Daerah  

Saat Dana Terbatas, SMAN 17 Palembang Pilih Fokus pada Pendidikan Inti

FAKTA – Di ruang kerjanya, Senin pagi (28/7/2025), Drs. Redi M. Eng menyambut dengan senyum ramah, meski wajahnya menyiratkan kelelahan.

Sebagai Wakil Humas SMAN 17 Palembang, ia tak menutupi kenyataan pahit yang sedang dihadapi sekolahnya.

“Saya mohon maaf dan pengertian dari pihak media,” katanya membuka pembicaraan, “karena saat ini, keuangan sekolah sedang benar-benar sulit.”

Bukan tanpa sebab. Sejak diberlakukannya sistem zonasi yang mencapai 50 persen, wajah SMAN 17 perlahan berubah.

Dulu, sekolah ini banyak dihuni oleh siswa dari luar daerah, bahkan dari luar kota yang rela mondok demi bisa belajar di sekolah favorit ini.

Kini, mayoritas siswa adalah warga sekitar. “Anak mondok sekarang hampir nggak ada lagi. Padahal dulu itu hal biasa,” ujar Redi.

Dengan sistem zonasi, ruang gerak untuk penerimaan siswa dari luar makin terbatas, dan dampaknya pun terasa hingga sisi operasional.

Menurut Redi, kondisi ini membuat pihak sekolah harus memutar otak, termasuk dalam hal kegiatan promosi atau pemberitaan advertorial.

Ia mengaku, banyak agenda sekolah yang sebenarnya layak diberitakan, namun belum bisa difasilitasi lewat kerjasama media karena keterbatasan dana.

“Bukan kami tak ingin berpartisipasi dalam iklan ucapan HUT RI ke-80. Tapi kondisi kami sedang tidak memungkinkan,” jelasnya.

Lebih jauh, Redi menyebut adanya pengawasan ketat dari pemerintah, termasuk Inspektorat, yang hampir setiap bulan datang melakukan pemeriksaan.

“Kami betul-betul diawasi. Tidak bisa asal mengeluarkan dana, semua harus sesuai aturan. Kami tetap ingin transparan dan fokus mendidik siswa sebaik mungkin,” pungkasnya.

Dalam keterbatasan, SMAN 17 Palembang mencoba tetap berdiri tegak. Mereka memilih membesarkan harapan lewat pendidikan, walau tanpa banyak panggung dan sorotan. (Laporan : ito || majalahfakta.id)