Warga Serahkan Oknum Guru SMKN 1 Palembang ke Polisi, Diduga Terlibat Penipuan hingga Ratusan Juta

Inisial Fy terduga pelaku penipuan. (Foto : ito/majalahfakta.id)

FAKTA — Seorang oknum guru di SMKN 1 Palembang berinisial FY diserahkan oleh sejumlah warga ke Polrestabes Palembang pada Sabtu (4/4/2026).

Penyerahan tersebut dilakukan oleh masyarakat yang mengaku sebagai korban dugaan penipuan berkedok bisnis penukaran uang receh.

Berdasarkan keterangan para korban, FY diduga menjalankan praktik penipuan dengan modus menawarkan kerja sama bisnis penukaran uang pecahan kecil. Para korban mengaku mengalami kerugian dalam jumlah besar, bahkan disebut mencapai miliaran rupiah.

“Kami menyerahkan yang bersangkutan kepada pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ujar salah satu korban kepada awak media.

Salah seorang wali murid, Agus Purnomo (55), mengaku turut menjadi korban dalam kasus ini. Ia menyebut telah memberikan modal usaha kepada FY untuk bisnis penukaran uang receh, namun hingga kini tidak mendapatkan pengembalian sesuai kesepakatan.

Melalui kuasa hukumnya, Conie Pania Putri, Agus telah melaporkan kasus tersebut ke Polda Sumatera Selatan.

“Laporan sudah kami ajukan secara resmi. Saat ini sudah ada empat korban yang melapor, namun diduga jumlah korban sebenarnya lebih banyak,” ujar Conie.

Ia menambahkan, kliennya mengalami kerugian sebesar 40 suku emas atau setara sekitar Rp592 juta. Berdasarkan informasi yang dihimpun, terduga pelaku disebut telah menjalankan aksinya sejak tahun 2018 dengan berbagai modus serupa.

Sementara itu, pihak kepolisian membenarkan telah menerima penyerahan FY dari masyarakat.

“Benar, yang bersangkutan telah diserahkan ke kami dan saat ini sudah ditangani oleh penyidik untuk proses lebih lanjut,” ujar perwakilan kepolisian.

Polisi juga mengungkapkan bahwa FY telah dilaporkan oleh sejumlah korban lainnya melalui jalur hukum, termasuk ke tingkat kepolisian daerah. Hingga kini, proses penyelidikan masih terus berlangsung guna mengungkap keseluruhan kasus serta kemungkinan adanya korban tambahan.