Catatan:
Yousri Nur Raja Agam *)
Motto TNI (Tentara Nasional Indonesia) tertancap di bumi Indonesia. Bahwa, TNI lahir dari dan untuk rakyat Indonesia. Ini tidak boleh diabaikan, apalagi dilupakan.
Tanggal 5 Oktober, setiap tahun, diperingati sebagai hari lahir TNI. Dulu, di awal kemerdekaan, sampai tahun 1960-an, tanggal 5 Oktober disebut: “Hari Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) — singkatnya Hari Angkatan Perang”.
Memang, suasana dan situasi serta kondisi keamanan di negara kita waktu itu, masih terbawa oleh semangat “perang” perjuangan kemerdekaan. Situasi politik di tanah air belum stabil. Pengaruh masa penjajahan Belanda dan Jepang, belum sepenuhnya reda.
Suasana perang masih tersisa. Di samping terhadap bekas penjajah, juga perpecahan akibat RIS (Republik Indonesia Serikat). Negara kita sempat terpecah belah dengan negara-negara bagian. Ini adalah upaya Belanda memecah persatuan. Padahal kita sudah sepakat NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sampai-sampai NKRI tidak bisa ditawar. Istilahnya “Harga Mati”.
Bangsa Indonesia, masih untung, sebab setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, para pejuang segera bersatu dan berhimpun dalam organisasi BKR (Badan Keamanan Rakyat). Umumnya mereka berasal dari Pasukan PETA (Pembela Tanah Air) dan Heiho (Heiho Tokubetsu Giyugun), yaitu pasukan sukarelawan pembantu prajurit Jepang. Ditambah laskar-laskar pejuang dan sukarelawan demi Bangsa Indonesia.
Jepang mendirikan dan melatih pemuda Indonesia menjadi laskar atau tentara menghadapi pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II (PD II). Namun sejarah berubah, Jepang kalah pada PD II. Jepang menyerah kalah akibat Sekutu-Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Kota Hirosima dan Nagasaki, 14 Agustus 1945.
Para pejuang dan pemimpin Bangsa Indonesia, waktu itu, memanfaatkan kekalahan Jepang itu, dengan memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia, di Jskarta, tanggal 17 Agustus 1945. Oleh Sukarno-Hatta, atas nama Bangsa Indonesia.
Nah, berikutnya para pemimpin bangsa dengan segera menyusun tatalaksana pemerintahan. Menyusun struktur lembaga pemerintahan, termasuk menyiap “Badan Pertahanan Negara”. Saat itu para pejuang pembela kemerdekaan mendirikan BKR (Badan Keamanan Rakyat).
Tanggal 5 Oktober 1945, BKR diubah namanya menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Inilah organisasi tentara sebagai angkatan perang pertama yang dibentuk Pemerintah Indonesia, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Secara resmi TKR dibentuk pada tanggal 5 Oktober 1945 berdasarkan maklumat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dinyatakan, TKR dibentuk dari hasil peningkatan fungsi BKR yang sudah ada sebelumnya. Tentara intinya diambil dari bekas KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan PETA.
TKR terdiri dari TKR Darat, TKR Laut dan TKR Jawatan Penerbangan. Semua itu, berasal dari perubahan BKR Darat, BKR Laut dan BKR udara.
Sekaligus dari hasil konferensi TKR, terpilih Kolonel Soedirman sebagai Pimpinan Tertinggi TKR. Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 18 Desember 1945 mengangkat resmi Kolonel Soedirman menjadi Panglima Besar TKR.
Pemerintah Indonesia tanggal 7 Januari 1946 berdasarkan PP (Penetapan Pemerintah) No.2/SD 1946, mengubah “kepanjangan” nama TKR Tentara “Keamanan” Rakyat menjadi Tentara “Keselamatan” Rakyat.
Kementerian Keamanan
Nama Kementerian Keamanan Rakyat diubah namanya menjadi Kementerian Pertahanan.
Markas Tertinggi TKR mengeluarkan pengumuman bahwa mulai tanggal 8 Januari 1946, nama Tentara Keamanan Rakyat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat.
Kementerian Pertahanan, terus berbenah diri untuk menyempurnakan organisasi tentara Indonesia sesuai standar militer internasional. Sehingga, pada tanggal 26 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan maklumat tentang penggantian nama Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Maklumat ini dikeluarkan melalui Penetapan Pemerintah No.4/SD Tahun 1946.
Pemerintah terus melaksanakan penyempurnaan dengan membentuk suatu panita yang disebut Panitia Besar Penyelenggaraan Organisasi Tentara. Dalam kepanitiaan itu ditunjuk Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dan Komodor Suryadarma.
