Pada HUT ke 78 Polwan 1 September 2026 Ini Menghasilkan 21 Jenderal

Monumen Polwan di Kota Bukittinggi. (foto: yra)

Catatan: Yousri Nur Raja Agam *)
 

HARI ini, Selasa, 1 September 2026. Polwan (Polisi Wanita) Indonesia, berusia 78 tahun.

Tema resmi peringatan Hari Jadi ke-78 Polisi Wanita (Polwan) Republik Indonesia pada tanggal 1 September 2026 adalah “One Police Woman, Extraordinary Impact” atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Satu Polwan Memberikan Dampak Signifikan Bagi Masyarakat”.

Melalui kehadiran Polwan, di usianya yang ke-78 tahun ini,  diharapkan dapat membawa makna yang lebih dalam. Kita lacak jejak langkah perjuangan Polwan.

Sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), mengabadikan hari lahir Polwan, berawal dari kehadiran enam srikandi dari Kota Bukittinggi. Ke enam perempuan itu adalah tamatan SMP Negeri 1  Bukittinggi  almamater saya, yang dulu di zaman Belanda bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Pelopor Polwan ini, semuanya memang gadis-gadis berdarah Minang di Kota Bukittinggi. Sumatera. Barat. Mereka adalah: Mariana, Nelly Pauna, Rosmalina, Dahniar, Djasmainar dan Rosnalia. 

Yang cukup membanggakan, ke enam  wanita ini menyandang karir sebagai Polisi Republik Indonesia, sepanjang hidupnya sampai pensiun. Bahkan mereka berhasil menyandang pangkat sampai perwira menengah, yakni Komisaris Besar (Kombes) yang waktu itu disebut Kolonel Polisi.

Untuk itulah  tempat kelahiran Polwan di Kota Bukittinggi ini, ditandai dengan berdirinya sebuah bangunan “Monumen Polisi Wanita” yang terletak di Jalan M.Sjafei, Bukittinggi. Juga berdekatan dengan Kantor Pos, stasiun Kereta Api,  serta komplek SMP Negeri 1 Bukittinggi, tempat ke enam cikal-bakal Polwan ini bersekolah sebelumnya.

Enam pelopor Polwan 1948 (foto: dok. yra)

Darurat Perang  

Tahun 1948 itu, negara kita dalam keadaan darurat perang,  setelah kemerdekaan. Kendati sudah ada kesepakatan melalui perundingan dengan pihak Belanda yang membonceng tentara Sekutu, ternyata dilanggar. Waktu itu, ibukota negara Republik Indonesia, berada dalam pengungsian, di Jogjakarta. Kota Jakarta, sudah dikuasai kolonial Belanda. Serangan bersenjata Belanda tidak hanya di Jakarta dan ke Jogjakarta, tetapi juga ke Bukittinggi, Sumatera Barat.

Kota Bukittinggi, kala itu menjadi ibukota Provinsi Sumatera, juga menjadi sasaran pihak Belanda. Untuk menghindari pertumbuhan darah, warga terpaksa mengungsi ke daerah aman di luar kota.
Agar pemeriksaan terhadap pengungsi bisa berjalan lancar, maka dimintalah bantuan relawan wanita. Namun, karena statusnya bukan polisi, tentu pekerjaan mereka terbatas hanya sebagai “pembantu polisi”. Umumnya yang membantu pemeriksaan adalah isteri Polisi dan pegawai kantor Polisi. 

Untuk mengatasi masalah itu pemerintah daerah di Bukittinggi minta bantuan dan mengusulkan agar perempuan diberi kesempatan menjadi polisi. Dari usulan itu Pemerintah RI di Jogjakarta, memberikan mandat kepada Sekolah Polisi Negara (SPN) di Bukittinggi untuk membuka pendidikan kepolisian bagi perempuan.

Dari 44 yang mendaftar, untuk tahap pertama, terpilih enam orang gadis remaja itu. Mereka ini kemudian dikenal sebagai “pelopor” Polwan Indonesia.

Sekarang, setiap peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Polwan, kisah ini diungkap kembali. Tahun ini, Polwan berusia 77 tahun. Dari 500 ribu lebih anggota Polri, jumlah anggota Polwan sekitar 48 ribu, berarti hampir 10 persen. Di negara maju, jumlah anggota Polwannya, ada yang mencapai 40 persen.

Saat ini, kita juga melihat semakin banyak polisi perempuan yang menempati posisi-posisi strategis di kepolisian. Nah, kalau kita urut kembali jejak langkah Polwan, sejak lahir hingga sekarang, tentu tidak sedikit peran yang digoreskan oleh kaum ibu yang menjadi Polwan ini. 

Jika kita ikut jejak langkah enam perintis Polwan yang mulai mengikuti pendidikan di SPN (Sekolah Polisi Negara) di Bukittinggi pada 1 September 1948 itu, perlu kita telusuri, di mana mereka sekarang? Kalau melihat, usia mereka tahun 1948, masih remaja sekitar 16 tahun-an, tentu sekarang sudah berusia lanjut dan berpulang ke rahmatullah.

