan Pusura, Hoslih Abdullah, mengatakan, bahwa dengan tema “Guyub Rukun Sinawung” ini kebersamaan antar warga penduduk Kota Surabaya semakin akrab dan guyub. Semua bersatu menjadi Arek Suroboyo.

Hoslih Abdullah yang akrab disapa Cak Dolah itu, mengungkap tentang berdirinya PUSURA tanggal 26 September 1936 itu. Para pendirinya adalah tokoh masyarakat di bidang sosial kemasyrakatan.

Warga kota di zaman penjajahan itu guyub rukun di kampung-kampung. Berhimpun di bidang sosial, khususnya apabila ada warga yang meninggal dunia dan kesusahan.

“Kebersamaan itu kemudian meningkat mendirikan Sunoman, bahkan berhimpun dalam perjuangan kemerdekaan,” ujar Cak Dolah.

Di usia yang ke-90 ini, kami ingin menegaskan kembali ke jatidiri Pusura. Guyub Rukun Sinawung. Ini bukan sekadar slogan, melainkan landasan bagi kita semua untuk saling bertoleransi, bergandengan tangan, dan menjaga kondusivitas serta persaudaraan di Surabaya,” ujar Cak Dollah

Nah, dulu para pendiri Pusura untuk mencapai cita-cita kemerdekaan berusaha secara maksimal meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Di samping itu, menyelenggarakan kegiatan pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa yang ada di Kota Surabaya ini.

Apalagi para pendiri organisasi yang semula bernama “Poesoera” ini, umumnya tokoh masyarakat yang berlatarbelakang politisi, cendekiawan, pendidik dan ulama.

Mereka, ujar Cak Dolah, antara lain, empat orang dokter pejuang, yakni: Dr. Sutomo, Dr. Soewandi, Dr. Yahya dan Dr. Samsi. Di samping itu ada ulama yang juga pejuang kemerdekaan, yakni KH Mas Mansur, H. Nawawi Amin, Koesnan Effendi, H. Manan Edris dan H. Hoesein. Itu, foto beliau para pendiri Pusura, sembari Cak Dolah menoleh ke foto di dinding latar panggung.

Sekarang, memasuki usia satu abad kurang satu dekade ini, Pusura berkomitmen untuk terus menghadirkan program – programnya.
Mulai dari sosial, kepemudaan, dan kebudayaan yang berdampak langsung bagi pembauran kebangsaan di masyarakat, tekad Cak Dolah yang juga ketua FPK Kota Surabaya.

Merekat Silaturrahim

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi yang mewakilkan kehadirannya kepada Staf Ahli bidang Hukum dan Pemerintahan, Dedik Irianto, mengucapkan Selamat HUT ke-90 Pusura dan menyampaikan salam kepada yang hadir.

Eri dalam sambutan tertulisnya, berharap pada momen bersejarah ini terwujudan komitmen untuk terus merekatkan tali silaturahmi, menjaga kerukunan, serta merawat nilai-nilai kebudayaan lokal di tengah pesatnya modernisasi Kota Surabaya.

Kita hidup dibera sekarang berbeda mulai dari teknologi, cara komunikasi hingga tantangan juga berbeda. Tetapi nilai yang kita butuhkan tetap sama, rukun, gotong royong, saling menghormati, dan peduli kepada sesama, tuturnya

Dedik menyampaikan pesan walikota, berharap di usia 90 tahun Pusura semakin menjadi rumah besar bagi warga Surabaya dalam menjaga sejarah dan tidak berhenti melihat masa lalu.

“Rumah besar yang menghormati para sesepuh dan juga memberikan ruang bagi generasi muda.
Surabaya sangat membutuhkan generasi – generasi muda untuk lebih mengenal sejarah kotanya.

Bahkan, mereka harus tahu siapa yang berjuang sebelum mereka dan mereka harus mempunyai kesempatan untuk menentukan masa depan Surabaya.

Jangan sampai generasi muda ini hanya mengenal Surabaya dari bangunan maupun gedungnya, tetapi mereka juga harus mengenal jiwa Surabaya, katanya.

“Jiwa Surabaya, adalah jiwa yang berani, yang peduli, yang tidak mudah menyerah, dan terpenting adalah jiwa gotong royong,” ujar Dedik.

Puncak acara HUT ke-90 Pusura ditandai dengan tradisi potong tumpeng, doa bersama, pertunjukan seni berupa musik keroncong dan nyanyi bersama. (yous)