FAKTA – Di kediaman Bupati Padang Pariaman, malam pergantian tahun tidak dirayakan dengan kembang api atau hitung mundur riuh. Rabu, 31 Desember 2025, waktu justru diperlambat. Kata-kata ditimbang, capaian dihitung, dan masa depan dibicarakan dengan nada reflektif. Seperti hendak menegaskan satu pesan: tahun baru bukan soal pesta, melainkan arah.
Selepas salat Isya berjemaah (ISA), ruang itu dipenuhi wajah-wajah yang memegang kunci birokrasi dan legitimasi sosial. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman hadir, lengkap dengan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Tokoh masyarakat dan ulama duduk berdampingan. Prof. Duski Samad, dengan suara tenang dan diksi yang mengendap, memberi tausiyah dan memimpin doa. Sejumlah organisasi pewarta daerah ikut menyaksikan. Malam itu, Padang Pariaman seperti sedang bercermin.
Bupati John Kenedy Azis memimpin langsung kegiatan bersama Wakil Bupati Rahmat Hidayat. Konsepnya sederhana tapi sarat makna: diskusi, evaluasi, dan doa bersama—sebuah ritual administratif yang diberi lapisan spiritual. Refleksi menjadi kata kunci, khidmat menjadi suasana.
Dalam arahannya, John Kenedy Azis tidak hanya membaca daftar capaian pembangunan 2025. Ia juga mengakui jeda yang dipaksakan alam. Ketika jalan pembangunan mulai terasa, bencana datang menyela. “Di saat langkah-langkah pembangunan mulai menunjukkan hasil, Allah SWT menguji kita dengan bencana,” katanya. Kalimat itu terdengar seperti penanda transisi: dari optimisme statistik ke kesadaran kerentanan.
Namun, narasi yang dibangun bukan tentang kejatuhan, melainkan ketahanan. Bencana, dalam tafsir Bupati, adalah ujian yang memaksa negara dan masyarakat belajar lebih cepat. Kolaborasi lintas sektor—pemerintah, aparat, relawan, tokoh adat dan agama—disebut sebagai fondasi yang membuat Padang Pariaman tidak runtuh oleh musibah.
Penanganan darurat, perbaikan awal, hingga pemulihan infrastruktur mulai bergerak, katanya, secara “baik dan terukur”.Di sinilah malam itu beralih menjadi semacam wejangan, bukan sekadar laporan apa yang sudah terjadi, melainkan sketsa tentang apa yang akan dikerjakan.
Tahun 2026 dibayangkan sebagai fase akselerasi. Bukan hanya membangun ulang yang rusak, tetapi menata ulang cara bekerja. Sinergi, menurut John Kenedy Azis, bukan jargon tahunan, melainkan prasyarat untuk bangkit “lebih kuat”.
Harapan itu dipertebal dengan doa bersama—ritual yang dalam politik lokal sering menjadi jembatan antara kekuasaan formal dan harapan publik. Doa untuk keselamatan, keberkahan, dan kesejahteraan Padang Pariaman di tahun yang baru menutup acara utama. Namun kerja belum selesai.
Usai para tamu beranjak, agenda berlanjut lebih teknokratis. Bupati memimpin evaluasi internal bersama para kepala OPD. Fokusnya tajam: penguatan dan percepatan pendataan R3P serta langkah-langkah strategis lain untuk pemulihan pascabencana. Data, malam itu, diperlakukan seperti doa versi birokrasi—menjadi dasar agar harapan tidak melayang tanpa pijakan.
Jika malam itu dibaca sebagai pertanda, Padang Pariaman sedang menulis masa depannya dengan dua tangan: satu memegang laporan, satu lagi terangkat dalam doa. Tahun 2026 belum datang dengan janji-janji besar. Ia datang dengan catatan pekerjaan rumah. Dan dari sebuah rumah dinas, tanpa pesta, masa depan itu mulai dibicarakan. (ss)






