Daerah  

Penanganan Karhutla di Area Konsesi PT HBM Disorot, Diduga Meluas ke Kebun Warga

Masyarakat berjibaku padamkan api. (Foto : Raito/Majalahfakta.id)

FAKTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar areal konsesi PT Hutan Berkah Mulia (HBM) di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, disebut mulai berdampak terhadap kebun milik masyarakat.

Kebakaran dilaporkan terjadi di wilayah Desa Muara Medak dan Desa Merang. Warga mengaku harus berjibaku memadamkan api yang disebut terus meluas, termasuk di sekitar Dusun Pancoran, Desa Merang.

Seorang tokoh masyarakat Desa Muara Medak mengatakan, kondisi di lapangan semakin mengkhawatirkan karena api disebut mulai mendekati bahkan membakar sejumlah lahan masyarakat.

“Warga siang dan malam berusaha memadamkan api karena kebakaran sudah berdampak ke kebun masyarakat,” ujarnya.

Warga juga mempertanyakan kesiapan perusahaan dalam menghadapi kebakaran di areal konsesinya. Menurut informasi yang disampaikan masyarakat, PT HBM yang memiliki areal konsesi sekitar 13.000 hektare disebut hanya mengerahkan sekitar 15 personel dan dua mesin pemadam.

Jumlah tersebut dinilai warga belum sebanding dengan luas wilayah yang harus ditangani, terlebih ketika api mulai bergerak ke lahan masyarakat.

Selain persoalan pemadaman, warga juga mempersoalkan penggunaan jalan yang dibangun secara swadaya masyarakat. Mereka meminta agar akses tersebut tidak lagi digunakan pihak perusahaan serta meminta pos perusahaan yang disebut berdiri di atas lahan masyarakat untuk dipindahkan.

Warga Soroti Kondisi Kanal

Persoalan lain yang ikut disorot masyarakat adalah pembangunan kanal di kawasan konsesi. Kanal tersebut semestinya dapat membantu menjaga ketersediaan air dan kelembapan lahan sehingga kawasan gambut tidak mudah terbakar.

Namun, warga menilai kondisi kanal yang dibangun di wilayah tersebut belum maksimal.

Kanal yang terkesan dibuat asal asalan. (Foto : Raito/Majalahfakta.id)

“Bagaimana mau menahan air dan menjaga kelembapan lahan kalau kondisinya seperti itu,” kata tokoh masyarakat yang meminta namanya tidak dipublikasikan.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada areal konsesi, tetapi juga memberikan perlindungan terhadap lahan dan kebun warga yang berada di sekitar wilayah terdampak.

Sementara itu, upaya memperoleh konfirmasi dari pihak PT HBM telah dilakukan. Direktur PT Hutan Berkah Mulia, Salim Jundan, yang sebelumnya merupakan KPH Lalan Mendis, dihubungi melalui nomor telepon pada Senin (5/10/2026) sekitar pukul 11.40 WIB.

Namun hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan yang diberikan terkait luas lahan yang terbakar, jumlah personel dan peralatan yang dikerahkan, kondisi kanal, maupun dugaan kebakaran yang merembet ke lahan masyarakat.

Konfirmasi tersebut penting untuk memastikan informasi mengenai penanganan kebakaran di wilayah konsesi dari sisi perusahaan.

Sorotan Dana Penanganan Karhutla

Di sisi lain, masyarakat juga mempertanyakan dukungan pemerintah dalam penanganan karhutla di Musi Banyuasin.

Informasi yang diperoleh menyebutkan Kabupaten Musi Banyuasin mendapatkan dukungan anggaran sekitar Rp20 miliar dari pemerintah pusat untuk penanggulangan bencana karhutla.

Besarnya dukungan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai penggunaan dan efektivitas anggaran tersebut, terutama ketika kebakaran di sejumlah wilayah masih terjadi.

Namun, penggunaan anggaran tersebut serta mekanisme penyalurannya perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pemerintah daerah maupun instansi terkait agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.

Kondisi karhutla di Musi Banyuasin kini menjadi perhatian karena dampaknya bukan hanya mengancam kawasan hutan dan lahan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas serta sumber penghidupan masyarakat yang memiliki kebun di sekitar kawasan terdampak. (raito)

Exit mobile version