Dari catatan kepolisian, ke enam Polwan perintis ini,  juga dinyatakan sebagai anggota Angkatan Bersenjata RI (ABRI) perempuan pertama di Indonesia. Kita tahu, sebelum reformasi, Polri berada di bawah Komando ABRI. Polri dan TNI (Tentara Nasional Indonesia) berada di bawah Menteri Pertahanan dan Keamanan (Hankam). Jadi, Polwan yang pertama ini, juga mendahului dari Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat), Kowal (Korp Wanita Angkatan Laut) dan Wara (Korps Wanita Angkatan Udara).

Kesatuan Brigade Mobil (Brimob) pimpinan Inspektur Polisi Amir Machmud ditugaskan mendirikan basis pertahanan untuk melindungi proses pengosongan itu. Dalam pasukan ini, terdapat tiga orang polisi wanita, yaitu Rosmalina, Jasmaniar, dan Nelly Pauna.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia secara penuh, dengan peristiwa sejarah yang disebut “Penyerahan Kedaulatan”, ke enam Polwan dari Bukittinggi ini melanjutkan pendidikan ke SPN Sukabumi, Jawa Barat. Mereka lulus pada Mei 1951 sebagai inspektur polisi.

Enam Srikandi inilah yang menjadi pelopor lahirnya kesatuan Polwan di Indonesia. Mereka mengemban tugas yang tidak kalah penting dari polisi pada umumnya. Walaupun, jumlahnya masih jauh di bawah populasi polisi pria atau laki-laki.

Presiden Sukarno, dalam pidatonya yang dikutip dari buku “Wanita Indonesia Selalu Ikut Bergerak dalam Barisan Revolusioner (1964)”, memuji polisi-polisi wanita dari Sukabumi itu. Bung Karno menyebut ke enam Gadis Minang yang menjadi pelopor polisi wanita itu bagaikan bunga. “Bunga melati pagar bangsa”, ujar Bung Karno.

Pada tahun 2026 ini. Polwan yang sudah mencapai pangkat Pati (Perwira Tinggi) atau jenderal, ada 21 orang. Tujuh orang Bintang satu Brigjen (Brigadir Jenderal) dan 14 orang Irjen (Inspektur Jendera)

Bintang Dua (Irjenpol)

1.Inspektur Jenderal Pol. (Purn.) Basaria Panjaitan, S.H., M.H.Sahlisospol Kapolri Mabes PolriKorps Reserse

2.Inspektur Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Sri Handayani, M.H.Widyaiswara Utama Sespim Lemdiklat PolriKorps

3.Inspektur Jenderal Pol. (Purn.) Apriastini Bakti Bugiansri, S.I.K.Kapusjarah PolriKorps

4.Inspektur Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Ida Oetari Poernamasasi, S.A.P., M.A.Wakapolda KaltengKorps

5.Inspektur Jenderal Pol. (Purn.) Dr. Dra. Juansih, S.H., M.Hum.Karojianbang Lemdiklat PolriKorps

6.Inspektur Jenderal Pol. (Purn.) Dr. Hj. Rinny Shirley Theresia Wowor, S.Psi., M.Psi.Pati Baintelkam Polri (Penugasan pada BIN)Korps

7.Inspektur Jenderal Pol. Arradina Zessa DevyPati Baintelkam Polri (Kapus 04 BIN)Korps Intelijen

Bintang Satu (Brigjenpol)

1.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Jeanne Mandagi, S.H.Kadiv Humas PolriKorps

2.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Roekmini Koesoema AstoetiStaf Kasospol ABRIKorps

3.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Paula Maria Renyaan BataonaKorps

4.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Sri KusmaryatiKorps

5.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Noldy RataKonsultan Ahli Tim Asistensi Bidang Pencegahan BNNKorps

6.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Hj. Rumiah Kartoredjo, S.Pd.Kapolda BantenKorps

7.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Soepartiwi, M.Pd.Kadiklatsus Jatrans Lemdik PolriKorps

8.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Hj. Nur Afiah, M.H.Analis Kebijakan Utama Bid. Sespimma Sespim LemdikpolKorps

9.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Agnes SupraptiningsihIrbidjemen SDM II Itwil II Itwasum PolriKorps

10.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Desy AndrianiPsikolog Kepolisian Utama Tingkat II SSDM PolriKorps

11.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Ane Kristina, S.A.B.Sekretaris Pusat Keuangan PolriKorps

12.Brigadir Jenderal Pol. (Purn.) Dra. Yosepha Sri Suari, M.Si.Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat II Sespim Lemdiklat PolriKorps Reserse

13.Brigadir Jenderal Pol. Dr. Nurul Azizah, S.I.K., M.Si.Dirprog Sarjana STIK Lemdiklat PolriKorps

14.Brigadir Jenderal Pol. Sri Bardianti, S.Sos., M.Si.Korps. (**)

*) Yousri Nur Raja Agam — Wartawan Senior di Surabaya.

Exit mobile version