FAKTA – Kekeringan yang intens, dampak perubahan iklim, serta pengelolaan air yang belum optimal menyebabkan banyak daerah mengalami krisis air bersih, terutama saat musim kemarau. Data menunjukkan jutaan jiwa terdampak langsung oleh krisis air.
Salah satunya pemberitaan terdampaknya ribuan warga di Pepana, Kelurahan Talipukki, terutama disebabkan oleh minimnya curah hujan selama beberapa bulan terakhir yang mengakibatkan kekeringan dan menipisnya sumber air alami. Kondisi ini diperparah dengan belum adanya infrastruktur air bersih yang memadai di wilayah tersebut.
Hal tersebut memaksa warga mencari alternatif lain untuk kebutuhan harian, seringkali dengan jarak yang jauh. Krisis ini memicu tuntutan warga agar pemerintah segera menepati janji terkait penyediaan infrastruktur air bersih yang layak.
Dalam konteks pelayanan publik, respons pejabat yang dinilai kurang profesional atau “baper” (bawa perasaan) dalam menanggapi keluhan masyarakat mengenai krisis air dapat memicu kekecewaan warga pepana.
Beberapa minggu lalu pejabat Kesbangpol Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat berkunjung ke Pepana dengan pengawalan Kapolsek, Kasat Intel Polres Mamasa, Lurah Talippuki, dan beberapa aparat lainnya, memakai rompi “Kesbangpol Mamasa”, ia berjanji akan sampaikan langsung ke Bupati terkait masalah air bersih yang menjadi masalah utama warga Pepana.
Namun, saat warga menagih progres, Kabid justru melempar respons yang membuat warga pepana merasa kesal dan kecewah berat.
”Susah kalau begitu gaya ta dinda, saya kayak orang di interogasi saja,” ucap Kabid saat ditanya salah seorang warga Pepana apakah aspirasi warga sudah sampai ke telinga Bupatil.
Lanjut, ucapan tersebut sontak memicu kemarahan warga Pepana satu satunya bernama Rizal Kahfi tokoh pemuda Talippuki yang vokal dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Ia mengecam keras sikap tersebut. Menurutnya, bertanya soal nasib kebutuhan dasar bukanlah intimidasi, melainkan hak konstitusional warga.
”Kami mempertanyakan komitmen, tapi Kabid Kesbangpol malah baper. Sekelas Kabid seharusnya tidak baperan saat dimintai pertanggungjawaban. Jabatan publik melekat fungsi akuntabilitas, bukan ajang cari nyaman, ” ujar Rizal Kahfi dengan rasa kecewa dan penuh kekesalan saat memberi keterangan pada media fakta, Sabtu, 2 Mei 2026.
Lebih lanjut, Rizal Kahfi menegaskan bahwa kebutuhan air bersih merupakan hal mendesak bagi masyarakat pepana.
“Kami butuh kepastian atas hak dasar kami terhadap air bersih dan kami tidak interogasi, kami nagih janji yang diucap pakai rompi negara. Kalau nanya saja disebut interogasi, kapan air kami ngalir?”
Dia juga katakan kami menuntuk solusi konkret dan timeline jelas dari Pemkab Mamasa. Kami berharap tuntutan ini segera didengar dan ditindaklanjuti,” harapnya.
Selanjutnya, Rizal Kahfi toko pemuda Pepana bersama warga setempat dan seorang aktivis muda yang juga vokal di parlemen jalanan dari kalangan mahasiswa di salah satu kampus di kota Sulbar, Fergiawan Rai Zacky mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa untuk segera menyelesaikan krisis air bersih di pepana yang sudah berlangsung selama bertahun – tahun agar warga tidak lagi bergantung pada sumber air yang jauh, ” pintanya dengan tegas. (Ammank-007)






