Daerah  

Kurasi Foto Tabalong Tempo Dulu, Upaya Dispersip Tabalong Lestarikan Memori Sejarah

kurasi foto Tabalong tempo dulu di Ruang Depo Arsip Dispersip Tabalong pada 7 April 2026. (foto: tbl/majalahfakta.id)

FAKTA – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tabalong menggelar kegiatan kurasi foto Tabalong tempo dulu di Ruang Depo Arsip Dispersip Tabalong pada 7 April 2026. Kegiatan tersebut bertujuan menghimpun dan menyeleksi arsip visual sejarah yang tersebar di masyarakat agar terdokumentasi dengan baik dan bisa diakses secara luas oleh generasi sekarang.

Kurasi foto Tabalong tempo dulu ini diikuti oleh 18 peserta yang membawa berbagai arsip foto lama milik pribadi. Kurasi koleksi foto sejarah tempo dulu Tabalong ini merupakan kegiatan Dispersip Tabalong yang dimulai sejak 16 Februari 2026 lalu dan hasilnya akan diumumkan pada 8 April 2026, bertepatan dengan momen Hari Jadi Kearsipan. Suasana kegiatan terlihat aktif dengan proses penilaian foto oleh tim kurator di Ruang Depo Arsip Dispersip Tabalong.

Dari hasil pengumpulan, tercatat sebanyak 105 foto berhasil dihimpun, terdiri dari 62 foto hardcopy dan 43 foto softcopy. Namun, tidak semua foto langsung diterima, melainkan harus melalui proses seleksi berdasarkan keaslian, tahun pengambilan, serta nilai historis yang terkandung di dalamnya.

Kepala Bidang Pengelolaan, Perlindungan, dan Penyelamatan Arsip Dispersip Tabalong, Rustiana Rezekiah, menyebut kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menyelamatkan arsip sejarah yang selama ini tersebar di masyarakat.

“Kegiatan kurasi foto Tabalong tempo dulu ini kami laksanakan sebagai upaya mengumpulkan sekaligus menyeleksi arsip visual sejarah Tabalong yang selama ini tersebar di masyarakat. Tujuannya agar foto-foto tersebut bisa terdokumentasi dengan baik dan memiliki nilai edukasi bagi generasi sekarang,” ujar Rustiana Rezekiah, Kabid Penyelamatan Arsip Dispersip Tabalong.

Budayawan Tabalong, Abdul Hanafi, menekankan pentingnya menjaga keotentikan foto di tengah perkembangan teknologi artificial intelligence. Ia menyebut dalam proses kurasi ini dilakukan penilaian secara teliti untuk memastikan foto bukan hasil manipulasi dengan memeriksa dokumen asli dan sumbernya. Langkah ini dinilai penting agar arsip visual yang dihasilkan tetap valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Untuk memastikan keotentikan foto-foto, sekarang ini sudah zaman AI atau artificial intelligence, sehingga hal tersebut harus benar-benar diamati. Tim kurator juga sudah sering melihat foto hasil AI, sehingga untuk memastikan keaslian, peserta diminta mengumpulkan dokumen asli agar tidak ada manipulasi dan tetap otentik,” tutur Abdul Hanafi, budayawan.

Dalam kurasi foto jadul ini, terdapat kriteria penilaian seperti kesesuaian dengan tema, narasi yang disampaikan, nilai sejarah dan budaya, keunikan, serta kualitas foto. Direncanakan hasil dari kurasi ini akan ditampilkan dalam bentuk pameran dan juga didokumentasikan secara digital, sehingga masyarakat dapat mengakses arsip sejarah daerah secara lebih luas dan berkelanjutan di masa mendatang. (tbl/eya)