FAKTA – Tekanan urban di Ibu Kota Provinsi Bali telah mencapai level yang mengkhawatirkan dengan rasio jumlah kendaraan yang kini jauh melampaui populasi penduduk. Dalam diskusi publik bertajuk “Kemacetan Kota Denpasar: Tantangan Urban dan Solusi Kolaboratif” yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Gedung Sewaka Dharma pada Kamis pagi (26/2/2026), Dinas Perhubungan Kota Denpasar memaparkan strategi besar untuk meredam kemacetan melalui penguatan transportasi massal. Diskusi strategis ini sekaligus menjadi kado refleksi dalam rangka menyambut HUT ke-238 Kota Denpasar.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar, I Ketut Sriawan, mengungkapkan fakta bahwa 33 persen dari total kendaraan di Pulau Dewata kini menumpuk di jalanan kota ini. Ketimpangan tersebut terlihat sangat ekstrem dari pertumbuhan data setiap tahunnya. Pada tahun 2023 saja, tercatat ada 1.576.187 unit kendaraan yang harus berbagi ruang dengan hanya 700.980 jiwa penduduk. Angka ini terus meroket hingga menembus 1.850.000 unit kendaraan pada tahun 2025 dengan rata-rata pertumbuhan kendaraan mencapai 5 persen per tahun. Fenomena ini kontras dengan kondisi angkutan kota konvensional yang justru menyusut drastis hingga hanya tersisa 30 unit pada tahun 2021.
Menghadapi tantangan tersebut, Dishub Denpasar telah mengidentifikasi sedikitnya 147 titik rawan kepadatan yang meliputi persimpangan jalan, kawasan sekolah, pasar, hingga pusat perbelanjaan. Sebagai langkah taktis jangka pendek, pemerintah berkomitmen menempatkan 76 personel setiap harinya untuk mengatur arus lalu lintas dari pagi hingga sore. Namun, Sriawan menegaskan bahwa kehadiran petugas di lapangan harus diiringi dengan peningkatan prasarana angkutan umum baik darat maupun laut guna mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi yang menjadi pemicu stres di ruang publik.
Salah satu program yang terus dipacu keberhasilannya adalah layanan bus sekolah gratis. Pada tahun 2024, Dishub mengoperasikan 14 bus yang terdiri dari 13 unit aktif dan 1 unit cadangan dengan daya angkut rata-rata 900 penumpang per hari. Memasuki tahun 2025, kekuatan armada ini ditingkatkan menjadi 18 bus yang terdiri dari 15 kendaraan jenis Elf dan 3 bus berukuran sedang, yang mampu melayani hingga 1.200 pelajar setiap harinya. Langkah ini dinilai efektif dalam menekan jumlah kendaraan pribadi di jam-jam sibuk sekolah.
Sebagai bagian dari inovasi ke depan, Dishub Denpasar merencanakan penambahan 12 unit shuttle bus yang akan dioperasikan secara bertahap. Pada setiap tahapnya, akan diterjunkan 6 armada berkapasitas 9 orang yang melayani rute strategis dari Segara Ayu menuju Mertasari. Rencana ambisius ini bertujuan untuk mendukung penguatan wilayah Sanur sebagai daerah rendah emisi.
Melalui transformasi ini, Sriawan juga mendorong integrasi antarmoda dan berharap Kementerian Perhubungan segera memfasilitasi penambahan transportasi laut menuju Sanur sebagai solusi komprehensif mengatasi kemacetan dari berbagai lini. (fa)






