Empat warga terluka dan 32 jiwa mengungsi. Sebanyak 11 kantor pemerintah terdampak, sementara material lumpur, batu, dan kayu menutup akses utama Solok-Padang.
Solok, majalahfakta.id — Air bah bercampur lumpur, batu, kayu, dan material longsoran menerjang pusat pemerintahan Kabupaten Solok di Arosuka, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Galodo datang sekitar pukul 20.00 WIB setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut dan langsung menyapu kawasan kompleks Kantor Bupati Solok.
Bencana itu tidak hanya mengganggu aktivitas pemerintahan. Material galodo menutup ruas Jalan Raya Solok-Padang di depan kompleks perkantoran, membuat akses utama yang menghubungkan Kabupaten Solok dengan Kota Padang tidak dapat dilalui kendaraan. Polisi kemudian mengimbau pengguna jalan memilih jalur alternatif melalui Padang Panjang.
Di kawasan Arosuka, aliran air menerjang sejumlah bangunan pemerintahan dan fasilitas publik. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok pada Selasa pagi mencatat sedikitnya 11 kantor pemerintah terdampak. Selain itu, 21 mobil dan tujuh sepeda motor ikut terdampak bencana.
Empat Warga Terluka
Data sementara BPBD hingga Selasa, 22 September 2026, menunjukkan empat warga mengalami luka akibat galodo. Tiga korban mendapat perawatan di RSUD Arosuka, sedangkan satu korban dirujuk ke Semen Padang Hospital (SPH) di Kota Padang.
Salah seorang korban, Muslihat, 54 tahun, warga asal Kediri, mengalami luka ringan dan diperbolehkan menjalani rawat jalan.
Korban lainnya, Muhammad Nurzan, 57 tahun, warga Perumahan Clemira River View, Jorong Kayu Aro, mengalami cedera pada bagian ekstremitas bawah disertai perdarahan. Ia kemudian dirujuk ke SPH untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
Dua korban lain adalah Anggiat Sirait, 66 tahun, warga Koto Gaek Guguek, yang menjalani observasi pascatrauma di RSUD Arosuka, serta Yurnalis, 45 tahun, warga Kayu Aro dan tenaga honorer Bapenda Kabupaten Solok, yang mengalami keluhan pada tangan kiri dan kaki.
Data tersebut merupakan laporan sementara yang masih dapat berubah seiring proses asesmen di lapangan.
Hingga Selasa pagi, belum ada laporan korban meninggal dunia akibat galodo tersebut. Namun, petugas gabungan masih melakukan penyisiran dan pendataan di sejumlah titik terdampak.
32 Jiwa Mengungsi
Galodo juga memaksa sembilan kepala keluarga atau 32 jiwa mengungsi. Pemerintah daerah menempatkan para pengungsi di dua lokasi yang dinilai aman.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Solok, Khairul, mengatakan penanganan darurat masih berlangsung. Tim Reaksi Cepat bersama unsur terkait melakukan penyisiran sekaligus mengevakuasi warga yang membutuhkan pertolongan.
Wilayah terdampak meliputi kawasan kompleks Kantor Bupati Solok di Bandar Baliang, Jorong Kayu Aro, Nagari Batang Barus, serta kawasan Nagari Koto Gaek Guguk, Kecamatan Gunung Talang.
Kondisi tersebut membuat pusat pemerintahan Kabupaten Solok menjadi salah satu titik terdampak paling parah. Material banjir tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga masuk ke area perkantoran dan fasilitas di sekitarnya.
Hujan Deras Sejak Akhir Pekan
Bencana terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kabupaten Solok sejak Sabtu, 19 September 2026. Curah hujan yang berlangsung beberapa hari meningkatkan debit air hingga akhirnya memicu banjir bandang di kawasan Gunung Talang.
Kepolisian menyebut material galodo berupa lumpur dan batu terbawa arus deras hingga menutup badan jalan. Pada malam kejadian, kondisi tersebut membuat kendaraan dari arah Solok maupun Padang tidak dapat melewati ruas di depan Kantor Bupati Solok.
Kabags Ops Polres Solok, AKP Indra Kusuma, meminta masyarakat tidak memaksakan diri melintasi jalur yang terdampak.
“Kami imbau kepada masyarakat untuk tidak melintasi jalan ini terlebih dahulu,” kata Indra.
Menurut dia, warga yang berada di sekitar lokasi juga diminta sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk mengantisipasi kemungkinan galodo susulan.
Jalur Solok-Padang Masih Jadi Perhatian
Putusnya akses Solok-Padang menjadi persoalan penting karena ruas tersebut merupakan jalur utama mobilitas masyarakat dan distribusi logistik. Kepolisian mengarahkan kendaraan untuk menggunakan jalur alternatif melalui Padang Panjang selama ruas terdampak belum dinyatakan aman.
Di tengah proses pembersihan material, pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, SAR, dan masyarakat masih melakukan penanganan darurat.
Prioritas petugas saat ini adalah memastikan keselamatan warga, menyisir lokasi yang terdampak, menangani korban luka, serta mendata kerusakan fasilitas umum dan kendaraan.
Masyarakat di kawasan rawan diminta tidak mendekati aliran sungai, lokasi yang tertutup material banjir, maupun jalur yang belum dinyatakan aman oleh petugas.
Ancaman belum sepenuhnya berakhir. Dengan kondisi cuaca yang masih perlu diwaspadai, pemerintah mengingatkan warga untuk mengikuti informasi resmi dan segera berpindah ke tempat aman apabila terjadi peningkatan debit air atau hujan deras kembali turun.
Data korban, kerusakan, dan wilayah terdampak masih bersifat sementara dan dapat diperbarui setelah asesmen lapangan selesai. (SS)






