Mereka yang Hadir untuk Chairul S Matdiah: Sebuah Catatan Bersejarah tentang Persahabatan

Chairul S Matdiah (kiri). (Foto : js)

FAKTA – Chairul S Matdiah, kembali menyapa publik melalui karya seni. Tidak tanggung-tanggung, Chairul merilis lagu ketiganya yang bertajuk “Mereka yang Hadir Untuk Chairul S Matdiah”.

Berbeda dengan karya sebelumnya, lagu ini terasa sangat personal dan emosional. Melalui liriknya, Chairul ingin menyampaikan apresiasi mendalam bagi sosok-sosok yang telah mewarnai perjalanan hidupnya, baik di kala suka maupun duka.

Jika lagu pertama dan kedua adalah perkenalan, maka lagu ketiga ini adalah sebuah prasasti rasa syukur. Ia seolah ingin berteriak kepada dunia bahwa Chairul S Matdiah hari ini adalah akumulasi dari kebaikan orang-orang di sekelilingnya.

​Melalui alunan musik yang menyentuh, Chairul mengingatkan kita pada satu hal sederhana yang sering terlupakan di era serba cepat ini, adab menghargai jasa. Ia tidak ingin naik sendirian, ia ingin membawa serta nama-nama yang telah memegang tangannya saat ia nyaris terjatuh.

Satu Ranjang Sakit, Seribu Makna Kesetiaan

Lirik lagu ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari momen-momen rapuh yang jarang terekspos. Ada getar haru saat Chairul menyebut nama Irwan Effendi. Bagi banyak orang, Irwan mungkin hanya seorang kolega, namun bagi Chairul, ia adalah “kakak” yang nyata.

​Saat tubuh Chairul didera sakit dan hari-hari terasa panjang di ruang perawatan, Irwan adalah sosok yang menolak untuk beranjak. Kesetiaan inilah yang menjadi detak jantung utama dalam lagu terbarunya, sebuah pengingat bahwa saat dunia menjauh karena kita tak lagi berdaya, sahabat sejati justru mendekat.

Penghormatan untuk Sahabat dan Mentor

Lagu ini bukan sekadar senandung, melainkan sebuah catatan sejarah persahabatan. Beberapa nama besar dan tokoh berpengaruh di Sumatera Selatan secara khusus dimention sebagai bentuk terima kasih.

Mendengarkan lagu ini seperti membaca peta perjalanan Sumatera Selatan dalam beberapa dekade terakhir. Chairul dengan rendah hati merajut nama-nama besar ke dalam bait-baitnya. Ada sosok Syahrial Oesman, Ishak Mekki, hingga Herman Deru.

​Bagi Chairul, mereka bukan sekadar mantan gubernur atau pejabat publik. Mereka adalah kawan diskusi, saksi perjuangan, dan bagian dari sejarah yang membentuk jati dirinya hari ini. Tak lupa, ia menyelipkan rasa hormat yang mendalam kepada Bambang Hariyanto, sang kompas di belantara hukum. Di sanalah Chairul belajar bahwa hukum bukan hanya soal pasal, tapi soal keadilan dan kemanusiaan.

“Lagu ini mengisahkan tentang orang-orang berjasa yang tidak pernah meninggalkan saya,” ujar Chairul dalam keterangannya.

Chairul mengatakan, fokus utama dari lagu ini adalah kesetiaan. Chairul ingin menunjukkan bahwa di balik kesuksesan dan ketangguhan seseorang, selalu ada dukungan (support system) yang luar biasa dari para sahabat dan guru.

“Lagu ini diharapkan dapat menginspirasi pendengar tentang pentingnya menghargai persahabatan dan tidak melupakan jasa orang-orang yang telah membantu kita mendaki tangga kehidupan,” katanya.

Tangan-tangan Tuhan Bekerja Dalam Sosok Nyata

Lagu ini dibuka dengan latar kota Palembang, saksi bisu transformasi seorang pria dari ruang-ruang sidang yang formal menuju lorong-lorong kehidupan yang lebih sunyi namun bermakna. Dahulu, Chairul dikenal sebagai sosok pengacara perlente, rapi, tegas, dan berada di puncak kejayaan yang gemerlap. Namun, lirik ini mengingatkan kita bahwa hidup tidak selamanya tentang tangga naik.

Ujian datang dalam rupa sakit yang “mengetuk perlahan.” Di saat itulah, lapisan luar yang kuat sebagai pengacara terkelupas, menyisakan sisi manusia yang rapuh. Namun, di dalam kegelapan rasa sakit itu, Chairul tidak dibiarkan sendiri. Lirik ini menegaskan bahwa ada “tangan-tangan Tuhan” yang bekerja melalui sosok-sosok nyata.

​Narasi lagu ini mencapai puncaknya pada sebuah perubahan filosofi hidup. Chairul yang dulu hidup di bawah lampu sorot, kini menemukan kebahagiaan dalam “jalan sunyi”.

Irama “nasi hangat yang diberi tiap pagi” menjadi simbol bahwa kekuatan hatinya kini bukan lagi berasal dari jabatan atau gelar, melainkan dari sedekah dan berbagi. Sakit telah mengajarkannya sebuah arti, bahwa hidup akan menjadi cahaya jika kita mau menjadi cahaya bagi orang lain.

Lagu ini adalah sebuah pengakuan jujur bahwa tak ada manusia yang berdiri sendiri. Ini adalah lagu tentang kerendahan hati untuk mengakui jasa orang lain dan keberanian untuk mengubah jalan hidup dari mencari materi menjadi mencari berkah.

Lirik Lagu
Mereka yang Hadir Untuk Chairul S Matdiah

Palembang jadi saksi langkah
Dari pengacara penuh arah
Perlente rapi di ruang sidang
Namun hati tetap ingin terang
Hidup pernah tinggi gemerlap
Namun ujian datang mendekap
Saat sakit mengetuk perlahan
Datanglah tangan-tangan Tuhan

Tak ada manusia berdiri sendiri
Selalu ada yang menemani

Reff
Chairul S. Matdiah…
Langkahmu dijaga banyak hati
Chairul S. Matdiah…
Kau kuat karena tak sendiri

Irwan Effendi…
Yang setia berdiri di sisi
Saat sakit tak berhenti
Ishak Mekki…
Memberi ruang dan arti
Dalam perjalanan mengabdi
Herman Deru…
Pertemuan yang jadi cerita
Dalam jejak pengabdian nyata
Syarial Oesman…
Jejak pemimpin yang memberi warna
Dalam langkah dan pengalaman
Bambang Hariyanto…
Sahabat dalam waktu
Yang menyertai langkahmu

Mereka hadir bukan kebetulan
Tuhan kirim dalam perjalanan

Reff akhir
Chairul S. Matdiah…
Dari sakit kau belajar arti
Chairul S. Matdiah…
Dari sedekah kau kuatkan hati
Nama demi nama jadi cahaya
Dalam hidup yang penuh makna

Dari ruang sidang ke jalan sunyi
Nasi hangat kau beri tiap pagi
Dulu hidup penuh gemerlap
Kini berbagi jadi harap

Tak ada yang sia-sia
Semua yang hadir… adalah anugerah.

(js)