Daerah  

Padang Pariaman: Tanah Longsor dan Harapan yang Tertunda

Yuliar (62), nenek Rasya yang tinggal di Huntara.(foto: Syafrial Suger/majalahfakta.id)

FAKTA – Suara takbir yang menggema di langit Padang Pariaman biasanya menjadi simbol kegembiraan menjelang Idul Fitri. Namun, bagi 34 keluarga yang tinggal di Hunian Sementara (Huntara) Asam Pulau, Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayutanam, Sumatera Barat, suara tersebut kini menjadi pengingat luka yang belum sembuh. Idulfitri tahun ini terasa berbeda, sepi, dan menyakitkan.

Di balik dinding tripleks yang rapuh, kehidupan mereka seperti berada di antara kenangan manis masa lalu dan kenyataan pahit pasca-bencana yang terus membayangi. Huntara yang semula dijanjikan sebagai tempat transit sementara kini menjadi rumah yang terasa semakin sempit, dipenuhi dengan kebisuan yang mengganggu.

Sebut saja Rasya (14) adalah salah satu remaja yang merasakan langsung dampak bencana yang melanda wilayah ini. Sebulan yang lalu, tanah longsor mengubur rumah mereka di Jorong Cubadak, merenggut nyawa ibunya dan meninggalkan luka yang dalam di hati Rasya. Saat berbuka puasa, Rasya sering kali teringat sang ibu, mengenang masa-masa indah yang telah berlalu.

“Kadang ia terbangun tengah malam, memanggil nama ibunya, sementara bibirnya gemetar, menangis dalam diam. Rasya belum bisa menerima kepergian ibunya,” ujar Yuliar (62), nenek Rasya, yang kini menjadi penopang hidup bagi cucunya.

Kehilangan ini sangat terasa bagi keluarga Yuliar. Sang menantu yang selamat dari bencana harus menghidupi dua anak kecil meski terluka parah di kaki, sementara separuh hatinya seolah tertinggal di bawah timbunan tanah longsor yang memusnahkan rumah mereka.

“Rasya sering bilang, ‘Aku ingin ibu saya kembali’. Kami hanya bisa berdoa dan berharap ia kuat melewati ini,” ujar Yuliar sambil menahan isak tangis.

Di tengah keramaian huntara yang dihuni oleh 34 keluarga, Syaiful Bahri (30) memilih untuk lebih banyak diam. Sejak bencana itu, ia kehilangan istri dan anak sulungnya dalam satu malam yang mengubah segalanya. Kini, ia hidup dalam kesendirian, merasakan sepi yang tak ada habisnya.

“Tidak ada lagi yang memanggilku ayah… semua hilang dalam sekejap,” ungkap Syaiful dengan mata kosong, seperti sedang berbicara pada kenangannya yang hilang.

Bagi keluarga yang selamat, kenyataan di huntara ini bagaikan kehidupan yang terhenti. Di dalam bilik-bilik sempit yang hanya berukuran 4×6 meter, mereka berusaha mencari kekuatan dari doa dan kebersamaan. Namun, ketidakpastian masih melanda, terutama mengenai masa depan mereka.

Desmi (50), seorang janda yang kehilangan suami lima tahun lalu, berjuang sekuat tenaga untuk memastikan anak-anaknya tetap melanjutkan pendidikan. Meski rumah warisannya dinyatakan sebagai zona merah yang rawan bencana, Desmi tak memilih meratap.

“Saya harus tetap bekerja, demi anak-anak. Mereka harus bisa sekolah, karena itu satu-satunya yang bisa mengubah hidup mereka,” ujarnya tegar, meski wajahnya menyimpan banyak cerita tentang kehilangan dan penderitaan.

Desmi bekerja serabutan, kadang sebagai buruh tani, kadang sebagai pembantu rumah tangga, namun semuanya dilakukan demi masa depan anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah.

“Pendidikan itu bukan sekadar ilmu, tapi kesempatan. Saya ingin mereka punya kesempatan yang lebih baik daripada saya,” tambah Desmi dengan mata yang penuh tekad.

Di antara 34 keluarga di huntara Asam Pulau, mayoritas tidak memiliki tanah pribadi untuk membangun Hunian Tetap (Huntap) yang dijanjikan. Kehidupan mereka berada di ujung tanduk, di antara trauma yang tak kunjung sembuh dan ketidakpastian ekonomi yang terus menghantui.

Relokasi yang jauh dari lokasi semula menjadi ketakutan terbesar mereka, karena dapat memutus mata pencaharian yang sudah bertahun-tahun mereka bangun.

Namun, di tengah keterbatasan, semangat berbagi tetap tumbuh. Warga seperti Asih (26) dan tetangga lainnya sering menyisihkan sedikit bantuan sembako untuk mereka yang lebih membutuhkan.

“Kami tidak bisa menikmati ini sendirian. Kalau ada yang lebih membutuhkan, kita bantu. Ini bukan soal kita saja, ini soal kita semua,” kata Asih dengan senyum yang dipenuhi harapan meski kesulitan terus menguji mereka.

Bilik-bilik sempit ini, yang lebih terasa seperti penjara bagi sebagian besar penghuni huntara, kini menjadi tempat mereka menanam harapan. Harapan agar janji pemerintah untuk memberikan Hunian Tetap segera terwujud, dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka dapat dimulai.

Meski dalam keterbatasan, mereka tetap berdiri tegak, menjaga martabat mereka sebagai manusia yang pantas mendapat kehidupan yang lebih layak.

“Semoga kami bisa mendapatkan hunian tetap yang lebih aman, dan hidup kami bisa lebih baik lagi,” tutur Yuliar dengan tatapan penuh harapan, di tengah suara tangis Rasya yang masih menggema dalam kesunyian malam.

Di huntara Asam Pulau, doa adalah satu-satunya yang bisa mereka andalkan. Doa untuk masa depan yang lebih cerah, dan doa agar mereka dapat bertahan, baik fisik maupun mental, di tengah derita yang tak kunjung berakhir. Idul Fitri kali ini mungkin sunyi, namun harapan akan masa depan yang lebih baik tidak pernah padam.

Di Padang Pariaman, kehidupan yang terjalin di huntara Asam Pulau adalah kisah tentang kebersamaan yang lahir dari tragedi. Namun, di tengah kesulitan dan luka, mereka tidak kehilangan harapan. Mereka berharap, suatu saat, tanah yang pernah menghancurkan hidup mereka akan memberi tempat untuk membangun kembali impian yang sempat hilang. (ss)