Jelajah Ranah Minang Lewat 10 Rasa: Dari Rendang hingga Pical

Sajian aneka masakan Minang Sumatera Barat (Foto : ss)

Laporan Wartawan Majalah Fakta : Syafrial Suger

Jika alam membawa wisatawan menyusuri lembah, danau, pantai, dan pegunungan Sumatera Barat, kulinernya mengajak pelancong menempuh perjalanan yang berbeda: dari pedasnya cabai hingga gurih santan, dari pasar tradisional hingga meja makan yang menyimpan cerita tentang identitas Minangkabau.

Padang, majalahfakta.id — Bayangkan sebuah perjalanan ke Sumatera Barat tanpa buru-buru mengejar pemandangan.

Tidak langsung menuju Ngarai Sianok. Tidak hanya berhenti di tepian Danau Maninjau. Kali ini, perjalanan dimulai dari aroma rempah yang mengepul dari dapur, suara sendok beradu dengan piring di warung, kepulan asap dari tungku, serta meja makan yang dipenuhi lauk berwarna-warni.

Di Ranah Minang, perjalanan semacam itu bisa membawa wisatawan dari rendang yang pekat, sate dengan kuah rempah, nasi Kapau yang penuh pilihan, hingga penganan tradisional dan minuman penyegar.

Sumatera Barat memang telah lama dikenal melalui rendang. Namun, kuliner Minangkabau jauh lebih luas daripada satu hidangan yang telah menembus berbagai negara itu.

Ada sate Padang, nasi Kapau, gulai itiak lado mudo, dendeng balado, lamang tapai, es tebak, karupuak Sanjai, soto Padang, hingga pical.

Masing-masing tidak sekadar menawarkan rasa. Di baliknya terdapat jejak tradisi, bahan pangan lokal, teknik memasak, kebiasaan masyarakat, serta perjalanan panjang sebuah kebudayaan.

Karena itu, ketika perjalanan berikutnya membawa langkah ke Sumatera Barat, ada baiknya wisatawan menyisakan ruang untuk satu agenda penting: makan dan mengenal cerita di balik makanan.

Rendang, Gerbang Pertama Menjelajahi Rasa Minang
Sulit membicarakan kuliner Sumatera Barat tanpa memulai perjalanan dari rendang.

Hidangan berbahan daging yang dimasak bersama santan dan rempah itu membutuhkan proses panjang. Daging dimasak perlahan hingga kuah menyusut dan bumbu meresap.

Proses tersebut menghasilkan karakter rendang yang kuat: kaya rempah, gurih, dan beraroma.

Namun, rendang di Ranah Minang tidak berhenti pada daging sapi.

Wisatawan juga dapat menemukan variasi rendang berbahan ayam, lokan atau kerang, hingga telur. Perbedaan bahan dan cara pengolahan di berbagai daerah membuat perjalanan mencicipi rendang tidak selalu menghasilkan pengalaman rasa yang sama.

Bagi pelancong, rendang bisa menjadi pintu masuk sebelum menjelajahi kuliner Minangkabau yang lebih luas.

Sate Padang dan Kuah yang Menjadi Identitas
Perjalanan berikutnya dapat diarahkan pada sate Padang.

Berbeda dengan sate yang lazim disajikan bersama bumbu kacang, sate Padang hadir dengan kuah kental berbumbu rempah. Warna dan karakter kuahnya pun dapat berbeda menurut daerah dan tradisi pengolahannya.

Sate Padang Panjang, misalnya, dikenal dengan karakter kuah yang cenderung kuning, sedangkan sate Pariaman memiliki kuah yang lebih merah dengan cita rasa pedas yang menonjol.

Daging yang digunakan pun beragam, mulai dari daging sapi hingga bagian seperti lidah, jantung, dan jeroan.

Satu nama, tetapi banyak karakter.

Itulah yang membuat perjalanan kuliner di Sumatera Barat tidak cukup dilakukan dengan sekali makan.

Nasi Kapau, Makan di Tengah Riuh Los Lambuang
Jika perjalanan membawa wisatawan ke Bukittinggi, ada satu pengalaman yang layak dicari: nasi Kapau.

Hidangan ini berasal dari Nagari Kapau. Sekilas nasi Kapau mungkin mengingatkan orang pada nasi Padang, tetapi keduanya memiliki tradisi penyajian dan pilihan lauk yang berbeda.

Gulai tambunsu, gulai nangka, rendang, ayam, ikan, dan berbagai lauk lainnya dapat menjadi bagian dari satu piring nasi Kapau.

