“Saya Tidak Pernah Bercita-cita Memenjarakan Orang !”

Dandeni Herdiana SH, Kasi Penyidikan Kejati Jatim
Dandeni Herdiana SH, Kasi Penyidikan Kejati Jatim

SIANG itu di ruang Kepala Seksi (Kasi) Penyidikan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, suasana tampak sedikit tegang meski hawa ruangan terasa sejuk karena terselimuti hembusan udara dingin air conditioner (AC). Seorang jaksa penyidik tengah menghadap di depan meja Dandeni Herdiana SH, dengan mimik serius. Begitu juga sang Kasi Penyidikan Kejati Jatim. Sesekali Dandeni mengangkat handphonenya, dan berbicara keras pula dengan seseorang di seberang sana.
Dari pembicaraan via HP itu diketahui, Kasi Penyidikan Kejati Jatim, Dandeni Herdiana SH, sedang menegur lawan bicaranya yang rupanya dari LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban). Saat dikonfirmasi Sukariyanto dari FAKTA, Dandeni mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan LPSK dengan mencampuri jadwal pemeriksaan yang sudah ditetapkan penyidik Kejati Jatim, itu sudah masuk ke pelanggaran hukum. Namun akankah tersangka kasus korupsi dana hibah Kadin Jatim bertambah dari pihak LPSK, untuk kemudian ditangkap dan ditahan ?
“Saya tidak pernah bercita-cita memasukkan orang ke penjara,” ucap alumni Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, angkatan tahun 1993 yang berpostur tinggi tegap ini.
Namun, lanjutnya, kalau sudah masuk ke ranah hukum, terjerat pasal hingga terbukti di pengadilan, terus mau bagaimana lagi ? Dilemanya bagi Deni adalah ketika dihadapkan pada suatu kasus yang justru malah membuat bentrok dengan hati nurani. Di satu sisi ia ingin membantu masyarakat yang sedang menghadapi perkaranya, tapi di sisi lain terbentur oleh aturan hukum yang ada. “Paling melegakan kalau bisa berbuat sesuatu untuk membantu masyarakat di dalam mencari keadilan,” katanya dengan senyum.
Kasus korupsi dana hibah Kadin Jatim menjadi sangat mengesankan bagi seorang Dandeni Herdiana, SH, dari sekian banyak kasus yang telah ia tangani. “Walaupun secara nilai tidak begitu besar akan tetapi banyak berpengaruh, banyak sekali lingkaran hukumnya, yang di satu sisi memberikan banyak ilmu dan pengalaman untuk saya khususnya pribadi. Jadi, bagaimana proses hukum atau pengusutan untuk perkara tindak pidana korupsi itu ? Di situ ternyata banyak lingkaran hukumnya,” tutur bapak dari dua anak yang mencintai pekerjaan dan karirnya, utamanya di instansi penegak hukum, kejaksaan, ini.
“Saya memang mencintai kejaksaan. Saya masuk kejaksaan murni dengan hasil tes tanpa disertai apa pun, yang istilahnya dengan sebutan apa dan pakai tanda kutip-tanda kutip segala macam itu,” terangnya.
Dan, di instansi kejaksaan, pria kelahiran Garut, Jawa Barat, empat puluh dua tahun silam ini menapaki jenjang karirnya dengan mulus. Setiap jenjang karirnya dilalui dengan hanya “sekali langkah” dan tanpa cela.
Dimulai dengan menjadi Staf Penyidikan Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Bandung dari tahun 2000 sampai 2003. Lalu, menjadi Jaksa Fungsional pada Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Bandung dari tahun 2003 sampai 2005. Tahun itu pula Dandeni Herdiana SH mulai memikul jabatan sebagai Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Penyidikan Pidana Khusus di Kejaksaan Negeri Dumai – Riau, hingga tahun 2006. Lanjut dengan jabatan yang sama, sebagai Kasubsi Prodsarin Seksi Intelijen di Kejaksaan Negeri Bale Bandung, dari tahun 2006 sampai 2009.
Di tahun 2009, suami tercinta dari Ny Irma Soraya Ishak, ini kembali ditugaskan di luar Jawa, yakni di Kejaksaan Negeri Stabat, Sumatera Utara, sebagai Kepala Seksi Pidana Umum, hingga tahun 2012. Pada tahun yang sama, Dandeni Herdiana SH mendapat tugas sebagai Kepala Seksi Intelijen di Kejaksaan Negeri Purwakarta, Jawa Barat, selama dua tahun. Dan pada tahun 2014 itulah ia mulai ‘menyapa’ Jawa Timur, dengan menjadi Kepala Seksi Penuntutan Pidana Khusus di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Hanya setahun kemudian, pria yang masuk Tiga Besar Lulusan Terbaik PPJ (Pendidikan Pembentukan Jaksa) 2003 ini kemudian dilantik sebagai Kepala Seksi Penyidikan Pidana Khusus di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, hingga sekarang.
Dandeni Herdiana SH (kanan) saat diwawancara Sukariyanto dari FAKTA
Dandeni Herdiana SH (kanan) saat diwawancara Sukariyanto dari FAKTA

