Daerah  

Potret Kemiskinan, Mak Siti Yuliana Janda Miskin Terabaikan Pemerintah Daerah

Janda Siti Yuliana berada di samping rumahnya yang hampir roboh.

FAKTA – Potret kemiskinan atau kemiskinan ekstrem di Kabupaten Lamongan masih harus ditelusur dengan data terkini agar bisa dientaskan dengan program yang sudah dicanangkan Pemerintah.

Agar kisah yang cukup memilukan ini tidak ada lagi di depan mata kita. “Ya, nestapa”, Kata ini seolah menggambarkan kondisi batin Bu Siti Yuliana, janda 55 tahun di Kampung Gg.Podang RT.3/ RW 2, Karangkembang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Di usianya yang menjelang senja, wanita tua ini harus pasrah tinggal di rumah yang tidak layak huni dan “doyong” atau hampir roboh.

Rumah yang sudah puluhan tahun ditempati Mak Siti bersama seorang anaknya yang kini masih bersekolah di salah satu SMK di Babat ini pun nyaris tumbang karena sudah lapuk dan termakan usia. Apalagi material rumahnya terdiri dari bambu, serta dinding yang sudah mulai lapuk.

Nestapa Mak Siti Yuliana ini dituturkan oleh Sugeng, tetangga dekatnya yang juga seorang RW di kampung tersebut pada wartawan Fakta. lewat foto, video dan pemaparan langsung by phone. Perihal banyak bagian bangunan rumah yang sudah lapuk dan berpotensi besar bakal ambruk.

Pada bagian dinding ruang tamu saja, hampir seluruhnya rapuh sehingga isi rumah dapat terlihat jelas dari luar. Begitu pula dinding depan rumah yang sudah mulai bergerak, doyong atau miring.

Bagian atap rumah juga sangat memprihatinkan, dengan beberapa genteng yang mulai berjatuhan ke bawah. Dari luar rumah nampak jelas bagian atap yang condong itu sangat membahayakan rumah di sampingnya jika ambruk.

“Bangunannya masih dari bambu, namun sudah lapuk dan kondisinya sudah miring. Konon kalau hujan juga bocor di mana-mana,” kata pria paruh baya ini.

Masih dari penuturan, Mak Siti tergolong warga miskin, kerjanya hanya serabutan pembantu rumah tangga, itupun hanya “rok-rok asem” (kadang kerja kadang menganggur). Janda yang ditinggal mati suaminya puluhan tahun silam itu ternyata tak pernah mendapat bantuan pemerintah untuk perbaikan rumah melalui program bedah rumah, rutilahu, dll.

Sugeng dan perangkat RT juga sempat beberapa kali mengajukan bantuan kepada pihak pemerintah setempat, namun entah kenapa tak pernah mendapatkan respon yang serius.

Sementara Ketua RT 03 Maslan menyampaikan rasa prihatin terhadap kondisi rumah warganya tersebut. Menurut dia, rumah Mbok Siti ini pernah diperbaiki sukarela atas uluran tangan dan tenaga warga. Namun kini sudah rusak lagi, jadi ia dan perangkat merasa sungkan untuk mengajak warga kembali bergotong royong.

“Benar kata Pak RT, memang warga sangat peduli dan pernah kita perbaiki. Kini kami berharap dengan keselamatan keluarganya dan ingin ibu ini segera memiliki rumah yang layak karena ada bantuan dari pemerintah,” lanjut Sugeng.

Hingga berita ini ditayangkan, Mbok Siti berharap rumahnya bisa secepatnya mendapat perbaikan dari pemerintah meski lewat program apa saja.(ari)