Sering Jadi Target Maling Ayam, Bendesa Adat Juwuk Legi Luruskan Informasi Narasi Viral di Media Sosial

Bendesa Adat Juwuk Legi I Nyoman Wirawan buka suara atas kurangnya informasi yang diterima oleh publik di media sosial. (foto: fa/majalahfakta.id)

FAKTA – Menyusul kejadian pengeroyokan yang memicu seorang pelaku tak terduga pencurian ayam berinisial S di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Baturiti, pihak tokoh adat setempat akhirnya buka suara. Bendesa Adat Juwuk Legi, I Nyoman Wirawan, memberikan tambahan untuk propaganda dan potongan informasi yang terlanjur bergulir di media sosial.

Wirawan memberkan bahwa aksi hakim utama sendiri tersebut dipicu oleh akumulasi rasa keresahan warga yang wilayahnya sudah berulang kali menjadi sasaran pencurian ayam, di samping adanya dugaan ancaman dari pelaku saat dipergoki warga.

Menyanggapi ramainya komentar warganet yang menyudutkan aksi warga hanya karena masalah pencurian dua ekor ayam, I Nyoman Wirawan menegaskan bahwa nilai kerugian serta modus operandi pencurian di wilayahnya sering kali terabaikan oleh publik.

“Netizen kan bilang cuma curi dua ayam, kok sampai seperti ini? Padahal tidak seperti itu. Kalau di tempat kami, sekali ambil itu bisa 16 sampai 18 ekor. Waktu kejadian kemarin, pelaku baru mengambil dua ekor lalu keburu ketahuan warga. Makanya yang beredar di berita hanya dua ekor,” ungkap I Nyoman Wirawan saat memberikan keterangan kepada wartawan (31/7/2026).

Ia menambahkan, ayam jantan yang dipelihara warga setempat bukanlah jenis ayam potong atau ayam aduan biasa, melainkan ayam laga/hobi berprestasi dengan nilai ekonomis yang sangat tinggi dan menjadi salah satu sumber mata pencaharian warga.

“Ayam di sini bukan ayam pedaging/broiler. Ada yang harganya Rp5 juta, bahkan kalau jenis impor untuk aduan umur dua tahun harganya bisa mencapai Rp8 juta sampai Rp15 juta per ekor. Kalau tidak ketahuan saat itu, bisa habis semua,” tegasnya.

Wirawan menceritakan bahwa pencurian ternak ayam di kawasan Banjar Juwuk Legi sudah berlangsung berulang kali hingga mencapai puncak pada kejadian Jumat dini hari tersebut. Sebelum pencurian terakhir ini, beberapa warga kerap menjadi korban kekejaman modus para pelaku.

“Ada teman kami di daerah Anyungan, ayamnya diambil sampai 18 ekor. Bahkan pemilik rumahnya dikunci dari luar oleh pelaku dari malam sampai besoknya. Pokoknya di sini warga sebenarnya sangat bersahabat, tapi keresahan ini sudah berulang kali terjadi,” tutupnya.

Meski begitu, peristiwa pengeroyokan ini kini telah ditangani secara hukum oleh Satreskrim Polres Tabanan dengan mengamankan lima warga sebagai tersangka untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. (fa)