Pengalaman itu bahkan tidak berhenti pada makanan.

Di kawasan Los Lambuang, wisatawan dapat merasakan suasana kuliner yang hidup. Deretan penjual menawarkan berbagai lauk dalam susunan yang menggoda mata.

Di tempat seperti inilah makanan menjadi bagian dari pengalaman perjalanan. Wisatawan bukan hanya membeli makanan, tetapi menyaksikan bagaimana kuliner tradisional dipertahankan sebagai bagian dari aktivitas ekonomi dan keseharian masyarakat.

Gulai Itiak Lado Mudo, Pedas yang Menggigit
Bagi pencinta rasa pedas, perjalanan kuliner Sumatera Barat belum lengkap tanpa mencicipi gulai itiak lado mudo.

Bebek dimasak bersama cabai hijau dan bumbu rempah hingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan aroma yang kuat.

Hidangan tersebut memperlihatkan salah satu ciri penting masakan Minangkabau: keberanian menggunakan rempah dan cabai untuk membangun karakter makanan.

Namun, pedas bukan satu-satunya cerita. Teknik memasak dan proses meresapkan bumbu menjadi bagian dari pengalaman yang membuat hidangan tersebut memiliki identitas tersendiri.

Dendeng Balado, Tipis tetapi Menggigit
Dendeng menawarkan pengalaman berbeda.

Irisan daging sapi diolah hingga menghasilkan tekstur yang lebih kering, kemudian dipadukan dengan sambal balado. Kombinasi daging dan cabai menciptakan rasa gurih sekaligus pedas.

Ada pula dendeng batokok, yang melalui proses pemukulan atau pengempukan sebelum disajikan dengan sambal.

Dua hidangan itu memperlihatkan bagaimana bahan sederhana dapat diolah menjadi makanan dengan karakter kuat.

Lamang Tapai, Manis dan Asam dalam Satu Sajian
Setelah rangkaian makanan gurih dan pedas, perjalanan rasa dapat berbelok menuju penganan tradisional.

Lamang tapai merupakan salah satu pilihan.

Lamang dibuat dari beras ketan yang dimasak dalam ruas bambu, sedangkan tapai merupakan hasil fermentasi ketan hitam.

Ketika keduanya dipertemukan, muncul perpaduan rasa manis, asam, dan aroma khas yang sulit ditemukan pada makanan modern.

Lamang tapai sekaligus memperlihatkan bahwa kekayaan kuliner Sumatera Barat tidak hanya hidup di rumah makan besar. Banyak warisan rasa justru bertahan melalui penganan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Es Tebak, Menutup Perjalanan dengan Kesegaran
Setelah menghadapi rempah dan cabai, wisatawan dapat menutup perjalanan dengan es tebak.

Minuman ini disajikan dengan es, tebak atau cendol putih, santan, gula cair, dan sirup.

Manis dan dingin menjadi penutup yang sederhana untuk perjalanan kuliner yang panjang.

Bagi wisatawan, sajian seperti ini memperlihatkan sisi lain kuliner Minangkabau: tidak semuanya harus kuat dan pedas. Ada pula hidangan yang menawarkan rasa ringan dan menyegarkan.

Karupuak Sanjai, Oleh-Oleh yang Membawa Pulang Cerita
Perjalanan pulang dari Bukittinggi hampir selalu bersinggungan dengan oleh-oleh.

Karupuak Sanjai menjadi salah satu yang mudah dikenali.

Keripik singkong tersebut hadir dalam sejumlah varian rasa, termasuk asin, manis, dan balado.

Bentuknya sederhana. Namun, bagi wisatawan, makanan semacam ini memiliki fungsi lebih besar: membawa pulang sepotong pengalaman perjalanan.

Satu bungkus keripik dapat menjadi oleh-oleh untuk keluarga, sekaligus pengingat bahwa perjalanan pernah melewati Ranah Minang.

Soto Padang, Kuah Bening dengan Daging Renyah
Soto Padang memberikan pengalaman lain.

Kuah kaldu yang bening dan gurih disajikan bersama bihun, perkedel kentang, serta potongan daging sapi yang digoreng.

Tekstur daging yang renyah berpadu dengan kuah hangat membuat soto ini memiliki karakter yang berbeda dari berbagai jenis soto di Nusantara.

Hidangan tersebut dapat dinikmati pada pagi maupun malam hari.

