Mari Menjaga Lisan Dalam Berbicara

Mari menjaga lisan dalam berbicara. Sebab satu kata bisa melukai hati, tetapi satu kata yang baik juga bisa menjadi jalan bagi lahirnya kedamaian. (Foto : JPI)

FAKTA – Suatu sore, seorang pria duduk sendirian di dalam mobil setelah menerima pesan singkat dari seorang sahabat. Kalimatnya sebenarnya sederhana, tetapi terasa menusuk. Ia hampir membalas dengan kata-kata yang lebih tajam. Tangannya sudah berada di atas layar, tetapi ia berhenti sejenak. Ia menarik napas dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah aku ingin menyelesaikan masalah, atau hanya ingin melampiaskan perasaan?” Akhirnya, ia menghapus kalimat yang sudah ditulisnya dan menggantinya dengan kata-kata yang lebih baik. Saat itu ia sadar, sering kali masalah tidak menjadi besar karena persoalannya, tetapi karena kata-kata yang kita pilih ketika menyampaikannya.

Alhamdulillah, Allah masih memberi kita kesempatan untuk belajar menjaga lisan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam kelembutan dan kemuliaan akhlak.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقُوْلُوْا رَاعِنَا وَقُوْلُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوْا ۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengatakan, ‘Rā‘inā,’ tetapi katakanlah, ‘Unẓurnā,’ dan dengarkanlah. Dan bagi orang-orang kafir azab yang pedih.” (QS. Al-Baqarah: 104)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah melarang kaum Muslimin menggunakan kata “rā‘inā” karena kata tersebut dapat disalahgunakan oleh sebagian orang sebagai bentuk penghinaan dan permainan kata terhadap Nabi ﷺ. Allah kemudian mengajarkan ungkapan lain yang lebih baik dan jelas, yaitu “unẓurnā”. Ini menunjukkan pentingnya memilih kata yang baik dan tidak memberi ruang bagi penghinaan atau kesalahpahaman.

Buya Hamka mengingatkan bahwa adab berbicara merupakan bagian penting dari akhlak seorang mukmin. Kata-kata bukan sekadar bunyi. Di dalamnya ada sikap, penghormatan, dan tanggung jawab. Karena itu, seorang beriman perlu belajar memilih ucapan yang baik, jelas, dan tidak menyakiti.

CERMIN DIRI

Sebelum berbicara, mari kita belajar bertanya: Apakah kata-kata kita benar? Apakah perlu disampaikan? Apakah cara menyampaikannya dapat menjaga perasaan orang lain?

Di rumah, di tempat kerja, di masjid, bahkan di media sosial, mari membiasakan diri memilih kata yang menenangkan daripada memancing pertengkaran. Ketika marah, beri diri kita waktu untuk diam. Ketika berbeda pendapat, sampaikan dengan adab. Ketika menegur, pilihlah kata yang membantu orang berubah, bukan kata yang membuatnya merasa direndahkan.

Mari menjaga lisan dalam berbicara. Sebab satu kata bisa melukai hati, tetapi satu kata yang baik juga bisa menjadi jalan bagi lahirnya kedamaian.

Oleh Ustadz Iwan Muhajirin

Pendiri dan Pengelola Jejak Pemimpin Institute

6 Oktober 2026

Exit mobile version