Oleh: Subakti Sidik
Wartawan Senior
Pekan lalu, Keraton Solo alias Karaton Surakarta Hadiningrat punya gawe besar. Yakni, penobatan sang raja. Lho…kok ada penobatan raja lagi to?
Bukankah beberapa bulan lalu, juga ada acara penobatan raja ? Jadi rajanya ada dua dong ?. Raja kembar ?. Benar, rajanya ada dua. Raja kembar.
Ini bukan cerita pewayangan lho. Tapi ada mirip-miripnya juga. Misal dengan cerita perselisihan Subali dengan Sugriwo. Kakak beradik itu berebut tahta Kerajaan Kiskenda.
Keduanya lalu bertarung. Pertarungan hebat, karena seimbang kesaktiannya. Tapi Subali apes . Dadanya dipanah Rama. Jressss….!!!. Tewaslah dia. Menanglah Sugriwo.
Rama melakukan itu karena utang budi dengan Sugriwo yang pernah membantunya ketika sang isteri Sinta, diculik Rahwana. Sugriwo akhirnya naik tahta sebagai Raja Kiskenda.
Ya, sedikit mirip. Tetapi jelas beda. Dunia pewayangan hanyalah cerita – cerita. Tapi yang terjadi di Karaton Surakarta adalah benar – benar fakta.
Namun kasus Raja Kembar Surakarta – sampai saat ini juga tak sampai diwarnai kekerasan. Mudah-mudahan nanti “happy ending” lah. Kita ikut berdo’a.
Ini bukan kasus pertama lho. Hal serupa pernah terjadi. Setelah meninggalnya PB XII tahun 2004. Terjadi raja kembar juga.
Mereka adalah: KGPH Hangabehi (nama sama dengan anaknya) dan KGPH Tejowulan. Keduanya sama-sama putra Pakubuwana XII. Mereka sama – sama merasa berhak naik tahta.
Meskipun sempat memanas. Namun akhirnya perselisihan berakhir damai. KGPH Hangabehi berhasil dinobatkan sebagai Raja sah. Bergelar Pakubuwana XIII.
Sedangkan KGPH Tejowulan diangkat sebagai Maha Menteri. Kedengarannya aneh ? Ya anehlah. Mana ada jabatan Maha Menteri atau Perdana Menteri pada zaman kerajaan ?
Ya, benar jabatan yang disandang KGPH Tejowulan adalah Maha Menteri. Seperti Perdana Menteri. Ha…ha…ha. Model penyelesaian gaya Mataraman abad modern. Jabatan keren yang belum pernah ada. Ajaib….!!!. Dan redalah itu prahara.
Solo memang hebat. Tiada duanya….!!!. Ada saja berita menarik perhatian publik. Selain berita kegiatan mantan “Raja Indonesia” (baca Presiden RI) Jokowi yang tak ada henti-hentinya dikunjungi pecintanya dari seluruh pelosok negeri. Bahkan dari mancanegara.
Yang dinobatkan sebagai Raja Surakarta pekan lalu itu Hangabehi. Maka iapun jejuluk Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Susuhunan Pakubuwana XIV.
Sementara pada 5 November 2025 lalu, adik Hangabehi (tunggal bapak beda ibu), Purbaya juga dinobatkan sebagai Raja Surakarta.
Baik Hangabehi maupun Purbaya, sama2 menamakan dirinya sebagai Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Susuhunan Pakubuwana XIV. Menggantikan ayahnya Pakubuwana XIII yang telah mangkat.
Gaya Zaman Now
Ini memang kejadian unik. Kedua figur yang saling klaim menjadi raja, sama – sama tinggal dalam satu kompleks tembok Karaton Surakarta. Selemparan batu.
Bahkan suatu ketika, sholat Jumat bersama di Masjid Agung. Jabat tangan. Tak ada raut wajah tegang. Yang ada malah ketawa – ketawa.
Ha…ha…ha. Seakan tak terjadi suatu apa. Asyik kan ? Hanyalah Gusti Allah dan keduanya yang tahu apa isi hati mereka.
Ya.. ..begitulah perselisihan gaya Mataraman zaman now.
Beda amat dengan masa penjajahan Belanda. Lagi – lagi Solo memang beda Bro.
Dulu, jika terjadi begini. Kompeni mesti merayu salah satu. Menawarkan bantuan.Dan terjadilah pertempuran.
Ujung-ujungnya, apalagi kalau tak minta upah tanah luas. Untuk perluasan daerah jajahan.
Dualisme kepemimpinan di Karaton Surakarta ini tak tahu kapan akan berakhir. Pemerintah juga belum ada tanda-tanda, mengakui raja yang mana.
Saat penobatan keduanya, wakil pemerintah juga tak ada yang hadir. Namun seiring dengan status Karaton sebagai cagar budaya. Pemerintah masih menggelontorkan dana pada kerajaan ini.
Meski begitu, dana renovasi yang sedang dikerjakan, tak disalurkan pada kedua raja yang sedang berperkara .
Melainkan melalui Sang Maha Menteri KGPH Tejowulan.
Ada benarnya juga. Kalo disalurkan pada keduanya. Apalagi pada salah satu di antaranya. Bisa jadi, pertanyaan besar akan muncul: kemana saja dana perbaikan karaton ?. Kok renovasinya hanya segitu – gitu aja ?. (***)