Pical, Kesegaran di Tengah Dominasi Rempah
Tidak semua perjalanan kuliner harus berujung pada makanan bersantan atau bercita rasa kuat.

Pical menjadi salah satu penyeimbang.

Hidangan berbahan sayuran rebus itu disiram kuah kacang dan biasanya dilengkapi kerupuk. Dalam sejumlah penyajian, pical juga dapat ditemani mi kuning.

Kesegarannya membuat pical menjadi bagian menarik dari perjalanan kuliner Sumatera Barat.

Jika rendang dan gulai mewakili kekayaan rempah, pical menunjukkan sisi kuliner Minang yang lebih ringan.

Dari Meja Makan Menuju Panggung Global
Kekayaan tersebut kini tidak hanya menjadi konsumsi wisatawan yang datang ke Sumatera Barat.

Kuliner juga mulai ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata.

Wali Kota Padang Fadly Amran mengangkat isu tersebut ketika menjadi salah satu pembicara dalam Ideafest 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Dalam forum bertema “Can Indonesian Food Become a Global Cuisine?”, Fadly berbicara mengenai peluang gastronomi Indonesia menembus pasar dunia.

Menurut Fadly, pengalaman kuliner Padang menunjukkan bahwa makanan daerah dapat dikenal di berbagai negara tanpa harus kehilangan identitas asalnya.

“Kuliner Padang sudah menunjukkan bisa dikenal di panggung dunia tanpa harus kehilangan identitasnya. Kita bisa menemukan Nasi Padang di Eropa, Amerika, Australia, dan mungkin wilayah lainnya,” ujar Fadly.

Pernyataan tersebut menempatkan makanan bukan hanya sebagai produk konsumsi, tetapi sebagai bagian dari diplomasi budaya dan ekonomi kreatif.

Ketika nasi Padang hadir di luar negeri, yang ikut berjalan bersamanya bukan sekadar makanan. Ada nama Padang, Sumatera Barat, Minangkabau, rempah, teknik memasak, dan cerita tentang masyarakat yang melahirkannya.

Padang Mengejar Pengakuan Gastronomi UNESCO
Ambisi itu kemudian diarahkan lebih jauh.

Pemerintah Kota Padang tengah mengupayakan rekognisi internasional melalui UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada sektor gastronomi.

Langkah tersebut menempatkan kuliner sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat posisi Padang di tengah persaingan destinasi wisata.

Jika agenda tersebut berkembang, tantangannya bukan sekadar memperoleh pengakuan. Pekerjaan yang lebih panjang adalah memastikan ekosistem gastronomi ikut tumbuh.

Petani dan nelayan memasok bahan baku. Pelaku UMKM mengolahnya. Pedagang memasarkannya. Restoran memperkenalkannya kepada wisatawan. Generasi muda kemudian memiliki peran untuk membawa cerita itu ke ruang digital dan pasar internasional.

Dengan demikian, gastronomi tidak berhenti pada piring.

Ia dapat menjadi rantai ekonomi yang menghubungkan pertanian, perikanan, UMKM, perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan kebudayaan.

Saatnya Menjelajahi Sumbar dengan Perut dan Ingatan
Sumatera Barat memang memiliki alam yang membuat wisatawan datang.

Ada Ngarai Sianok dengan lanskap lembahnya. Ada Danau Maninjau dengan bentang perairannya. Ada pegunungan, pantai, dan desa-desa dengan kehidupan masyarakat yang khas.

Namun, setelah mata menikmati pemandangan, ada cara lain untuk mengenal sebuah daerah: mencicipinya.

Rendang mengajarkan perjalanan panjang rempah. Sate Padang memperlihatkan keragaman tradisi. Nasi Kapau membawa wisatawan ke riuh pasar. Lamang tapai menyimpan jejak penganan tradisional. Karupuak Sanjai menjadi kenangan yang dibawa pulang.

Pada akhirnya, perjalanan kuliner di Ranah Minang bukan hanya daftar makanan yang harus dicoba.

Ia adalah perjalanan untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat mempertahankan rasa, mengolah kekayaan alam, merawat tradisi, sekaligus membawa identitas lokal melewati batas geografis.

Maka, jika suatu hari perjalanan berikutnya membawa langkah ke Sumatera Barat, jangan hanya bertanya “Ke mana kita pergi?”

Sisakan satu pertanyaan lain:

“Apa yang akan kita cicipi, dan cerita apa yang akan kita bawa pulang?” (SS)

Exit mobile version