Daerah  

Wayang Ngumandang, Asa Baru Pelestarian Budaya di Bawah Nakhoda PEPADI Kota Batu 2026-2030

FAKTA – Gema suara gamelan dan wayang kulit bukan sekadar warisan masa lalu bagi masyarakat Kota Batu. Ia adalah identitas yang tengah diperjuangkan untuk tetap relevan di tengah gempuran modernitas. Semangat ini membuncah dalam prosesi pengukuhan dan pelantikan Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kota Batu masa bakti 2026-2030 yang digelar megah di Batu Love Garden (Baloga), Kamis (12/2/2026).

Dibawah tema “Wayang Ngumandang Adeking Budoyo Luhur”, pelantikan yang dipimpin langsung oleh Ketua PEPADI Jawa Timur, Ki Sinarto, ini menjadi momentum krusial bagi kebangkitan seni tradisi di Kota Wisata ini.

Hadir mewakili suara rakyat, Anggota DPRD Kota Batu, Sampurno, memberikan apresiasi mendalam atas terbentuknya formasi baru PEPADI. Meski nakhoda organisasi kembali dipercayakan kepada Ki Eko Saputro, Sampurno berharap ada akselerasi luar biasa dalam periode kedua ini.

“Wayang itu adalah tontonan sekaligus tuntunan. Di dalamnya melekat etika, tatanan bahasa, dan filosofi kepemimpinan yang luar biasa,” ujar Sampurno yang akrab disapa Babe.

Babe Sampurno menekankan bahwa menjadi dalang bukanlah perkara mudah, Dalang adalah sosok intelektual yang harus menguasai sastra Sanskerta, bahasa Kromo Inggil dan bahasa Sansekerta hingga harmoni karawitan. “Orang luar negeri saja belajar mati-matian, kita sebagai orang Jawa wajib hukumnya untuk nguri-uri (melestarikan). Saya ingin anak-anak kita tidak hanya tahu nama, tapi betul-betul mencintai jiwanya budaya,” tambahnya dengan optimis.

Salah satu poin krusial yang mengemuka dalam pelantikan ini adalah tantangan regenerasi. Menyikapi hal tersebut, Ketua PEPADI Kota Batu terpilih, Ki Eko Saputro, telah menyiapkan peta jalan strategis. Jika lima tahun pertama adalah masa transisi “merangkak” dari nol, maka periode 2026-2030 adalah masa untuk “berlari”.

“Harapan kami di periode kedua ini, sinergi dengan pemangku kebijakan akan lebih kuat. Kami sudah punya jaringan, komunikasi dengan Pak Wali Kota juga sangat baik,” ungkap Ketua PEPADI Ki Eko.

Program unggulan yang siap digulirkan pada tahun 2026 adalah Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi guru seni budaya dan bahasa Jawa di tingkat SD hingga SMA.

“Hambatan selama ini adalah kurangnya SDM Guru yang mampu mengajar karawitan. Maka, kami akan membekali para Guru agar mereka bisa menularkan ilmu menabuh gamelan, nembang, hingga pengenalan tokoh wayang kepada siswa secara metodis,” jelasnya.

Senada dengan visi tersebut, Pemerintah Kota Batu melalui Kepala Dinas Pariwisata, Onny Ardianto, yang membacakan sambutan Wali Kota Nurochman, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung visi MBATU SAE.

Pemerintah berencana memberikan ruang ekspresi yang lebih luas bagi para seniman dalam kalender pariwisata daerah. Bahkan, pihak legislatif terus mendorong realisasi SMK Kesenian sebagai wadah formal untuk mencetak bibit-bibit seniman profesional yang tersertifikasi.

“Peralatan wayang dan gamelan memang tidak murah, tapi itu bukan hambatan jika pemerintah daerah punya program dan DPR mendukung penuh. Kita juga butuh Guru yang profesional untuk mengembangkan ini di sekolah-sekolah,” tegas Sampurno menutup dukungannya.

Pelantikan ini juga menandai penyegaran internal PEPADI dengan masuknya tenaga muda yang energik untuk menggantikan pengurus yang sudah sepuh. Dengan formasi yang lebih “segar”, PEPADI Kota Batu optimis dapat mengembalikan marwah budaya luhur ke tengah masyarakat.

Melalui kompetisi rutin pada Hari Wayang Nasional dan Hari Gamelan, PEPADI berkomitmen untuk terus memicu greget generasi muda. Kini, jalan panjang pelestarian itu telah memiliki peta yang jelas, yakni menjadikan wayang bukan sekadar pajangan museum, melainkan napas kehidupan masyarakat Kota Batu. (F.1015)