banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

banner 728x250

Presiden Jokowi Diminta Segera Turunkan Harga BBM

606 views


Ketua DPD Pro Jokowi Projo Provinsi Jawa Tengah, Sugeng Setyadi, bersama pengurus ormas Projo se-Solo Raya menunjukkan surat terbuka yang akan dikirim ke Presiden Jokowi
Ketua DPD Pro Jokowi Projo Provinsi Jawa Tengah, Sugeng Setyadi, bersama pengurus ormas Projo se-Solo Raya menunjukkan surat terbuka yang akan dikirim ke Presiden Jokowi

ORMAS Pro Jokowi (Projo) se-Solo Raya mendesak pemerintah menurunkan harga jual bahan bakar minyak (BBM). Hal itu seiring dengan turunnya harga minyak mentah dunia serta penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

Pernyataan itu disampaikan elemen Projo se-Solo Raya bersama DPD Projo Jawa Tengah (Jateng) di sebuah restoran di wilayah Laweyan, Kamis (10/3). Ketua DPD Projo Provinsi Jawa Tengah, Sugeng Setyadi,  menyatakan bakal mengirim surat terbuka pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Komisi VII DPR agar segera menurunkan harga BBM.

Menurut Sugeng, harga keekonomian BBM seperti premium saat ini sudah terlampau tinggi. Seusai kebijakan penurunan harga BBM awal Januari lalu, harga premium berada di angka Rp 7.050,- per liter dari sebelumnya Rp 7.300,- per liter.

“Melihat harga minyak dunia yang kini di kisaran US $ 40 per barel, BBM bersubsidi mestinya bisa berada di kisaran Rp 5.500,- per liter. Apalagi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika kini menguat dan berada di bawah Rp 13.500,” urainya.

Pertimbangan Matang

Menurut Sugeng, desakan penurunan harga BBM tersebut sudah melalui pertimbangan matang dengan melihat tren harga minyak global. Pihaknya menilai Presiden Jokowi bakal mengambil keputusan bijaksana untuk kepentingan rakyat. “Penurunan harga BBM harapannya dapat diikuti turunnya harga kebutuhan sehari-hari dan ongkos transportasi yang akan sangat membantu rakyat dalam mengurangi beban ekonomi yang ditanggungnya,” kata Sugeng.

Sedangkan Ketua DPC Projo Kabupaten Boyolali, Nurbiantoro Sastro, memertanyakan selisih harga BBM yang harus dibayar konsumen dengan kondisi harga minyak dunia sekarang.

Menurut Nurbiantoro, selisihnya yang bisa mencapai Rp 1.000,- lebih per liter ini mestinya dapat dimanfaatkan untuk menggenjot pembangunan infrastruktur dan pemerataan ekonomi. “Sekarang kami bertanya, selisih harga tersebut selama ini lari ke mana ?” tukasnya.

Di sisi lain, Nurbiantoro mendesak pemerintah tegas dengan kartel yang membuat harga bahan pangan, barang dan jasa stabil tinggi meski harga BBM turun.

“Tak hanya mengirim surat terbuka, kami akan menghadap DPR untuk membeberkan kondisi riil di lapangan. Kartel dan semacamnya harus dipangkas.”

Dalam surat terbukanya, Projo juga mendesak penurunan tarif dasar listrik. Mereka beralasan harga energi primer untuk pembangkit listrik seperti batu bara, gas dan solar juga mengalami penurunan. (F.894) www.majalahfaktaonline.blogspot.com / www.majalahfaktanew.blogspot.com