Saking cintanya dengan kejaksaan, Dandeni Herdiana SH acap kali menolak bila diusulkan untuk masuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). “Saya setiap tahun selalu diusulkan untuk direkrut KPK, tapi saya selalu juga menolak. Karena saya berkeinginan, kalaupun saya dianggap punya kemampuan, saya ingin kemampuan saya itu digunakan untuk membangun kejaksaan menjadi lebih baik dan dipercaya oleh masyarakat. Itu saja,” tuturnya.
Namun, karirnya yang cemerlang di instansi kejaksaan, dicapainya bukan tanpa rintangan, cobaan dan tantangan. Menghadapi tugas-tugas yang beresiko ini, berbagai ancaman, teror, baik terhadap dirinya dan keluarganya, sudah sering kali dihadapi. “Ancaman secara fisik sudah banyak kali ya, mulai dari SMS, telepon. Katanya,’anda saya bunuh…!’ ‘anda saya …. inilah’ “keluarga anda saya tahulah…’ ‘saya tahu di mana anak anda…!’ Begitulah, macam-macam ancamannya,” ungkap Deni.
Akan tetapi, teror dan ancaman-ancaman itu sedapat mungkin ia sembunyikan agar tidak diketahui keluarga, baik istri, anak-anak, dan orangtuanya, agar mereka tidak dihantui rasa takut dan khawatir. Sudah barang tentu, Dandeni tidak berdiam diri terhadap teror dan ancaman itu. Di satu sisi ia bertindak dalam koridor kedinasan, dan di sisi lain ia mempersiapkan sebuah perlindungan khusus bagi keluarganya.
Hal itu mengingat dukungan keluarga terhadap karir dan tugasnya, sangat besar dan sangat berarti bagi seorang Dandeni Herdiana SH. Keberhasilannya dalam melaksanakan setiap tugas, dan kecermerlangannya menapaki jenjang karir hingga kini sangat diyakini Deni bahwa semua itu diraihnya berkat doa orangtua dan istri tercinta.
Yang pasti, tegas Dandeni Herdiana SH, setiap melakukan penegakan hukum harus secara profesional. Di luar itu ia melakukan pencegahan-pencegahan dan penerangan supaya masyarakat makin mengerti, dan makin mendorong terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi.
“Intinya, bekerja sebaik mungkin sesuai dengan SOP yang ada dan hati nurani. Bagi saya, setiap bekerja adalah juga beribadah, serta untuk keluarga,” tutur Dandeni Herdiana SH, yang pernah menjadi Kapten Tim Basket Kabupaten Garut dalam Pekan Olah Raga Daerah Jawa Barat (Porda Jabar). (F.491)
www.majalahfaktaonline.blogspot.com / www.majalahfaktanew.blogspot.com