FAKTA – Di antara deru kendaraan yang keluar masuk SPBU Pendem Kota Batu, ada satu sosok yang sudah jadi “ikon” tak tertulis selama lebih dari tiga dekade. Namanya Tohari. Usia 90 tahun.
Setiap jam 10 pagi beliau datang dengan sepeda motor yang sudah dimodifikasi jadi roda tiga. Di bak depannya tertata rapi botol-botol susu segar dari KOP SAE Pujon. Ada empat warna, empat rasa: hijau melon, pink strawberry, coklat, dan putih vanila. Di atasnya es batu, biar dinginnya tetap terjaga sampai botol terakhir laku.
“Harga botol kecil 10 ribu, yang besar 15 ribu,” katanya sambil mengangkat dua botol ke kamera Majalah Fakta, Minggu 2/8/2026. Suaranya pelan, tapi tangannya mantap.
Pak Tohari tinggal di Beji, Krajan RT 03/RW 01 Kota Batu. Sudah 35 tahun lebih beliau menekuni profesi yang sama: keliling jualan susu. Dari muda sampai rambutnya memutih, dari jalan kaki mendorong gerobak akhirnya pakai motor roda tiga.
Hari biasa, beliau bisa menghabiskan 150 sampai 200 botol. Kalau weekend atau musim liburan, angka itu naik jadi 300 botol lebih. Pelanggan datang silih berganti. Ada yang sengaja mampir, ada juga yang sudah hafal jam mangkalnya di pom bensin.
Di balik botol susu itu ada cerita rumah. Pak Tohari adalah ayah dari 3 anak dan kakek dari 1 cucu. Bagi beliau, jualan bukan sekadar mencari nafkah. Ini tentang tetap berguna, tetap bergerak, tetap memberi.
Usia 90 tahun biasanya waktunya istirahat di teras rumah. Tapi Pak Tohari memilih cara lain. Beliau memilih untuk tetap berkeringat di bawah matahari Batu, tetap menyapa pembeli, tetap mendorong roda tiganya pelan-pelan.
“Selama masih kuat, jalan terus,” begitu kira-kira pesan yang beliau bawa tanpa diucapkan.
Di zaman yang serba cepat, ketemu orang seperti Pak Tohari rasanya seperti diingatkan: bahwa rezeki datang dari usaha yang konsisten. Bahwa semangat tidak diukur dari umur di KTP. Bahwa sebotol susu segar dingin, bisa jadi bukti kalau hidup itu harus terus diperjuangkan.
Kalau kamu ke Kota Batu dan mampir di SPBU Pendem, cari gerobak biru-merah bertuliskan “Susu Sapi”. Di sana kamu akan ketemu seorang kakek 90 tahun yang dagangannya bukan cuma susu. Tapi juga teladan. (Mud)






