FAKTA – Hari Puncak palebon almarhum I Gusti Ngurah Alit Yudha, putra ketiga dari anak Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai dilaksanakan di Puri Ngurah Rai CarangSari, Petang, Badung Jumat (10/2). Rangkaian upacara mulai dipersiapkan sejak dini hari tadi, Dimulai dari nunas tirta penembak dan diakhiri dengan prosesi ngayut di pantai Matahari Terbit.
Ribuan masyarakat akan memberikan bantuan dalam prosesi hari ini, Bahkan dalam pelebon ini warga dari luar Desa Carangsari pun ikut membantu. Dalam proses penarikanya juga ada prosesi penghormatan terakhir dari Pemuda Panca Marga yang kebetulan almarhum pendirinya, Prosesi ini berupa Apel Persada sebelum layon atau jenazah dinaikan keatas bade.
Prawartaka Karya Ida Bagus Nama Rupa mengatakan, prosesi pelebon ini menggunakan bade tumpang 9 dan naga kaang. Sebab hal ini sesuai dengan tradisi leluhur I Gusti Ngurah Alit Yudha yaitu trah Arya Sentong di Puri Carangsari, Petang, Badung “Bade tumpang sia ini nanti akan menghantarkan jenazah Beliau sampai ke setra. Kemudian saat pembakaran akan menggunakan naga kaang,” tambah Gusde Nama Rupa.
Menurutnya, sebelum layon dinaikkan keatas bade akan dilaksanakan, penghormatan terakhir oleh Pemuda Panca Marga. Kemudian layon disambut oleh Tari Baris Tekok Jago untuk menaikan ke Bade. Selanjutnya bade akan bergerak menuju setra setelah lewat pukul 12.00.
“Pengusung Bade akan dilakukan secara estafet sebanyak empat kali. Karena Badenya sangat berat, nanti sampai di setra juga akan dituntun oleh Baris Tekok Jago sebelum menuju pembakaran,” ungkapnya. Pihaknya juga menjelaskan, setelah prosesi pembakaran layon selesai, akan dilanjutkan dengan nganyut di pantai Matahari Terbit.
Sementara anak ketiga almarhum I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha menerangkan, upacara pelebon ini juga dilaksanakan Apel Persada dari Organisasi Pemuda Panca Marga. Organisasi ini disebutkan sebagai perkumpulan anak pahlawan nasional.
Selain itu, saat pelaksanaan ngaskara juga dilakukan prosesi leladan atau yang lebih di kenal meprani. Prosesi ini diikuti oleh sekitar 200 krama istri dari empat banjar di Desa Carangsari, petang, badung Dalam prosesi ini para ibu-ibu menghaturkan gebogan ke Puri Carangsari. “Setelah itu dilunggsur lagi gebogan itu lalu dibawa ke rumah masing-masing,” jelasnya, sambil menambahkan Persiapan upacara hari ini dilaksanakan selama hampir dua bulan, dimulai dari 12 Desember 2022 – 10 Februari 2023.
Untuk ketinggian sendiri bade, dia menjelaskan antara 19-20 meter. Dalam upacara juga akan diiringi sekaa bale ganjur yang merupakan gabungan dari selurh banjar di Carangsari. Selain itu juga melibatkan seluruh warga di Desa Carangsari, dan lainnya di seluruh Kecamatan Petang. “Semua desa (di Kecamatan Petang) kita libatkan termasuk juga dinluar kabupaten. Yaitu penyandang dari Bangli, itu adalah Desa Catur, Kintamani, yang memiliki kaitan dengan Puri Carangsari. Penyandannya saja total ada 1.800 orang,” imbuhnya (dkf)






