Tegal, majalahfakta.id – Minggu pagi (11/10/2026), halaman Kantor Kecamatan Balapulang berubah menjadi arena disiplin. Derap langkah kaki yang serempak, hentakan sepatu yang kompak, dan suara aba-aba yang lantang menggema memecah suasana. Barisan demi barisan anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) dari berbagai desa berdiri tegap, wajah serius, mata fokus ke depan.
Itulah lomba Peraturan Baris Berbaris (PBB) Linmas yang untuk pertama kalinya digelar di Kabupaten Tegal. Kegiatan yang diinisiasi Danramil 17 Balapulang Kapten Inf Ali Mas’ud bersama Forkopimcam Balapulang ini bukan sekadar lomba seremonial. Ada misi besar yang ingin ditanamkan, membangun karakter, menguji kekompakan, dan menyiapkan Linmas sebagai garda terdepan penjaga ketenteraman desa.
Sejak peluit pertama dibunyikan, ketegangan terasa. Setiap gerakan harus presisi. Langkah harus seirama, jarak antar anggota harus terjaga, aba-aba harus dijawab dengan cepat dan tepat. Satu orang salah langkah, satu barisan bisa berantakan. Dari sinilah pelajaran pentingnya kebersamaan itu muncul. Bahwa kekuatan regu tidak pernah ditentukan oleh kehebatan satu orang, melainkan oleh kemauan semua anggota untuk bergerak dalam satu irama, saling menjaga, dan saling menyesuaikan.
Danramil 17 Balapulang Kapten Inf Ali Mas’ud yang memantau langsung jalannya lomba menegaskan, “Esensi PBB jauh melampaui soal menang dan kalah.”
Baginya, disiplin adalah fondasi utama Linmas. Disiplin bukan hanya soal baris-berbaris di lapangan, tetapi tentang bagaimana memahami tugas, mematuhi arahan, dan mampu bekerja sama ketika situasi di lapangan menuntut kecepatan dan ketenangan.
Menurut Ali Mas’ud, “Linmas adalah unsur masyarakat yang setiap hari bersentuhan langsung dengan warga. Mereka yang pertama hadir saat ada hajatan desa, mereka yang menjaga pos saat malam, mereka yang membantu pengaturan saat ada kegiatan kemasyarakatan. Karena itu kedisiplinan tidak boleh berhenti setelah lomba selesai, melainkan harus menjadi kebiasaan yang melekat dalam tugas sehari-hari.”
Nilai kebersamaan juga menjadi napas dari kegiatan ini. Barisan yang rapi tidak akan pernah terwujud jika setiap anggota hanya memikirkan dirinya sendiri. Dibutuhkan komunikasi, perhatian, dan kepekaan untuk melihat teman di kanan dan kiri. Semangat itulah yang ingin terus dipupuk, karena Linmas tidak bekerja sendirian.
Lebih dari itu, lomba perdana ini menjadi ruang untuk mempererat sinergi antara TNI, pemerintah kecamatan, dan masyarakat. Pembinaan bersama seperti ini membuat koordinasi semakin solid, komunikasi semakin cair, sehingga ketika ada persoalan di wilayah, semua bisa bergerak cepat dalam satu komando.
Momentum ini menjadi semakin relevan karena Kabupaten Tegal akan menghadapi agenda besar, Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) 2027. Pilkades selalu membawa dinamika. Perbedaan pilihan adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun harus disikapi dengan kedewasaan agar tidak meretakkan kerukunan warga yang sudah terjaga.
Di titik inilah peran Linmas menjadi sangat penting. Mereka diharapkan mampu hadir sebagai penyejuk, membantu menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif, menjaga netralitas, serta mengedepankan koordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan pemerintah desa. Sikap disiplin yang ditempa melalui PBB inilah yang kelak menjadi modal saat mereka bertugas di TPS, menjaga ketertiban, dan memastikan semua proses berjalan damai.
“Lomba PBB bukan hanya tentang siapa yang paling rapi barisannya atau paling lantang aba-abanya. Lebih dari itu, ini adalah tentang menanamkan rasa tanggung jawab dan kepedulian bersama, agar setiap anggota Linmas benar-benar memahami arti kehadirannya di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai penjaga, tetapi sebagai bagian dari warga itu sendiri,” pungkas Kapten Ali Mas’ud. (sus)






