Sulam Kapalo Samek Padang Pariaman Menembus Brussels, Warisan Perajin Perempuan Dipajang di KBRI Belgia

Sulaman Kapalo Samek karya perajin Pasia Baru, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, kini menempati ruang di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussels. Ketua Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Nita Christanti Azis, menyerahkan Sulaman Kapalo Samek kepada Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Belgia di Kantor KBRI Brussels. (Foto: SS)

Dari tangan perajin Pasia Baru ke kantor diplomatik Indonesia di Belgia, Sulam Kapalo Samek membawa misi lebih besar: memperkenalkan warisan budaya sekaligus membuka jalan bagi UMKM perempuan naik kelas ke pasar global.

Padang Pariaman, majalahfakta.id — Sulaman Kapalo Samek karya perajin Pasia Baru, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, kini menempati ruang di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussels. Karya kriya tradisional itu resmi diserahkan kepada KBRI Brussels sebagai bagian dari koleksi yang dipajang di kantor perwakilan Indonesia untuk Kerajaan Belgia.

Penyerahan dilakukan Ketua Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Nita Christanti Azis, kepada Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Belgia di Kantor KBRI Brussels, Jumat, 2 Oktober 2026.

Kehadiran Sulam Kapalo Samek di Brussels bukan sekadar pemindahan sebuah karya kerajinan dari kampung ke ruang diplomasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas panggung promosi wastra Padang Pariaman sekaligus mempertemukan warisan kriya tradisional dengan jejaring ekonomi kreatif internasional.

Penyerahan itu turut dihadiri Ketua DWP KBRI Brussels Ny. Ismi Andy Rachmianto, desainer nasional Itang Yunaz, Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, serta sejumlah undangan.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia mengapresiasi langkah Padang Pariaman membawa karya perajinnya ke Belgia. Menurut dia, kehadiran produk daerah di KBRI Brussels dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM Indonesia, khususnya produk pemberdayaan perempuan, untuk memperoleh perhatian yang lebih luas.

“Ini adalah peluang yang sangat baik untuk memperkenalkan hasil karya masyarakat, terutama UMKM dan produk pemberdayaan perempuan, agar semakin dikenal dan bisa naik kelas,” ujarnya.

Pesan tersebut menempatkan Sulam Kapalo Samek bukan hanya sebagai benda budaya, tetapi juga sebagai produk ekonomi yang memiliki potensi menembus pasar global.

Bagi daerah seperti Padang Pariaman, tantangan terbesar produk kriya tradisional bukan semata mempertahankan teknik pengerjaan, melainkan memastikan warisan tersebut tetap memiliki nilai ekonomi sehingga generasi berikutnya memiliki alasan untuk meneruskannya.

Dalam konteks itu, ruang pamer KBRI Brussels menjadi lebih dari sekadar tempat memajang karya. Ia dapat berfungsi sebagai etalase diplomasi budaya Indonesia sekaligus pintu awal memperkenalkan produk perajin kepada jaringan yang lebih luas.

Desainer nasional Itang Yunaz melihat Sulam Kapalo Samek memiliki keunggulan yang melampaui aspek estetika. Menurut dia, sulaman tersebut menyimpan sejarah dan koneksi budaya yang menarik untuk dikembangkan dalam hubungan Indonesia-Belgia.

Ia menilai membawa Sulam Kapalo Samek ke Belgia bukan sekadar memperkenalkan produk kriya, tetapi juga membuka kembali jejak sejarah perkembangan teknik menyulam di Sumatera Barat.

“Ini bukan sekadar membawa sulaman, tetapi ada koneksi sejarah antara Belgia dan sulam-sulam ini. Ke depan, koneksi ini bisa dikembangkan, bahkan menjadi sister city,” kata Itang.

Pernyataan tersebut membuka kemungkinan pengembangan hubungan budaya yang lebih luas. Kerja sama tidak berhenti pada promosi produk, tetapi dapat bergerak menuju pertukaran pengetahuan, pengembangan desain, pendidikan kriya, hingga jejaring kota dan komunitas kreatif.

Potensi itu menjadi semakin relevan ketika produk tradisional tidak lagi ditempatkan semata sebagai benda koleksi, melainkan sebagai bagian dari industri kreatif yang menghubungkan sejarah, desain, pariwisata, perdagangan, dan pemberdayaan masyarakat.

Itang juga memberikan apresiasi terhadap gagasan Ketua Dekranasda Padang Pariaman Ny. Nita Christanti Azis dalam mengembangkan ekosistem kerajinan berbasis masyarakat.

Menurut dia, gagasan membangun kampung mandiri berbasis embroidery atau sulaman dapat menjadi fondasi penting untuk memastikan kerajinan tradisional memiliki masa depan ekonomi.

“Semangat Ibu Nita membangun kampung mandiri berbasis embroidery ini sangat luar biasa. Ini yang harus terus didorong agar sulaman tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga memiliki masa depan ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Konsep tersebut menjadi penting karena keberlanjutan kerajinan tradisional sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistemnya. Perajin membutuhkan pasar, generasi muda membutuhkan ruang belajar, sementara produk membutuhkan inovasi agar mampu mengikuti selera konsumen tanpa kehilangan karakter tradisionalnya.

Sulam Kapalo Samek merupakan salah satu kekayaan kriya khas Padang Pariaman yang dikerjakan dengan ketelitian dan keterampilan tinggi. Motif, teknik, dan proses pengerjaannya menjadikannya bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Di sisi lain, keterampilan tersebut menyimpan potensi ekonomi apabila dikembangkan melalui desain, kurasi produk, penguatan merek, pemasaran digital, dan perluasan akses pasar.

Momentum penyerahan Sulam Kapalo Samek semakin kuat karena berlangsung bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Batik. Jajaran KBRI Brussels mengenakan batik sebagai bentuk kebanggaan terhadap warisan budaya Indonesia.

Di tengah atmosfer diplomasi budaya tersebut, kehadiran Sulam Kapalo Samek memperlihatkan bahwa kekayaan tekstil tradisional Indonesia tidak berhenti pada batik.

Sumatera Barat memiliki beragam tradisi tekstil dan kriya yang tumbuh dari pengetahuan masyarakat dan diwariskan lintas generasi. Sulam Kapalo Samek menjadi salah satu di antaranya. Kini karya tersebut berada ribuan kilometer dari Pasia Baru.

Namun, perjalanan Sulam Kapalo Samek ke Brussels membawa pesan yang lebih panjang daripada sekadar promosi sebuah produk. Di dalam setiap sulaman terdapat kerja tangan para perajin, terutama perempuan, sejarah kebudayaan daerah, dan harapan agar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak berhenti sebagai artefak.

Dari Padang Pariaman ke Brussels, Sulam Kapalo Samek kini memasuki ruang baru: diplomasi budaya dan ekonomi kreatif global.

Jika jejaring itu berhasil dikembangkan, sulaman yang lahir dari tangan perajin kampung bukan tidak mungkin berubah menjadi pintu masuk bagi produk UMKM Padang Pariaman lainnya untuk dikenal lebih luas di dunia. (SS)