Semua  

Rakor PPTI Wilayah Bali Ke-17 Di Badung

Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, saat membuka Rakor PPT Wilayah Bali ke-17 di ruang pertemuan Kriya Gosana, Puspem Kabupaten Badung, Jumat (8/12).
Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, saat membuka Rakor PPT Wilayah Bali ke-17 di ruang pertemuan Kriya Gosana, Puspem Kabupaten Badung, Jumat (8/12).

Suiasa : Penanganan TB Harus Menyeluruh dan Tuntas

Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, saat membuka Rakor PPT Wilayah Bali ke-17 di ruang pertemuan Kriya Gosana, Puspem Kabupaten Badung, Jumat (8/12).
Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, saat membuka Rakor PPT Wilayah Bali ke-17 di ruang pertemuan Kriya Gosana, Puspem Kabupaten Badung, Jumat (8/12).

RAPAT Kordinasi (Rakor) Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Wilayah Bali ke-17 dilaksanakan di ruang pertemuan Kriya Gosana, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung Mangupraja Mandala, Jumat (8/12). Rakor PPTI Bali dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, serta dihadiri Ketua Komisi IV DPRD Badung, A A Bagus Nadi Putra, Kadis Kesehatan Provinsi Bali diwakili dr Gede Wira Sunetra, Ketua Wilayah PPTI Bali, I Gusti Bagus Puspa Negara, serta PPTI Cabang se-Bali.

Dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Badung, Ketut Suiasa, yang juga selaku Ketua PPTI Cabang Badung menyampaikan apresiasi telah memilih Badung sebagai pelaksanaan Rakor PPTI Wilayah Bali. Wabup Suiasa menyambut baik pelaksanaan rakor ini karena penanganan masalah tuberkulosis (TB) merupakan suatu upaya yang harus dilakukan bersama-sama dan secara komprehensif, kolektif dan terintegrasi. “Kita tidak bisa menanganinya secara sepotong-sepotong saja, namun harus menyeluruh dan tuntas,” tegasnya.

Melalui rakor ini Suiasa berharap akan menghasilkan langkah-langkah nyata serta kebijakan yang harus dilakukan baik saat ini maupun untuk di masa yang akan datang. Selain itu sebagai upaya evaluasi kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya.

Ditambahkan, khusus untuk di Kabupaten Badung telah dilakukan upaya-upaya percepatan pemberantasan tuberkulosis, salah satunya dengan menyiapkan tenaga penjangkau TB di seluruh desa yang ada di Badung. Kenapa dilakukan hal ini ? Karena diyakini kasus TB ada dan terjadi di masyarakat, tetapi sebagian besar masyarakat tidak mau melaporkan dirinya termasuk menjaga kesehatannya dengan baik.

“Nanti akan ada petugas kita yang akan melakukan komunikasi, pendekatan termasuk koordinasi bahkan memediasi, memfasilitasi sekaligus mendorong masyarakat kita di Badung untuk mau ditangani kasus TB-nya. Kesehatan di Badung telah dilengkapi sarana prasarana yang memadai, sekarang tinggal mental masyarakat mau atau tidak berobat,” terangnya.

Ketua Wilayah PPTI Cabang Bali, I Gusti Bagus Puspa Negara, mengharapkan dari rakor PPTI ini akan mampu meningkatan koordinasi yang intensif dari seluruh cabang PPTI di wilayah Bali. Diakui bahwa kasus TB di Indonesia menempati urutan kedua di dunia, untuk itu diperlukan upaya nyata untuk menekan penyebaran penyakit TB tersebut. Salah satu upaya yang harus dilaksanakan yaitu dengan menerapkan ketok pintu, dengan slogan “Temukan, Obati Sampai Sembuh (TOSS) TB”.

Puspa Negara juga mengajak seluruh cabang PPTI Bali untuk selalu bekerja dan bekerja serta melakukan terobosan, sehingga ke depan penanganan masalah TB dapat dilakukan secara maksimal.

Sementara Kadis Kesehatan Provinsi Bali yang diwakili Kabid, dr Gede Wira Sunetra, menjelaskan, tuberkulosis masih menjadi masalah global dan nasional. Berdasarkan survei Preparasi TB di Indonesia tahun 2013 dan 2014 diperkirakan ada sebanyak 1,6 juta kasus TB di Indonesia dengan 1 juta kasus baru setiap tahunnya. Tahun 2014 baru tercatat hanya 324 ribu kasus (32%) dari yang diperkirakan ada, jadi masih ada 68% yang belum diketemukan.

Menemukan dan menyembuhkan pasien TB merupakan upaya terbaik dalam upaya penanggulangan dan pencegahan penyakit TB.  Dan tahun 2016, Provinsi Bali diperkirakan ada sebanyak 13.600 kasus TB di sembilan kabupaten/kota di Bali. Namun baru tercatat 3 ribu kasus atau hanya 23% yang dapat ditemukan.

“Sebenarnya berbagai kemajuan telah dicapai dalam penanganan TB, namun tantangan program ke depan tidaklah ringan, karena terdapat kasus TB dengan penyakit penyerta seperti TB HIV, TB Kebal Obat dan TB Anak. Untuk itu komitmen dari berbagai pihak multi sektoral sangat diperlukan untuk mencapai tujuan bersama yaitu bebas TB di tahun 2035,” pungkasnya. (Rilis)