FAKTA – Data menyebut pasokan naik, tapi dapur warga tetap tak mengepul. Di Lumajang, krisis LPG 3 kilogram justru makin parah ketika angka distribusi disebut melonjak menjadi 1 juta tabung pada 2026. Publik kini bertanya keras: ke mana tambahan 100 ribu tabung itu menghilang?
Informasi dari Pertamina menyebutkan, kebutuhan LPG 3 kg pada Januari 2025 berada di angka 900 ribu tabung, lalu meningkat menjadi 1 juta tabung di Januari 2026. Secara logika distribusi, penambahan ini seharusnya memperlancar pasokan.
Namun fakta di lapangan berkata sebaliknya. Gas Tak Ada, Harga Melonjak. Di berbagai titik, LPG 3 kg justru sulit ditemukan. Kalaupun ada, harganya melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kalau ada pun harganya bisa Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Terpaksa beli, daripada tidak masak,” ujar seorang warga Kecamatan Yosowilangun, Cak Mad, kepada media ini, Sabtu (11/4/2026).
Kondisi ini membuat banyak pelaku UMKM memilih menutup usaha sementara. Warung makan, pedagang kaki lima, hingga usaha rumahan ikut terdampak.
“Gas itu nyawa usaha kami. Kalau tidak ada, kami tidak bisa produksi,” kata seorang pelaku usaha kecil asal Desa Karangsari.
Kuota Pangkalan Tak Berubah, Bahkan Berkurang. Ironisnya, di tengah klaim kenaikan pasokan, kuota di tingkat pangkalan justru tidak berubah.
Sesuai prosedur, pangkalan idealnya menerima sekitar 100 tabung per pengiriman dengan jadwal rutin dua hari sekali. Namun kenyataannya, banyak pangkalan mengaku menerima di bawah kuota.
“Jatah kami tetap, bahkan kadang tidak sampai 100 tabung. Ternyata tidak ada tambahan sama sekali, seperti yang diucapkan pihak Pertamina,” ungkap pemilik pangkalan tidak mau disebut namanya.
Hal ini memunculkan dugaan kuat bahwa tambahan 100 ribu tabung tidak mengalir ke pangkalan resmi.
Ada Dua Sistem Berjalan: Resmi vs “Bawah Tangan”. Investigasi menunjukkan adanya dua pola distribusi yang berjalan bersamaan, pertama pakai Jalur Resmi untuk Pengiriman pakai DO (Delivery Order) resmi, Kuotanya jelas, jadwal rutin, Harga sesuai HET Rp18.000 ke masyarakat atau pengecer dan Transaksi tercatat melalui sistem resmi Pertamina.
Sedangkan Jalur Bermasalah, DO nya diduga dimanipulasi, Pengiriman tanpa dokumen, Kuota dipangkas tidak 100 tabung, jadwal molor bisa 3 hari, malah ada biaya tambahan tidak resmi, sebesar Rp 800 per tabung, LPG dijual ke pengecer liar dan konsumen besar.
“Yang ikut jalur resmi dapat sedikit. Yang main bawah justru bisa dapat banyak dan untung besar,” ujar sumber yang memahami arus distribusi.
Dugaan Kebocoran dan Permainan Distribusi. Sejumlah pihak menduga terjadi kebocoran distribusi di level agen hingga pengecer.
Modus yang disebut antara lain, seperti Penjualan langsung ke pengecer liar, Penyaluran ke usaha besar yang tidak berhak dan Penimbunan untuk permainan harga.
“Kalau suplai dari pusat lancar tapi barang tidak sampai ke rakyat, berarti ada yang bocor di tengah,” kata warga selaku pemerhati energi lokal, ketika ditemui awak media, Achmad Nurhuda.
Pertanyaan Besar: 100 Ribu Tabung ke Mana? Dengan kondisi seperti ini, publik kini menyoroti satu hal krusial : di mana posisi tambahan 100 ribu tabung tersebut?
Jika distribusi berjalan normal, seperti Kuota pangkalan seharusnya naik, Kelangkaan seharusnya berkurang
Namun yang terjadi justru sebaliknya Kuota stagnan, Kelangkaan makin meluas dan Harga melonjak.
“Ini yang janggal. Data naik, tapi barang hilang. Artinya ada yang tidak beres,” tegas seorang sumber.
Desakan Audit dan Penindakan. Gelombang protes mulai bermunculan. Masyarakat mendesak adanya Audit total distribusi LPG 3 kg, Sidak hingga level agen dan pengecer, wajib ada Sanksi tegas bagi pelaku penyimpangan.
“Jangan cuma sidak formalitas. Harus bongkar sampai akar,” ujar warga.
Krisis Bukan Sekadar Gas, Tapi Kepercayaan. Krisis LPG 3 kg di Lumajang kini telah berubah menjadi krisis kepercayaan publik. Ketika data resmi tidak sejalan dengan realita, maka yang dipertaruhkan bukan hanya distribusi energi—tetapi juga kredibilitas sistem.
“Rakyat tidak butuh angka, rakyat butuh gas,” tegas seorang pelaku UMKM asal Kelurahan. Citrodiwangsan.
Kini, satu pertanyaan besar terus menggantung, Jika benar ada tambahan 100 ribu tabung, siapa yang sebenarnya menikmatinya? (Fuad Afdlol)






