FAKTA — Dua jam sebelum palu sidang paripurna dipukulkan, Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman, Aprinaldi, memilih mengetuk pintu yang jarang didatangi kamera, Panti Asuhan Mukkarammah di Pasar Pauh Kambar.
Di ruang sederhana yang dindingnya dipenuhi poster jadwal belajar, ia mendengar satu per satu cerita, tentang buku pelajaran yang diwariskan, seragam yang dipakai bergantian, dan mimpi anak-anak yang tak selalu mendapat ruang dalam tabel anggaran.
Kunjungan itu, yang kini dibaca publik sebagai penanda arah kebijakan sosial Padang Pariaman pasca Hari Jadi Kabupaten (HJK) ke-193, bukan sekadar ritual empati menjelang seremonial.
“Sebelum membicarakan grafik pertumbuhan dan proyek, kami perlu memastikan siapa yang tertinggal,” ujar Aprinaldi kepada pengelola panti, seraya menegaskan bahwa kebijakan tak boleh berangkat dari ruang berpendingin semata.
Didirikan pada 2005, Panti Asuhan Mukkarammah menampung 32 anak yatim dan piatu dari berbagai kecamatan. Selama bertahun-tahun, panti ini bertahan dari donasi masyarakat dan sokongan sporadis sektor swasta.
“Kebutuhan dasar, makanan, sandang, hingga fasilitas pendidikan, selalu menjadi tantangan,” kata Hj. Siti Mariyam, pengelola panti, yang menyambut rombongan dengan mata berkaca-kaca.
Aprinaldi menyerahkan bantuan sembako, perlengkapan sekolah, serta dana operasional hasil kolaborasi DPRD dengan pihak swasta. Namun pesan yang lebih keras justru datang setelahnya, pada Sidang Paripurna HJK, DPRD akan membuka pembahasan kebijakan peningkatan dukungan bagi lembaga sosial di seluruh kecamatan, mulai dari skema pendanaan berkelanjutan hingga integrasi layanan pendidikan dan kesehatan bagi anak rentan.
Di Padang Pariaman, pembicaraan tentang pembangunan kerap berakhir pada ruas jalan dan gedung baru, ini mencatat pergeseran kecil namun signifikan. Indikator kesejahteraan sosial mulai diposisikan sebagai tolok ukur kinerja. Tema HJK ke-193 “Bangkit Lebih Cepat Menuju Padang Pariaman Tangguh dan Bermartabat” tak lagi berhenti pada slogan, melainkan diuji di tempat paling sunyi dari perayaan.
Anak-anak panti menutup kunjungan dengan tari tradisional Minangkabau. Tepuk tangan mengalir, kamera berpendar. Tapi yang tersisa setelah rombongan pergi adalah pekerjaan rumah kebijakan, memastikan komitmen itu bertahan lebih lama daripada liputan.
Jika palu sidang nanti benar-benar mengetuk arah baru, anggaran yang memihak, program yang berkelanjutan, maka kunjungan pagi itu akan tercatat bukan sebagai basa-basi menjelang sidang, melainkan titik mula perubahan yang lama ditunggu. (ss)






