“Kejahatan moralitas yang sampai mati pun akan sulit tergantikan. Mulai sejak penataan jalan HOS Cokrominoto saya sudah memperingatkan dengan keras. Tapi mengapa penebangan demi penebangan terus dilakukan yang jelas memporak-porandakan kenyamanan kota. Teknis profesionalitas kerja itu bisa melalui cara yaitu pohon yang ada melalui penambahan pohon yang baru itu menjadi sebuah komposisi artistik, estetis, beretika dalam proses pembangunan berkelanjutan”.
Baca Juga : Dua Oknum Anggota Brimob Diduga Terlibat ‘Serangan Fajar’ Pilkades di Tangerang
“Jika memang ada jenis pohon yang tidak dilindungi wajib malalui proses penanaman lebih dulu, setelah ideal rimbun baru ditebang. Seharusnya masyarakat Ponorogo mulai sadar akan banyak hal ketimpangan yang selama ini dilakukan pemerintah daerah”.
Baca Juga : Dugaan Baiat NII di Garut, Kemenag Terjunkan Tim Badan Litbang dan Diklat
Dasar pijakan kebudayaan Ponorogo tidak mempunyai banngunan-bangunan tua tetapi kita mempunyai pohon-pohon tua sebagai daya tarik wisatawan agar betah untuk singgah. Bukan pembangunan padang tapi gersang dimana masyarakat daerah di desa atau di gunung menggalakkan penghijauan di kota malah ditebangi. Ini adalah kesalahan berat wajib dipertanggung-jawabkan. (Ponorogo, Selasa 12/10/2021)






