Persaudaraan di Titik Terendah: Sisi Lain Di Balik Toga Hitam, Kisah Darna Dahlan dan Ketulusan Chairul S Matdiah

FAKTA – Tahun 2009-2010, menjadi masa paling kelam dalam hidup Darna Dahlan. Saat itu, ia menjabat sebagai Kepala Dinas Pengairan Umum Bina Marga Sumatera Selatan (PU BM Sumsel) dan terseret dalam pusaran kasus besar Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjung Api-Api (TAA), yang juga melibatkan mantan Gubernur Sumsel Syahrial Oesman.

Namun, di tengah badai hukum yang menghantam, Darna tidak merasa sendirian. Ia memiliki seorang sahabat yang berdiri tegak sebagai pelindungnya, Chairul S Matdiah.

Bagi Darna, Chairul bukan sekadar orang yang berdiri di sampingnya untuk memberikan pembelaan secara legal. Hubungan keduanya telah bertransformasi layaknya kakak dan adik. Di titik terendah hidupnya saat menghadapi kasus korupsi yang pelik, Chairul hadir memberikan dukungan moral yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan berkas perkara.

​”Beliau itu bukan hanya pengacara, tapi sudah seperti saudara sendiri. Hubungan kami sangat dekat,” kenang Darna dalam catatannya yang akan ditulis dalam buku Di Balik Toga Hitam.

Benih kedekatan keduanya bukan tumbuh di ruang sidang, melainkan di lapangan perjuangan. Darna mengenang kembali masa-masa mereka berjuang dalam satu tim pemenangan Syahrial Oesman pada Pemilihan Gubernur Sumsel Periode 2003-2008 dan 2008-2013.

Pada Pilgub Sumsel 2003-2008, pasangan Syahrial Oesman-Mahyudin terpilih sebagai Gubernur dan Wagub Sumsel Periode 2003-2008. Kemenangan ini diraih dengan angka tipis atas pasangan Rosihan Arsyad-Rajab Simendawai.

Duet Syahrial Oesman-Mahyudin memperoleh suara 38 suara dari 75 Anggota DPRD Sumsel. Sedangkan pasangan Rosihan Arsyad yang masih menjabat sebagai Gubernur Sumsel dan Rajab Simendawai hanya meraih 37 suara.

Sementara pada Pilgub Sumsel 2008-2013, KPUD Sumsel menetapkan pasangan Alex Noerdin-Eddy Yusuf sebagai pemenang pilkada. Pasangan yang mempunyai sapaan akrab ALDY ini memperoleh 1.866.390 suara.

Perolehan suara ALDY berada tipis di atas pesaingnya, yakni pasangan Syahrial Oesman- Helmi Yahya (SOHE). Pasangan yang didukung oleh PDIP dan PKS ini meraih 1.764.373 suara. Dari peta persaingan politik itulah, Chairul bertindak sebagai penasihat hukum tim.

​”Kenalnya sudah lama. Kami sama-sama di tim Pak Syahrial. Dari situ mulai dekat, dan hubungan kami sudah seperti adik-beradik. Dia menganggap saya kakaknya,” ujar Darna, yang kini telah menginjak usia 72 tahun.

Karena reputasi Chairul yang cemerlang di Sumatera Selatan dan rasa percaya yang sudah mengakar, Darna tak pernah berpikir untuk mencari pembela lain. Saat dia terjerat persoalan hukum, tidak ada niat mencari pengacara lain.

“Sudah kawan, kalau ada masalah (persoalan hukum) tidak mungkin lari ke orang lain,” katanya.

“Saya dari awal pakai Chairul pengacara, sudah bedulur (keluarga),” tambahnya.

Satu hal yang paling mengagumkan bagi Darna adalah prinsip profesionalisme Chairul yang unik. Di saat pengacara lain mungkin mematok nilai kontrak yang fantastis untuk kasus sebesar itu, Chairul justru menunjukkan sisi yang berbeda.

Darna bersaksi bahwa Chairul adalah pengacara yang tidak pernah memasang harga.

​”Pengacara lain mungkin pasang harga sekian-sekian untuk urusan ini-itu, tapi dengan dia tidak ada seperti itu. Kami hanya menyiapkan biaya operasional saja. Dia benar-benar membantu,” ungkap Darna dengan nada haru.

“Selain sudah seperti saudara, alasan lain memakai Chairul karena kualitasnya, dia pengacara bagus, reputasinya di Sumatera Selatan, sangat baik,” katanya.

Bagi Darna, sosok Chairul adalah potret praktisi hukum yang melihat profesinya sebagai pengabdian. Alih-alih mengejar materi semata, Chairul dinilai lebih fokus membantu masyarakat dan membuka jalan bagi mereka yang mencari keadilan.

​Masa Pensiun dan Warisan Kebaikan

​Kini, Darna Dahlan telah melewati masa-masa sulit tersebut. Setelah menjalani masa tahanan, ia kini menikmati masa pensiunnya dengan menjaga kebugaran melalui olahraga golf dan jogging.

​Meski waktu telah berlalu belasan tahun sejak kasus tersebut, ingatannya tentang ketulusan Chairul Matdiah tetap segar. Testimoni Darna ini menjadi bab penting dalam buku Di Balik Toga Hitam, membuktikan bahwa integritas seorang pengacara tidak hanya diukur dari kemenangan di meja hijau, tetapi dari seberapa besar rasa kemanusiaan yang ia berikan kepada kliennya di masa-masa tersulit.

Melalui kacamata Darna Dahlan, kita diajak melihat bahwa di dalam kerasnya dunia hukum, masih ada ruang bagi nurani. Chairul S Matdiah melalui buku dan perjalanan kariernya seolah ingin menitipkan pesan bahwa membela seseorang adalah tentang memulihkan martabat manusia, bukan tentang berapa angka yang tertulis di dalam kontrak jasa.

​Kisah ini menjadi pengingat bagi para praktisi hukum lainnya bahwa di balik setiap kasus, ada nyawa dan keluarga yang sedang diperjuangkan, dan kadang kala, persaudaraan jauh lebih berharga daripada honorarium.

Menanggapi testimoni tersebut, Chairul S Matdiah mengungkapkan bahwa apa yang ia lakukan kepada Darna Dahlan adalah cerminan dari prinsip hidupnya dalam mengenakan toga hitam. Bagi Chairul, membela klien yang sudah dianggapnya sebagai keluarga adalah sebuah kewajiban moral yang tidak bisa diuangkan.

​”Bagi saya, Pak Darna bukan sekadar klien, beliau adalah kakak. Dalam dunia hukum, kita tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaan,” ujar Chairul.

​Chairul menegaskan bahwa profesi advokat seringkali dipandang sinis sebagai profesi yang transaksional. Namun, ia memilih jalan yang berbeda. Ia meyakini bahwa rezeki sudah diatur, namun kepercayaan dan persaudaraan adalah investasi batin yang tak ternilai harganya.

​”Saya tidak ingin orang merasa terbebani untuk mencari keadilan hanya karena masalah biaya. Jika kita membantu orang dengan tulus, apalagi sahabat sendiri yang sedang dalam kesulitan, kepuasan batinnya jauh lebih besar daripada sekadar honorarium,”dan jaksa waktu sidang di Tipikor jaksanya Suyono Turin pernah jabat kajati Palembang dan ketua majelis sekarang ketua pengadilan tinggi Palembang Dr. herdi agusten SH MH hehehe hehehe pengacara nya pernah h Chairul s matdiah SH MH pernah jadi pimpinan DPRD provinsi sumsel tegasnya. (Js)