Road to Talent Fest 2026 Dorong Ekosistem Talenta Olahraga Menuju Prestasi Dunia

Road to Talent Festival 2026 Bidang Olahraga digelar di Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Kamis (13/8/2026). (Foto : Dina/majalahfakta.id)

FAKTA – Kementerian PPN/Bappenas bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan Road to Talent Festival 2026 Bidang Olahraga sebagai bagian dari upaya menyiapkan atlet berprestasi menuju Indonesia Emas 2045. Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Road to Talent Fest 2026 Bidang Olahraga yang menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi sekaligus prestasi talenta olahraga Indonesia yang digelar diGed Kementrian PPN/Bappenas, Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan membangun ekosistem olahraga yang kuat, terarah, dan berkelanjutan. Pembinaan tidak hanya diarahkan untuk menemukan atlet berbakat, tetapi juga memastikan mereka memperoleh dukungan sejak tahap pencarian potensi, pengembangan kemampuan, hingga mampu bersaing di tingkat internasional.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pemberdayaan Masyarakat Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, mengatakan bahwa prestasi olahraga membutuhkan proses panjang serta dukungan lintas sektor.

“Prestasi dunia tidak dibangun secara instan. Prestasi merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan konsistensi kebijakan, kelembagaan yang kuat, data yang baik, pembinaan yang berkesinambungan, dan tentunya kolaborasi,” ujarnya.

Menurut Pungkas, manajemen talenta nasional bidang olahraga diarahkan pada dua sasaran utama, yakni meningkatkan sumber daya dan kualitas olahraga berprestasi serta meningkatkan rekomposisi dan kelayakan prestasi talenta, khususnya untuk Olimpiade dan Paralimpiade. Program tersebut diproyeksikan berjalan secara bertahap hingga 2045 dengan penguatan kelembagaan, implementasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Lindsey Afsari Putri, menilai keberhasilan atlet tidak bisa dibebankan kepada satu pihak. Ia menekankan perlunya orkestrasi antara atlet, pelatih, klub, federasi, keluarga, pemerintah, dunia pendidikan, layanan kesehatan, dunia usaha, hingga mitra pembangunan.

“Satu medali lahir dari banyak tangan,” kata Lindsey.

Lindsey juga menyoroti sejumlah persoalan yang masih menjadi tantangan, mulai dari data atlet yang terfragmentasi, pembinaan yang cenderung sektoral, akses kompetisi yang belum merata di daerah, hingga pemanfaatan ilmu keolahragaan yang belum optimal. Karena itu, KSP mendorong lima pergeseran strategis, antara lain orkestrasi kebijakan, integrasi basis data atlet, pembiayaan berbasis kinerja, penguatan ekosistem pembinaan, serta evaluasi berdasarkan trajektori prestasi.

Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Surono, menambahkan bahwa pembinaan talenta harus dimulai sejak usia dini. Menurutnya, pengembangan kemampuan dasar anak melalui aktivitas gerak menjadi fondasi sebelum proses identifikasi dan pemetaan bakat dilakukan pada usia berikutnya.

“Gerak dasar manusia seperti melempar, melompat, menendang, berenang, lari, dan jalan harus digalakkan terus,” ujarnya.

Surono menyebutkan, pola pembinaan perlu terintegrasi dengan jalur sekolah, klub, pusat pembinaan olahraga, hingga kompetisi berjenjang dari tingkat daerah, nasional, regional, hingga dunia. Talenta terbaik nantinya dipersiapkan melalui pembinaan yang terukur untuk mengejar target prestasi pada ajang internasional, termasuk Olimpiade.

Melalui Road to Talent Fest 2026, pemerintah berharap penguatan ekosistem manajemen talenta olahraga tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Kolaborasi antarlembaga, dukungan data, pembinaan berkelanjutan, ilmu keolahragaan, kesehatan, serta kepastian masa depan atlet menjadi fondasi untuk melahirkan lebih banyak talenta Indonesia yang kompetitif dan mampu mengharumkan nama bangsa di panggung dunia. (Dina)