FAKTA – “Saya lebih suka menyebut sastrawan yang wartawan daripada Wartawan Usia Emas (Warumas) yang terpancang pada usia. Karena menulis puisi tidak semudah menulis berita harus berlandaskan nilai-nilai pengalaman dalam kehidupan dan diwarnai diksi terungkap dalam kalimat-kalimat yang menarik,” ungkap Lutfi L Hakim, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, ketika memberikan sambutan acara launching Buku Antologi Puisi ke-8 Warumas “Tanpa Jeda” dan Buku ke-18 Karya Amang Mawardi “Jiwa Tampak Rohan” di Balai Wartawan A. Aziz PWI Jatim, Jl.Taman Apsari Surabaya, Jumat (13/2/2026).
“Saya menyambut gembira para wartawan usia senja yang tetap eksis berkarya di sastra puisi,” tambahnya.
Perhelatan launching buku memeriahkan Hari Jadi PWI ke-80 dan Hari Pers Nasional (HPN) Tingkat Jawa Timur dimarakan uraian sekilas tentang buku “Tanpa Jeda” oleh Dr. Eko Pamuji, Wakil Direktur Uji Kompetensi PWI Pusat.
Eko menyimpulkan, Tanpa Jeda karya para wartawan usia emas ini menandakan meski sudah usia senja dalam benaknya terus berpikir tiada henti menulis meski bernuansa puisi.
“Bagi para wartawan muda, kiprah Warumas layak ditauladani pada usia lanjut masih tetap berkreasi,” ujar Eko yang juga piawai menulis puisi.
Wartawan Senior Esti Susanti yang membersamai Buku ke-18 Amang Mawardi angkat jempol kepada Amang yang juga Penasihat Warumas ini mampu meninjau secara totalitas tentang puisi karya Rohanudin bernafaskan kecintaan jiwa berbangsa dan bernegara.
“Tanpa tulisan pak Amang, saya tak akan pernah menemukan keunikan dan kereligiusan puisi karya Rohanudin,” tandas Esti yang pernah menjadi wartawan Harian Surya.
Acara yang berlangsung sederhana bermakna ini diharapkan Ketua Warumas Kris Mariyono, disamping untuk mempermantap jalinan silahturahmi juga memacu semangat para wartawan usia senja beraktulisasi lewat karya sastra puisi.
Dalam rajutan suasana keakraban, disamping dihadiri para penulis Warumas juga penulis tamu diantaranya Pudianto, Hidayatullah, Hery Siswa, wartawan senior dan penyair Jill Kalaran, penggiat seni budaya Desemba Sagita dan penggiat pendidikan sosial budaya Hason Sitorus.
Buku Antologi ke-8 Warumas “Tanpa Jeda” setebal 160 halaman berisikan puisi karya 12 wartawan usia emas, 8 penulis tamu Warumas dan diawali beberapa sambutan dari tokoh pers, pendidikan dan tokoh politik.
Performance yang menghangatkan acara Warumas penampilan Besut Meimura, penyair Cak Madi dan pembacaan puisi oleh Para penulis Puisi “Tanpa Jeda”. (rr)






