Dalam Buku Biografi Toga Hitam Chairul s matdiah, Integritas Dikursi Pimpinan: Kisah Chairul S Matdiah yang Membuat Alex Noerdin Terperangah

FAKTA – Isu miring kerap menerpa lembaga legislatif, namun hal berbeda ditunjukkan Chairul S Matdiah saat menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Selatan. Bukan soal kebijakan kontroversial, melainkan soal keteguhan prinsip yang membuat tokoh sekaliber Alex Noerdin terdiam karena kagum.

Selama lima tahun menduduki kursi pimpinan, 2014-2019, Chairul memegang prinsip yang mungkin dianggap “aneh” oleh sebagian politisi. Chairul menutup rapat pintu bagi segala bentuk uang haram. Laporannya kepada Gubernur Sumsel Alex Noerdin mencerminkan sikap yang tegas terhadap apa yang sering disebut sebagai “uang ketok palu”.

​”Saya melapor langsung kepada Pak Alex bahwa selama saya menjabat, saya tidak pernah menyentuh atau mengambil uang ketok palu. Itu prinsip saya,” tegas Chairul saat mengenang kembali masa tugasnya.

“Saya tidak pernah menyentuh “uang ketok palu” dalam setiap pengambilan keputusan di parlemen, termasuk dalam rapat di Badan Anggaran (Banggar),” kata Chairul.

Salah satu bukti nyata integritas Chairul terlihat dari kondisi rumah dinasnya yang tak berubah selama lima tahun. Padahal, anggaran rehabilitasi rumah dinas sering kali menjadi “ladang emas” dengan indikasi suap berupa komisi kontraktor sebesar 15 hingga 20 persen. ​Tawaran untuk mengganti perabot dengan kualitas mewah sering menghampiri, namun semuanya ditolak mentah-mentah. Dengan menolak renovasi yang tidak perlu, ia berhasil mencegah potensi kebocoran uang negara yang berkedok estetika hunian pejabat.

“Kenapa saya tolak, karena belum ala-apa kontraktor pengadaan rehab rumah sudah menawarkan fee sebesar 15-20 persen, jelas ini indikasi suap menyuap, saya tidak mau,” ujar Chairul.

“Kontraktornya bilang, nanti ada untuk bapak, uang fee 15-20 persen dari proyek rumah dinas Wakil Ketua DPRD Sumsel,” sambung Chairul mengulang ucapan sang kontraktor.

Apa saja contoh proyek rehab rumah dinas Pimpinan DPRD Sumsel?

“Ya, seperti tawaran kursi impor, lampu hias mewah dan aksesoris rumah, namun selalu saya tolak karena ada iming-iming ‘ada jatah untuk bapak’. Bahkan AC yang saya gunakan tidak pernah diganti, dan tempat tidur tetap menggunakan yang lama,” ujar politisi Partai Demokrat itu.

Selama menjabat sebagai pimpinan legislatif, Chairul secara konsisten menutup rapat pintu bagi praktik-praktik koruptif yang lazim terjadi di lingkungan birokrasi, mulai dari dana “ketok palu” hingga komisi proyek pengadaan barang dan jasa.

Chairul juga blak-blakan mengenai besarnya anggaran operasional pimpinan. Ia mengungkapkan bahwa uang makan pimpinan bisa mencapai Rp60 juta per bulan, bahkan untuk jabatan Ketua DPRD Sumsel bisa menyentuh angka Rp90 juta. Namun, fasilitas mewah itu kembali ia tolak.

“Selama menjadi pimpinan, hampir setiap hari saya melaksanakan tugas DL (dinas luar), sudah mendapat uang saku, jadi untuk apa lagi jatah uang makan pimpinan, jadi saya putuskan untuk tidak diambil,” katanya.

Tak hanya itu, Chairul juga diketahui menolak berbagai tawaran proyek dari Sekretariat Dewan (Sekwan) yang disodorkan melalui Ramadan S Basyeban. Proyek-proyek seperti rehabilitasi gedung hingga pengadaan barang ia hindari demi menjaga diri dari jeratan uang suap dan gratifikasi.

​”Ada potensi gratifikasi di sana, karena ada uang suapnya, saya tidak mau ambil risiko itu,” tegas suami dari Hj Anisah Mardin itu.

Hubungan antara Chairul S. Matdiah dan Alex Noerdin dapat digambarkan sebagai simbiosis profesional yang unik. Sebagai pimpinan DPRD, Chairul melapor langsung kepada Alex Noerdin mengenai sikapnya yang tidak pernah mengambil uang “ketok palu” atau jatah proyek.

Mendengar laporan dari Chairul yang memilih hidup lurus dan menolak segala bentuk “jatah” yang biasanya menjadi jatah pimpinan dewan, Alex Noerdin sempat mengungkapkan keterkejutannya. Namun, keterkejutan itu berubah menjadi rasa hormat yang mendalam.

​”Jujur, awalnya saya kaget mendengar dia (Chairul) tidak mengambil itu semua. Di dunia politik saat ini, sikap seperti itu sangat langka. Tapi akhirnya, saya merasa sangat bangga. Ia membuktikan bahwa jabatan bisa dijalankan tanpa harus mengotori tangan dengan uang haram. Persahabatan kami tetap terjaga karena landasan integritas ini,” ujar Alex Noerdin, saat itu.

Hasil dari keteguhan prinsip ini bukan hanya “tangan yang bersih” dari korupsi, melainkan juga persahabatan yang semakin solid. Alex Noerdin secara terbuka menyatakan kebanggaannya terhadap sikap Chairul. Bagi Alex, memiliki rekan pimpinan yang jujur adalah aset yang jauh lebih berharga daripada sekadar kestabilan politik semata.

​Kisah ini menjadi pengingat bagi publik Sumatera Selatan bahwa di dalam gedung parlemen yang megah, masih ada sosok yang memilih untuk tetap duduk di kursi lama dengan AC yang tak diganti, asalkan hatinya tetap tenang dan namanya tetap bersih dari noda suap.

Chairul S Matdiah menjadi pengingat bahwa integritas bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan kursi impor atau persentase proyek, melainkan sebuah komitmen yang dijaga di balik pintu-pintu kantor pemerintahan yang tertutup. (Js)