Tanggal 17 Mei 1946 panitia mengumumkan hasil kerjanya, berupa rancangan dan bentuk Kementerian Pertahanan dan Ketentaraan. Berikut penataan kekuatan dan organisasi, peralihan TKR ke TRI dan kedudukan laskar-laskar dan barisan-barisan serta badan perjuangan rakyat.
Presiden Soekarno pada tanggal 25 Mei 1946, melantik para pejabat Markas Besar Umum dan Kementerian Pertahanan. Pada upacara pelantikan tersebut Panglima Besar Jenderal Soedirman mengucapkan sumpah anggota pimpinan tentara mewakili semua yang dilantik.
Tentara Nasional Indonesia
Penyempurnaan terus dilakukan Pemerintah Indonesia pada waktu itu. Banyaknya laskar dan badan perjuangan rakyat, kurang menguntungkan bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sering terjadi kesalahpahaman antara TRI dengan badan perjuangan rakyat itu.
Untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman tersebut pemerintah berusaha untuk menyatukan TRI dengan badan perjuangan yang lain. Pada tanggal 15 Mei 1947 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan penetapan tentang penyatuan TRI dengan badan dan laskar perjuangan menjadi satu organisasi tentara.
Pada tanggal 3 Juni 1947 Presiden Soekarno meresmikan penyatuan TRI dengan laskar-laskar perjuangan menjadi satu wadah tentara nasional dengan nama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Presiden juga menetapkan susunan tertinggi TNI.
Panglima Besar Angkatan Perang Jenderal Soerdiman diangkat sebagai Kepala Pucuk Pimpinan TNI dengan anggotanya adalah Letnan Jenderal Oerip Sumohardjo, Laksamana Muda Nazir, Komodor Suryadarma, Jenderal Mayor Sutomo, Jenderal Mayor Ir. Sakirman, dan Jenderal Mayor Jokosuyono.
Pada ketetapan Presiden itu juga dinyatakan bahwa semua satuan Angkatan Perang dan satuan laskar yang menjelma menjadi TNI, diwajibkan untuk taat dan tunduk kepada segala perintah dari instruksi yang dikeluarkan oleh Pucuk Pimpinan TNI.
Panglima pertama
Ada yang unik dalam kepemimpinan TNI. Sejak pertama kali ditetapkan pimpinan tertinggi TNI, mulai TKR dan TRI, serta TNI belum pernah ada sosok Panglima TNI. Ternyata, sejak awal bulan November 1945, TKR belum pernah memiliki pimpinan tertinggi. Sebab, Suprijadi tidak pernah muncul untuk menduduki jabatannya.
Untuk memilih pimpinan tertinggi, TKR (waktu itu) diselenggarakan konferensi pada tanggal 12 November 1945 di Jogjakarta. Di bawah pimpinan Kepala Staf Umum TKR, dilakukan pemilihan Pimpinan Tertinggi TKR. Hadir pada konferensi itu adalah para panglima divisi dan komandan resimen. Juga hadir Paku Buwono XII, Hamengku Buwono IX, Mangkunegoro VIII dan Paku Alam VIII.
Pada konferensi itu terpilih Panglima Divisi V Komandeman Jawa Tengah, Kolonel Soedirman sebagai Pemimpin Tertinggi TKR. Pada tanggal 18 Desember 1945, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengesahkan pengangkatan Soedirman menjadi Panglima Besar TKR dengan pangkat Jenderal.
Maka dalam sejarah TNI, tercatat secara resmi, sebagai Panglima Besar TKR atau TNI pertama adalah Jenderal Soedirman.
Nah, dari rangkaian peristiwa sejarah itu, maka selanjutnya TNI berkembang terus. Tidak hanya berada di puncak pemerintahan di ibukota negara, tetapi di seluruh bumi Indonesia. Setiap jengkal tanah, bentangan laut dan samudera, serta cakrawala udara di langit Nusantara.
Kordinasi berjenjang dalam tubuh organisasi TNI, merupakan contoh yang terbantahkan. Struktur organisasinya dari tingkat pusat berada di bawah satu kendali dan satu komando yang tidak tergoyahkan. Demikian sekilas pintas sejarah dan perkembangan TNI. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk.rakyat, Bangsa Indonesia.
Dirgahayu TNI. Selamat HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia, 5 Oktober 1945 – 2026. (Y)
*) Yousri Nur Raja Agam — Pemimpin Redaksi
Majalah FAKTA dan majalahfakta.id






