FAKTA – Pemerintah Kabupaten Badung melakukan Musyawarah Rencana Pembangunan RKPD TA 2027 di ruang Kertha Gosana, Puspem Kab. Badung, pada Senin sore (30/3/2026).
Pembukaan Musrenbang ini dimulai dengan paparan dari Kepala Dinas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Bali I Wayan Wiasthana Ika Putra dengan menunjukkan data statistik realisasi makro pembangunan Kabupaten Badung 2025 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6.26, presentase penduduk miskin tahun sebesar 1.90, indeks pembangunan manusia sebesar 84,27, tingkat pengangguran terbuka sebesar 1,57, gini rasio sebesar 0.3130, dan PDRB perkapita sebesar 142.344. Dengan angka petumbuhan ekonomi diatas rata-rata kabupaten/kota di Bali, ia menyebut Badung seperti poros pertumbuhan ekonomi Bali.
“Jadi kalau Badung ada masalah, seluruh Bali bisa merasakannya. Badung adalah barometer pembangunan Bali. Sebagian besar yang terjadi di Badung, mewakili pembangunan di Bali,” kata Wiasthana.
Meskipun begitu, tentu masing-masing daerah di Bali memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, jika berbicara pariwisata, wilayah Badung menjadi salah satu etalase yang pasti ramai. Maka dari itu, Wayan Wiasthana Ika Putra menjelaskan permasalahan pembangunan provinsi Bali seperti alih fungsi lahan yang terus meningkat, kemacetan, hingga masalah pariwisata yang harus diimbangi dengan sektor lain diluar pariwisata.
Bupati Badung Adi Arnawa mendukung adanya perbaikan infrastruktur yang berpotensi mendukung sektor pariwisata dengan masalah kemacetan. Ia mengakui kemacetan merupakan penghambat pulau dewata mengalami penurunan kunjungan wisatawan terlebih lagi dalam kondisi perang yang melibatkan Amerika – Israel yang menyerang Iran.
“Karena saya yakin ekonomi tidak akan bisa tumbuh dengan mudah tanpa bantuan infrastruktur,” kata Adi Arnawa.
Disamping itu, sampah juga menjadi akar permasalahan penyebab banjir. Adi Arnawa mengatakan menyiapkan mesin penyedot air dengan kekuatan tinggi. Dengan mesin itu, ia optimis air yang meluap mampu dialihkan ke jalur laut dengan mudah atau cepat.
“Kita sudah menyiapkan 8 pompa berkekuatan 30.000 liter perdetik untuk mendorong air ke laut, untuk mengatasi banjir. Disisi lain seperti pelebaran sungai di Dewi Sri, kita berencana untuk dilebarkan sehingga bisa mudah nyambung ke Tukad Mati,” sebutnya.
Disamping masalah kemacetan, sampah juga tidak luput menjadi perhatian publik yang selama ini menjadi momok. Dengan TPA Suwung yang resmi dihentikan operasionalnya per 1 April, Bupati Badung menghimbau untuk melakukan pengelolaan sampah berbasis sumber seperti yang telah diumumkan oleh Gubernur hingga Bupati/Walikota yang ada di Bali.
Berikutnya, ia tetap mendukung program pemberian bantuan sosial baik untuk lansia, anak petani agar bisa mendapatkan pendidikan yang setara sehingga generasi pemuda di Kabupaten Badung diharapkan menjadi generasi yang berpendidikan dan bermartabat. Adi Arnawa juga mendukung usulan Gubernur Bali Wayan Koster untuk melestarikan keturunan “Nyoman” dan “Ketut” yang diketahui memiliki jumlah sedikit dengan memberikan bantuan sosial.
“Kalau kita sandingkan dengan data populasi masyarkat Bali ini kalau tidak salah 3-4%. Kita di Badung khususnya menerapkan wisata berbasis budaya. Oleh karenanya saya akan memberikan stimulus bagi masyarakat Badung yang mau memiliki anak keempat “Nyoman” “Ketut”, kuliah saya tanggung gratis,” jelas Adi.
Akan tetapi, Adi Arnawa menggaris bawahi keturunan “Nyoman” dan “Ketut” merupakan dari istri pertama.
“Tidak diperkenankan ada istri kedua, kecuali dalalm keadaan terjepit. Makanya kalau saya tidak ngomong begitu, nanti saya dikira munafik. Saya, Pak Wabup, Pak Sekda,” tutupnya disambut yang dengan tawa dari ASN. (fa)






