Daerah  

“Jalan Seribu Lubang” Berubah: Ketika APBN Menjawab Rindu Masyarakat Sumbar

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, meninjau progres pembangunan jalan di jalur Payakumbuh, Lima Puluh Kota, Tanah Datar, Sabtu (9/5/2026). (Foto: Ist/majalahfakta.id)

FAKTA – Setelah lebih dari satu dekade dilintasi dengan hati-hati, penuh kewaspadaan dan kesabaran, jalan yang dikenal warga sebagai “Jalan Seribu Lubang” kini mulai menampakkan wajah baru. 

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, turun langsung ke lokasi pembangunan jalur Payakumbuh–Lima Puluh Kota–Tanah Datar, Sabtu (9/5/2026), menandai babak baru bagi perjalanan warga Sumatera Barat yang selama ini terbebani oleh rusaknya infrastruktur.

Bersama Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar Elsa Putra Friandi, anggota Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, dan Wali Nagari Tanjung Gadang, Zanhar, Andre meninjau progres pembangunan jalan sepanjang 8,4 kilometer yang bersumber dari anggaran APBN sebesar Rp 70 miliar melalui program Inpres Jalan Daerah. 

Di sepanjang jalur, spanduk dan baliho ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto berjejer, seolah menjadi saksi bisu keterikatan warga terhadap janji pemerintah pusat yang akhirnya terealisasi.

Apa yang Terjadi

Proyek ini menargetkan penyelesaian seluruh jalan pada 2 Juli 2026. Dari total panjang 8,4 kilometer, 5,5 kilometer dibangun dengan beton, sedangkan sisanya menggunakan aspal. “Insyaallah 2 Juli 2026 selesai seluruhnya dan mulus. Tinggal kita jaga bersama-sama,” ujar Elsa Putra Friandi.

Mengapa Proyek Ini Penting

Bagi warga, jalan ini bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan sehari-hari, jalur perdagangan, pendidikan, hingga kesehatan. Lebih dari 10 tahun, kondisi jalan yang rusak parah memaksa masyarakat menghadapi perjalanan yang menegangkan setiap harinya. Andre menegaskan, intervensi pemerintah pusat menjadi jawaban atas ketidakmampuan pemerintah provinsi selama bertahun-tahun:

“Ini jalan provinsi, kewenangannya ada di Pemprov Sumbar. Karena lebih dari 10 tahun tidak diperbaiki, masyarakat mengenalnya sebagai Jalan Seribu Lubang. Kami melaporkan kondisi ini dan alhamdulillah Pak Presiden Prabowo memerintahkan Kementerian PU menyiapkan anggaran sekitar Rp 70 miliar lebih,” kata Andre.

Bagaimana Realisasinya

Andre Rosiade hadir sebagai perwakilan pemerintah pusat, memastikan bahwa anggaran tidak hanya dicatat di buku, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Ia juga mengingatkan perlunya pengawasan bersama, terutama terhadap kendaraan tambang yang berpotensi merusak jalan:

“Silakan tambang berjalan, kita tidak menghalangi. Tapi jangan sampai tambang ini merusak jalan. Tonase harus dijaga. Mencari uang Rp 70 miliar itu susah,” sebut dia.

Koordinasi lintas level pemerintahan, dari pemerintah nagari hingga provinsi,menjadi kunci agar jalan yang sudah diperbaiki tidak kembali hancur beberapa bulan atau tahun ke depan.

Respon Masyarakat

Ucapan terima kasih pun mengalir dari Wali Nagari Tanjung Gadang, Zanhar, yang mewakili warga. Meski proyek belum rampung 100 persen, manfaatnya sudah terasa nyata. Jalan yang dahulu memaksa pengendara menundukkan kepala kini perlahan menegakkan derajat kehidupan lokal.

Apa Selanjutnya

Andre menegaskan, pembangunan ini bukan akhir, tetapi awal. Rencana perpanjangan menuju Batusangkar melalui program Inpres Jalan Daerah berikutnya telah siap disiapkan. Komitmen ini menjadi bukti bahwa janji politik yang berpijak pada kebutuhan riil masyarakat bisa diterjemahkan menjadi tindakan konkret.

Di tengah debu jalan yang masih menempel di sepatu warga dan geliat mesin proyek, Jalan Seribu Lubang perlahan berubah menjadi simbol harapan: bahwa kehadiran negara tidak selalu berupa kata, tetapi bisa menjadi beton, aspal, dan tawa lega masyarakat yang akhirnya bisa melewati jalan mereka tanpa rasa takut. (ss)