FAKTA – Upaya penanganan sampah organik di Kota Denpasar terus melakukan pergerakan ekonomi sirkular. Di Desa Serangan, Komunitas Angen bersama PT Bali Turtle Island Development (BTID) menghadirkan inovasi pengolahan limbah organik menjadi produk bernilai guna melalui pembuatan Eco-Enzyme, sebuah cairan multifungsi ramah lingkungan. Program yang berjalan sejak akhir Desember 2025 ini memanfaatkan limbah buah-buahan dari aktivitas warung kuliner serta sisa sarana upakara yang diolah melalui proses fermentasi menjadi cairan pembersih alami, pupuk organik, hingga agen penjernih air.
Pembina Komunitas Angen, I Wayan Patut, menjelaskan bahwa proses produksi Eco-Enzyme membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, dimulai dari pengumpulan bahan baku, pencacahan, hingga fermentasi menggunakan wadah galon bekas. Seluruh proses menggunakan bahan organik tanpa campuran kimia dan sengaja ditambahkan bunga lokal seperti kenanga dan kantil agar aroma hasil fermentasi tetap segar. Selain menghasilkan produk utama, inovasi ini meminimalkan limbah sisa karena ampas hasil fermentasi dimanfaatkan kembali sebagai bahan kompos dan pupuk padat alami yang bahkan mampu membantu mengurangi gangguan lalat di lingkungan sekitar.
“Seluruh proses menggunakan bahan organik tanpa campuran kimia. Kami juga menambahkan bunga lokal seperti kenanga dan kantil agar aroma hasil fermentasi tetap segar. Kesadaran itu harus dimulai dari rumah tangga. Tidak semua sampah harus dibuang, sebagian bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tegas I Wayan Patut saat ditemui di fasilitas workshop kawasan Kura-Kura Bali, Selasa (31/3/2026).
Inisiatif ini pun mulai mendatangkan nilai ekonomi nyata bagi komunitas, di mana produk Eco-Enzyme dipasarkan dengan harga mulai dari Rp15.000 hingga Rp35.000 untuk kemasan botol kecil, sementara untuk kemasan satu liter dibanderol dengan harga antara Rp50.000 hingga Rp75.000 tergantung pada tingkat kepekatan aromanya.
I Wayan Patut menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pengelola kawasan Kura-Kura Bali yang memberikan ruang bagi komunitas untuk berkembang dan memasarkan hasil produksinya dalam berbagai kegiatan.
Sementara itu, Kepala Departemen BTID, Zefri Alfaruqy, menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong keterlibatan komunitas lokal dalam kegiatan yang berdampak positif terhadap lingkungan. Ia ingin memastikan komunitas memiliki ruang untuk berinovasi karena kegiatan seperti ini tidak hanya menjaga kebersihan kawasan, tetapi juga memberi nilai tambah secara ekonomi bagi warga sekitar.
“Kami ingin memastikan komunitas memiliki ruang untuk berinovasi. Kegiatan seperti ini tidak hanya menjaga kebersihan kawasan, tetapi juga memberi nilai tambah secara ekonomi,” ujar Zefri Alfaruqy dalam keterangannya.
Saat ini, fasilitas workshop Komunitas Angen di kawasan Kura-Kura Bali telah mengelola sekitar 150 galon berkapasitas 15 liter serta satu drum berkapasitas 100 liter. Ke depan, produksi Eco-Enzyme ditargetkan meningkat hingga mencapai 2 hingga 5 ton. Inisiatif ini diharapkan menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas, sekaligus memperkuat upaya pemerintah dalam mengurangi beban sampah organik di perkotaan secara mandiri dan berkelanjutan. (fa)






